Bisakah Tambang Batu Bara Tua Menjadi Sumber Energi Bersih Masa Depan?

Sumber ilustrasi: Unsplash
8 Mei 2026 15.35 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [08.05.2026] Tambang batu bara identik dengan polusi, emisi karbon, dan eksploitasi sumber daya alam. Banyak kota pertambangan di dunia mengalami kemunduran ekonomi setelah industri batu bara berhenti beroperasi. Terowongan bawah tanah yang ditinggalkan sering dianggap sebagai simbol masa lalu industri yang telah usang dan tidak lagi memiliki nilai ekonomi.

Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai melihat tambang terbengkalai dari sudut pandang berbeda. Air bawah tanah yang terjebak di dalam jaringan tambang ternyata memiliki suhu stabil sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuka peluang baru untuk memanfaatkan bekas tambang sebagai sumber energi panas bumi beremisi rendah.

Sebuah proyek di Cumberland, British Columbia, Kanada, kini mencoba mengubah warisan industri batu bara menjadi sistem energi bersih modern. Melalui kerja sama dengan inisiatif Accelerating Community Energy Transformation (ACET) yang dipimpin University of Victoria, para peneliti mengeksplorasi bagaimana jaringan tambang tua dapat digunakan untuk memanaskan dan mendinginkan bangunan di seluruh kota.

Cumberland sendiri memiliki sejarah panjang sebagai kota tambang batu bara. Sejak tahun 1888 hingga akhir 1960-an, sekitar 16 juta ton batu bara diekstraksi dari wilayah Comox Valley. Industri tersebut mempekerjakan ribuan pekerja dan mengirim batu bara hingga ke pasar internasional seperti Jepang.

Aktivitas pertambangan membantu menggerakkan kapal uap, memanaskan rumah, dan mendukung industri logam melalui proses kokas. Akan tetapi, industri tersebut juga meninggalkan dampak sosial dan lingkungan yang besar. Banyak pekerja tambang mengalami kecelakaan kerja serius, sementara pembakaran batu bara turut mempercepat perubahan iklim global.

Kini, jaringan tambang bawah tanah yang dahulu menjadi pusat ekstraksi batu bara justru dinilai berpotensi mendukung transisi menuju energi berkelanjutan. Para peneliti memanfaatkan sifat alami air tambang yang cenderung lebih hangat pada musim dingin dan lebih dingin saat musim panas.

Pemimpin proyek ACET, Zachary Gould, menjelaskan bahwa perbedaan suhu stabil tersebut dapat dimanfaatkan menggunakan sistem pompa panas. Teknologi itu memungkinkan air bawah tanah digunakan untuk mengatur suhu dalam bangunan dengan kebutuhan energi yang lebih rendah dibanding sistem konvensional.

Peneliti energi panas bumi dari Cascade Institute, Emily Smejkal, menggambarkan proyek Cumberland District Energy sebagai penukar panas sumber tanah dalam skala sangat besar. Karena jaringan terowongan membentang di bawah sebagian besar kota, sistem tersebut berpotensi melayani area yang luas.

Para ahli geologi telah melakukan pemetaan terhadap jaringan tambang untuk memperkirakan kapasitas energi yang mungkin dihasilkan. Fokus awal proyek mencakup kawasan pembangunan sipil baru yang direncanakan memiliki pusat komunitas, bangunan pemerintahan, serta perumahan terjangkau.

Zachary Gould menilai proyek tersebut bukan sekadar sistem energi baru. Menurut Zachary Gould, proyek itu juga menjadi peluang untuk melihat ulang warisan ekstraksi sumber daya di desa yang dibangun dari industri pertambangan.

Penelitian tersebut juga memperlihatkan bagaimana kota kecil dapat menggunakan infrastruktur lama untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan jumlah penduduk sekitar 4.800 orang, Cumberland tidak memiliki sumber daya teknik internal yang cukup untuk mengevaluasi proyek sebesar itu secara mandiri.

Wali Kota Cumberland, Vickey Brown, menjelaskan bahwa bantuan akademik dari ACET sangat penting dalam menyusun studi kelayakan dan eksplorasi energi panas bumi. Vickey Brown menilai proyek tersebut dapat membantu komunitas memenuhi kebutuhan energi sambil memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia.

Gagasan memanfaatkan tambang sebagai sumber energi sebenarnya muncul dari diskusi para ahli geologi mengenai gas metana di lokasi tambang lama. Dari percakapan tersebut, para peneliti mulai mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih ramah lingkungan.

Ahli geologi Cumberland, Cory MacNeill, menjelaskan bahwa pengeboran panas bumi dalam tidak realistis dilakukan di wilayah tersebut. Namun air tambang yang sudah tersedia menawarkan alternatif yang lebih mudah diakses dan lebih murah untuk dimanfaatkan.

Proyek serupa sebenarnya telah diterapkan di beberapa kota lain seperti Nanaimo di British Columbia dan Springhill di Nova Scotia. Keberhasilan proyek-proyek tersebut memperkuat keyakinan bahwa bekas tambang dapat menjadi bagian penting dari sistem energi masa depan.

Menurut Cory MacNeill, proyek ini menunjukkan bagaimana peninggalan industri lama dapat dibayangkan kembali dari perspektif lingkungan yang lebih positif. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa infrastruktur bekas eksploitasi sumber daya masih dapat memberikan manfaat baru bagi masyarakat.

Dari sisi ekonomi, energi pemanas dan pendingin berbiaya rendah juga dapat menarik bisnis yang membutuhkan kontrol suhu stabil, seperti rumah kaca dan industri pengolahan makanan. Kondisi tersebut berpotensi membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Vickey Brown berpendapat bahwa manusia selama ini tidak selalu bekerja selaras dengan sistem alam. Namun Vickey Brown melihat proyek Cumberland sebagai model pemanfaatan sumber daya lokal dengan cara yang lebih tangguh dan berkelanjutan dibanding pendekatan industri masa lalu.

Penelitian dan pengembangan di Cumberland menunjukkan bahwa bekas tambang batu bara tidak selalu harus menjadi simbol kerusakan lingkungan dan kemunduran ekonomi. Dengan memanfaatkan air bawah tanah di jaringan tambang lama sebagai sumber panas bumi, komunitas kecil seperti Cumberland berupaya mengubah warisan industri menjadi infrastruktur energi bersih yang lebih berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga membuka kemungkinan baru bagi kota-kota bekas pertambangan lain untuk memanfaatkan peninggalan industri lama sebagai bagian dari transisi menuju energi rendah karbon.

Diolah dari artikel:
“This town found clean energy deep inside old coal mines” oleh University of Victoria. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260505234631.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *