Pohon Ek Menunda Pertumbuhan Daun untuk Melawan Serangan Ulat?

Sumber ilustrasi: Pixabay
7 Mei 2026 16.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [07.05.2026] Di hutan saat musim semi, sinkronisasi waktu antara tumbuhan dan serangga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Banyak jenis ulat menetas tepat ketika daun-daun muda mulai muncul. Pada fase awal pertumbuhan, daun memiliki tekstur lembut dan kandungan nutrisi tinggi sehingga menjadi sumber makanan ideal bagi larva serangga. Selama ini, ilmuwan memahami bahwa waktu kemunculan daun pada pohon terutama dipengaruhi oleh suhu dan kondisi cuaca. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ancaman biologis dari serangga juga dapat memengaruhi jadwal pertumbuhan pohon.

Sebuah studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolutionmenemukan bahwa pohon ek mampu menunda pertumbuhan daunnya setelah mengalami infestasi ulat dalam jumlah besar pada tahun sebelumnya. Penundaan tersebut rata-rata berlangsung sekitar tiga hari. Meskipun tampak singkat, perubahan waktu tersebut memberikan dampak besar bagi ulat yang baru menetas karena daun yang menjadi sumber makanan utama masih tertutup rapat di dalam kuncup.

Penelitian menunjukkan bahwa strategi sederhana tersebut sangat efektif dalam mengurangi kerusakan pada pohon. Tingkat kelangsungan hidup ulat turun drastis ketika daun belum tersedia pada waktu penetasan. Kerusakan akibat aktivitas makan serangga juga berkurang hingga sekitar 55 persen. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengaturan waktu pertumbuhan dapat menjadi bentuk pertahanan alami yang lebih hemat energi dibandingkan mekanisme kimia.

Dr. Soumen Mallick dari Biocentre Universitas Würzburg menjelaskan bahwa strategi penundaan lebih menguntungkan dibandingkan meningkatkan produksi tanin pahit di daun. Produksi senyawa kimia pertahanan membutuhkan energi besar dari pohon, sementara perubahan waktu pertumbuhan dapat memberikan perlindungan efektif dengan biaya biologis yang lebih rendah.

Penelitian tersebut juga mengubah pandangan lama mengenai awal musim semi di hutan. Sebelumnya, perubahan musim dianggap hampir sepenuhnya dikendalikan oleh faktor lingkungan seperti suhu udara dan pola cuaca. Peneliti dari Universitas Würzburg menyebutkan bahwa pohon ternyata memiliki kemampuan untuk menyesuaikan jadwal biologis berdasarkan tekanan dari organisme lain, termasuk ledakan populasi serangga.

Untuk memahami pola ini dalam skala besar, tim peneliti menggunakan teknologi penginderaan jauh melalui satelit radar Sentinel-1. Pendekatan tersebut memungkinkan pengamatan area hutan seluas 2.400 kilometer persegi di Bavaria Utara, Jerman. Berbeda dengan metode konvensional yang hanya mengamati pohon secara individual di lapangan, teknologi radar memungkinkan pemantauan tajuk pohon dalam jumlah besar bahkan ketika wilayah tertutup awan tebal.

Selama periode 2017 hingga 2021, peneliti mengumpulkan sekitar 137.500 pengamatan dengan resolusi 10×10 meter per piksel. Resolusi tersebut kira-kira setara dengan ukuran tajuk satu pohon dewasa. Sebanyak 27.500 piksel dari 60 lokasi hutan kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi hubungan antara kerusakan akibat serangga dan perubahan waktu pertumbuhan daun.

Tahun 2019 menjadi momen penting dalam penelitian karena wilayah Bavaria Utara mengalami wabah besar ngengat gipsi. Profesor Jörg Müller dari Universitas Würzburg menjelaskan bahwa sensor radar berhasil merekam pohon-pohon yang kehilangan daun akibat serangan ulat serta perubahan respons biologis yang muncul pada musim berikutnya. Data tersebut memberikan bukti langsung mengenai kemampuan pohon dalam menyesuaikan waktu pertumbuhan sebagai bentuk pertahanan.

Hasil penelitian juga membantu menjelaskan mengapa hutan tidak selalu menghijau lebih awal meskipun suhu global terus meningkat akibat perubahan iklim. Banyak model ekologi sebelumnya memprediksi bahwa kenaikan suhu akan mempercepat munculnya daun pada musim semi. Namun, tekanan dari populasi serangga ternyata dapat mendorong pohon untuk justru memperlambat pertumbuhan daun demi mengurangi risiko kerusakan.

Peneliti melihat adanya tarik-menarik evolusioner antara perubahan iklim dan ancaman serangga. Kondisi yang lebih hangat mendorong pohon untuk memulai pertumbuhan lebih cepat, sedangkan risiko infestasi membuat pohon memilih strategi penundaan. Salah satu keunggulan mekanisme ini adalah fleksibilitasnya karena pohon hanya menunda pertumbuhan setelah benar-benar mengalami serangan serangga. Strategi tersebut menyulitkan serangga untuk beradaptasi secara permanen terhadap perubahan pola pertumbuhan pohon.

Profesor Andreas Prinzing dari Universitas Rennes menyebut interaksi antara pohon dan serangga sebagai contoh ketahanan alami ekosistem hutan terhadap perubahan lingkungan. Penelitian lanjutan direncanakan untuk memahami lebih rinci mekanisme biologis yang memungkinkan pohon merespons ancaman serangga dengan cara yang begitu presisi.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa pohon ek tidak hanya pasif mengikuti perubahan musim, tetapi juga mampu mengubah jadwal pertumbuhannya sebagai strategi bertahan dari serangan ulat. Penundaan kemunculan daun selama beberapa hari terbukti efektif menurunkan populasi ulat dan mengurangi kerusakan hutan secara signifikan. Studi ini memperlihatkan bahwa hubungan antara tumbuhan, serangga, dan perubahan iklim jauh lebih kompleks dibandingkan yang selama ini dipahami dalam model ekologi tradisional.

Diolah dari artikel:
“Oak trees are delaying spring to starve caterpillars” oleh University of Würzburg. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260504154019.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *