Senyawa Alami dari Pohon Dari Brasil Tunjukkan Potensi Melawan COVID-19?

Sumber ilustrasi: Unsplash
10 Mei 2026 13.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [10.05.2026] Sejak pandemi COVID-19 muncul, para ilmuwan di seluruh dunia terus mencari cara baru untuk melawan SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit tersebut. Sebagian besar obat antivirus yang digunakan saat ini bekerja dengan menargetkan satu bagian spesifik dari virus. Pendekatan tersebut memang efektif dalam banyak kasus, namun juga memiliki kelemahan karena virus dapat mengalami mutasi dan mengembangkan resistansi terhadap terapi yang hanya menyerang satu target. Karena alasan tersebut, perhatian ilmuwan mulai mengarah pada senyawa alami yang memiliki kemampuan menyerang virus melalui berbagai mekanisme sekaligus.

Dalam sebuah penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan kelompok senyawa alami bernama galloylquinic acids dari daun Copaifera lucens Dwyer yang menunjukkan aktivitas menjanjikan terhadap SARS-CoV-2. Tanaman tersebut berasal dari Hutan Atlantik Brasil dan termasuk dalam genus Copaifera yang telah lama dipelajari karena kandungan kimia serta potensi medisnya.

Tim penelitian dipimpin oleh Jairo Kenupp Bastos dari Ribeirão Preto School of Pharmaceutical Sciences di University of São Paulo. Bastos dan tim memilih spesies tersebut berdasarkan pengalaman panjang mereka dalam meneliti tanaman dari genus Copaifera yang sebelumnya diketahui memiliki berbagai sifat biologis penting.

Galloylquinic acids sebenarnya telah dikenal dalam dunia penelitian biomedis. Sejumlah studi sebelumnya menemukan bahwa senyawa ini memiliki aktivitas antijamur dan antikanker, baik dalam pengujian laboratorium maupun pada organisme hidup. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa senyawa serupa memiliki kemampuan antivirus yang cukup luas, termasuk dalam menghambat HIV-1 dengan tingkat toksisitas lebih rendah dibandingkan beberapa zat lain yang diuji.

Dalam penelitian terbaru ini, para ilmuwan terlebih dahulu mengisolasi ekstrak daun yang kaya akan galloylquinic acids dengan dukungan dari FAPESP. Setelah proses isolasi selesai, tim melakukan uji sitotoksisitas untuk memastikan keamanan senyawa terhadap sel sebelum menilai efek antivirusnya terhadap SARS-CoV-2.

Untuk mengukur kemampuan senyawa dalam melawan virus, para peneliti menggunakan plaque reduction assays, metode yang umum dipakai untuk mengetahui efektivitas suatu zat dalam menetralkan partikel virus. Hasil pengujian menunjukkan bahwa galloylquinic acids memiliki aktivitas nyata dalam menghambat SARS-CoV-2 di laboratorium.

Analisis berikutnya dilakukan untuk memahami bagaimana senyawa tersebut bekerja pada tingkat molekuler. Para peneliti memeriksa interaksi senyawa dengan receptor-binding domain pada protein spike virus yang digunakan SARS-CoV-2 untuk memasuki sel manusia. Selain itu, penelitian juga meneliti pengaruh senyawa terhadap papain-like protease (PLpro), enzim yang membantu virus menghindari sistem imun tubuh, serta RNA polymerase yang berperan penting dalam proses replikasi virus.

Mohamed Abdelsalam menjelaskan bahwa pendekatan terpadu dalam penelitian tersebut membantu para ilmuwan memahami mekanisme kerja senyawa secara lebih rinci pada tingkat molekuler. Abdelsalam memimpin studi biologis bersama Lamiaa A. Al-Madboly dan Rasha M. El-Morsi dengan dukungan peneliti dari Alexandria University.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Scientific Reports menunjukkan bahwa galloylquinic acids mampu bekerja pada beberapa tahap siklus hidup virus sekaligus. Senyawa tersebut tidak hanya menghambat virus memasuki sel, tetapi juga mengganggu proses replikasi dan menurunkan produksi protein virus. Selain itu, para peneliti menemukan adanya sifat antiinflamasi dan imunomodulator yang berpotensi membantu mengatur respons imun tubuh pada kasus COVID-19 berat.

Bastos menilai bahwa kemampuan multi-target dari senyawa tersebut menjadi salah satu aspek paling penting dalam penelitian ini. Menurut Bastos, sebagian besar antivirus modern hanya bekerja pada satu protein virus sehingga lebih rentan memicu resistansi akibat mutasi. Pendekatan multi-target dinilai dapat mengurangi kemungkinan munculnya resistansi tersebut.

Meskipun hasil penelitian terlihat menjanjikan, para ilmuwan menekankan bahwa penelitian lanjutan masih sangat diperlukan sebelum senyawa tersebut dapat digunakan sebagai pengobatan. Tahap berikutnya mencakup pengujian pada organisme hidup dan uji klinis pada manusia untuk memastikan efektivitas serta keamanannya dalam kondisi nyata.

Penelitian ini juga memperlihatkan pentingnya keanekaragaman hayati sebagai sumber penemuan obat baru. Flora Brasil, khususnya tanaman dari Hutan Atlantik, dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber senyawa terapeutik yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pengobatan modern terhadap berbagai penyakit infeksi.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa galloylquinic acids dari tanaman Copaifera lucens memiliki kemampuan menyerang SARS-CoV-2 melalui berbagai mekanisme sekaligus, mulai dari menghambat masuknya virus ke sel hingga mengganggu proses replikasi dan produksi protein virus. Sifat antiinflamasi serta potensi imunomodulator dari senyawa tersebut juga membuka peluang baru dalam pengembangan terapi COVID-19 yang lebih efektif dan tahan terhadap resistansi virus. Penelitian ini sekaligus memperkuat pentingnya eksplorasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati dalam pencarian obat generasi baru.

Diolah dari artikel:
“Scientists find natural compounds that hit COVID-19 from every angle” oleh Fundação de Amparo à Pesquisa do Estado de São Paulo. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link : https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260506225217.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *