Mengapa Orang Dulu Rela Mempertaruhkan Segalanya Demi Topi?

Sumber ilustrasi: Unsplash
8 Mei 2026 15.57 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [08.05.2026] Topi saat ini umumnya dipandang sebagai bagian dari mode atau pelindung dari panas dan hujan. Banyak orang memilih mengenakan atau melepas topi tanpa memikirkan makna sosial yang lebih dalam. Akan tetapi ratusan tahun lalu, khususnya di Inggris pada awal era modern, topi memiliki fungsi yang jauh melampaui penampilan. Cara seseorang memakai, melepas, atau mempertahankan topinya dapat menunjukkan status sosial, loyalitas politik, penghormatan, hingga bentuk perlawanan terbuka terhadap kekuasaan.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di The Historical Journal oleh Cambridge University Press, para sejarawan menemukan bahwa etika bertopi atau “hatiquette” merupakan bagian penting dari kehidupan sosial dan politik Inggris sekitar abad ke-17 hingga abad ke-18. Pada masa tersebut, melepas topi dianggap sebagai bentuk penghormatan wajib kepada orang dengan status lebih tinggi. Sebaliknya, menolak melepas topi dapat dipandang sebagai tindakan pembangkangan yang sangat provokatif.

Studi tersebut menunjukkan bahwa aturan sosial terkait topi begitu kuat hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari, hubungan keluarga, proses hukum, bahkan keselamatan pribadi seseorang. Dalam banyak situasi, kehilangan topi dapat menjadi sumber rasa malu yang serius.

Salah satu contoh paling terkenal berasal dari tahun 1630 ketika seorang pembuat oatmeal dihadapkan ke pengadilan gereja tertinggi di Inggris. Setelah mengetahui bahwa beberapa hakim merupakan anggota dewan penasihat kerajaan, pria tersebut sempat melepas topinya sebagai bentuk pengakuan terhadap jabatan mereka. Topi tersebut segera dikenakan kembali sambil menyebut para uskup sebagai “rags of the Beast,” sebuah penghinaan religius dan politik yang sangat keras pada masa itu.

Peristiwa seperti tersebut semakin sering muncul selama masa pemerintahan Raja Charles I. Ketegangan politik yang meningkat menjelang Perang Saudara Inggris membuat tindakan sederhana seperti mempertahankan topi di kepala berubah menjadi simbol perlawanan terhadap otoritas.

Sejarawan Bernard Capp dari University of Warwick menjelaskan bahwa sebelum perang saudara, laki-laki dan anak laki-laki diwajibkan melepas topi ketika bertemu orang dengan status sosial lebih tinggi. Menurut Bernard Capp, aturan tersebut berfungsi mempertegas hierarki sosial dalam masyarakat Inggris. Namun pada dekade revolusioner 1640-an dan 1650-an, tindakan terkait topi mulai berubah menjadi bahasa politik yang terbuka.

Kelompok-kelompok radikal memanfaatkan simbol tersebut untuk menunjukkan penolakan terhadap kekuasaan. Tokoh Leveller John Lilburne, misalnya, datang ke House of Lords pada tahun 1646 dengan tetap mengenakan topi dan menutup telinga ketika dakwaan dibacakan. Tindakan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan terhadap legitimasi pengadilan.

Pada tahun 1649, pemimpin kelompok Digger William Everard dan Gerrard Winstanley juga menolak melepas topi ketika dihadapkan kepada Jenderal Fairfax. Kedua tokoh tersebut menegaskan bahwa Fairfax hanyalah sesama manusia dan tidak memiliki kedudukan istimewa yang layak dihormati melalui gestur melepas topi.

Simbolisme topi ternyata tidak hanya digunakan kelompok revolusioner. Setelah kekuasaan monarki runtuh, kaum royalis juga menggunakan tindakan serupa sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan baru. Raja Charles I tetap mengenakan topinya selama proses persidangan pada Januari 1649 untuk menunjukkan bahwa pengadilan tidak memiliki kewenangan sah atas dirinya.

Putra Earl of Peterborough juga melakukan tindakan serupa ketika diadili atas tuduhan pengkhianatan pada tahun 1658. Penolakan melepas topi dan menolak memberikan pembelaan menjadi bagian dari simbol perlawanan politik terhadap pemerintahan saat itu.

Menariknya, beberapa elite justru menggunakan pelepasan topi untuk tujuan politik yang berbeda. Bernard Capp menjelaskan bahwa sejumlah pemimpin royalis seperti Lord Capel melepas topi sebelum eksekusi untuk menarik simpati publik. Gestur tersebut dianggap sebagai cara membangun hubungan emosional dengan massa yang menyaksikan hukuman mati.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa konflik mengenai topi tidak hanya terjadi di ruang publik atau arena politik. Dalam kehidupan keluarga, aturan sosial terkait topi dapat menjadi alat kontrol yang kuat.

Bernard Capp menyoroti kisah Thomas Ellwood dan ayahnya pada tahun 1659. Karena tidak menyetujui hubungan putranya dengan kelompok Quaker yang menolak melepas topi sebagai tanda penghormatan sosial, sang ayah menyita seluruh topi milik Thomas Ellwood.

Dalam memoarnya yang diterbitkan pada 1714, Thomas Ellwood menulis bahwa dirinya praktis tidak dapat keluar rumah karena berjalan tanpa topi dianggap memalukan dan identik dengan orang tidak waras. Situasi tersebut menunjukkan bahwa topi bukan sekadar aksesori, melainkan bagian penting dari identitas sosial seseorang.

Menurut Bernard Capp, masyarakat Inggris saat itu memandang keluar rumah tanpa topi sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Thomas Ellwood dan ayahnya sama-sama memahami bahwa tampil tanpa topi akan mempermalukan diri sendiri sekaligus keluarga.

Tradisi melepas topi mulai berkurang secara perlahan pada abad berikutnya. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa budaya berjabat tangan menggantikan fungsi sosial topi, tetapi Bernard Capp tidak sepakat dengan pandangan tersebut.

Bernard Capp menilai bahwa perubahan tersebut lebih dipengaruhi oleh transformasi budaya sosial secara bertahap. Tata krama masyarakat menjadi semakin tidak formal, penggunaan wig mulai populer, dan kehidupan kota yang semakin padat membuat kebiasaan melepas topi berulang kali menjadi tidak praktis.

Meskipun demikian, topi tetap memiliki nilai sosial yang sangat tinggi bahkan pada abad ke-18. Catatan pengadilan Old Bailey menunjukkan bahwa korban perampokan sering kali lebih khawatir kehilangan topi dibandingkan kehilangan uang.

Pada tahun 1718, William Seabrook dirampok di Finchley Common dan kehilangan sekitar £15. Ketika para perampok mengambil topinya, William Seabrook memohon agar topi tersebut dikembalikan karena dirinya tidak ingin pulang tanpa penutup kepala. Para perampok akhirnya melemparkan topi tersebut kembali ke jalan sebelum melarikan diri.

Bernard Capp menduga terdapat semacam aturan tidak tertulis di antara para perampok jalanan bahwa korban yang menyerahkan barang berharga tanpa perlawanan setidaknya layak menerima sedikit kemurahan hati.

Faktor kesehatan juga memperkuat pentingnya topi pada masa itu. Banyak pria mengenakan wig di atas kepala yang dicukur habis sehingga lebih rentan terhadap udara dingin. Nasihat medis abad ke-18 bahkan memperingatkan bahwa keluar rumah tanpa topi dapat menyebabkan penyakit serius.

Kasus lain pada tahun 1733 memperlihatkan ketakutan tersebut dengan jelas. Setelah dirampok dengan todongan senjata, Francis Peters memprotes ketika topi dan wignya ikut diambil. Francis Peters menilai tindakan tersebut tidak lazim bahkan bagi seorang perampok karena cuaca dingin dapat membahayakan kesehatannya.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa benda sederhana seperti topi ternyata memiliki makna sosial, politik, dan budaya yang sangat kompleks dalam masyarakat Inggris awal modern. Tindakan melepas atau mempertahankan topi dapat menjadi simbol penghormatan, pemberontakan, identitas sosial, hingga perlindungan fisik. Perubahan cara masyarakat memandang topi juga menunjukkan bagaimana norma sosial dapat berubah perlahan seiring perkembangan budaya, politik, dan kehidupan sehari-hari manusia.

Diolah dari artikel:
“People once risked everything just to keep their hats on” oleh Cambridge University Press. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260506225231.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *