Sumber ilustrasi: Pixabay
12 Mei 2026 12.20 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.05.2026] Sistem arus laut Atlantik diketahui sebagai salah satu “mesin utama” pengatur iklim Bumi. Arus tersebut membantu memindahkan panas dari wilayah tropis menuju Atlantik Utara, menjaga keseimbangan suhu global, memengaruhi curah hujan, musim dingin di Eropa, aktivitas badai, hingga tinggi permukaan laut di berbagai wilayah pesisir. Para ilmuwan selama bertahun-tahun memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat mengganggu kestabilan sistem ini, namun bukti observasi langsung mengenai pelemahannya masih terbatas.
Dalam sebuah studi terbaru dari University of Miami Rosenstiel School of Marine, Atmospheric and Earth Science memberikan salah satu bukti paling kuat sejauh ini bahwa Atlantic Meridional Overturning Circulation atau AMOC benar-benar sedang melemah. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perlambatan sistem arus laut besar di Samudra Atlantik telah berlangsung selama hampir dua dekade dan membentang di wilayah yang sangat luas.
AMOC merupakan jaringan arus laut raksasa yang berfungsi seperti sabuk konveyor global. Sistem tersebut mengangkut air hangat dari wilayah tropis ke Atlantik Utara, kemudian mengirim air dingin kembali ke bagian selatan melalui laut dalam. Proses tersebut memainkan peran penting dalam menjaga kestabilan iklim dunia.
Studi yang berjudul “Meridionally consistent decline in the observed western boundary contribution to the Atlantic Meridional Overturning Circulation” yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menjelaskan bahwa melemahnya AMOC dapat memicu perubahan cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Shane Elipot, ahli oseanografi fisik sekaligus penulis senior studi tersebut, menyebut bahwa AMOC yang lebih lemah berpotensi menggeser pola cuaca global, meningkatkan intensitas badai, mengubah pola curah hujan, dan menyebabkan musim dingin lebih ekstrem di beberapa wilayah dunia.
Elipot juga menjelaskan bahwa perlambatan sistem arus tersebut dapat memengaruhi kenaikan permukaan laut di kawasan pesisir. Dampaknya berpotensi mengganggu masyarakat dan infrastruktur yang berada di wilayah pantai.
Untuk meneliti perubahan pada AMOC, para ilmuwan menggunakan data jangka panjang dari empat jaringan pemantauan laut yang ditempatkan di sepanjang sisi barat Atlantik Utara. Lokasi penelitian mencakup wilayah tropis hingga lintang yang lebih tinggi.
Tim peneliti memasang instrumen khusus di dasar laut yang secara terus-menerus mengukur tekanan, suhu, kepadatan air, dan arus laut. Metode yang sama diterapkan di seluruh titik pengamatan agar data yang diperoleh dapat dibandingkan secara konsisten.
Para peneliti kemudian menggunakan perubahan tekanan di dasar laut untuk memperkirakan pergerakan arus laut dalam pada kedalaman lebih dari 1.000 meter. Dengan membandingkan data dari berbagai lokasi dan periode waktu berbeda, para ilmuwan berhasil melacak perubahan jangka panjang pada sistem sirkulasi Atlantik.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan stabil pada bagian penting AMOC di sepanjang batas barat Atlantik. Perlambatan tersebut membentang dari wilayah subtropis hingga lintang menengah, sekitar 16,5 derajat hingga 42,5 derajat lintang utara.
Karena pelemahan terjadi di area yang sangat luas, para ilmuwan menilai kondisi tersebut kemungkinan besar bukan sekadar variasi alami sementara. Penelitian terbaru justru menunjukkan adanya perubahan besar pada sistem sirkulasi Samudra Atlantik.
AMOC sendiri memiliki pengaruh sangat besar terhadap iklim global. Sistem tersebut membantu mendistribusikan panas di lautan sehingga memengaruhi suhu udara, pola hujan, dan kondisi cuaca di berbagai belahan dunia, terutama kawasan Atlantik Utara dan Eropa.
Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia dapat melemahkan sistem tersebut. Pemanasan global menyebabkan mencairnya es di Greenland dan meningkatnya aliran air tawar ke Atlantik Utara. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses tenggelamnya air laut dingin yang menjadi “mesin penggerak” utama AMOC.
Jika pelemahan terus berlanjut, sejumlah dampak besar dapat muncul di masa depan. Musim dingin di Eropa bisa menjadi lebih ekstrem, pola hujan global dapat berubah, dan aktivitas badai tropis berpotensi meningkat.
Perubahan pada AMOC juga dapat mempercepat kenaikan permukaan laut di beberapa kawasan pesisir Atlantik. Ancaman tersebut menjadi perhatian penting bagi kota-kota besar yang berada di wilayah pantai.
Para peneliti menilai bahwa sistem pemantauan di sisi barat Atlantik dapat berfungsi sebagai semacam “peringatan dini” bagi perubahan iklim global. Pendekatan tersebut diibaratkan seperti burung kenari di tambang batu bara, yang dahulu digunakan untuk mendeteksi bahaya sebelum manusia merasakannya.
Elipot menjelaskan bahwa penelitian tersebut membantu para ilmuwan memprediksi perubahan iklim dalam beberapa dekade mendatang dengan lebih akurat. Informasi seperti ini dinilai penting bagi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi kondisi lingkungan di masa depan.
Temuan terbaru ini memperkuat kekhawatiran ilmuwan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi suhu global, tetapi juga mulai mengganggu sistem arus laut utama yang menjaga kestabilan iklim Bumi. Pelemahan AMOC selama hampir 20 tahun menunjukkan adanya perubahan besar di Samudra Atlantik yang berpotensi memengaruhi pola cuaca, curah hujan, badai, dan kenaikan permukaan laut di berbagai wilayah dunia. Penelitian tersebut juga memberikan dasar penting bagi pengembangan model iklim dan sistem peringatan dini untuk menghadapi dampak perubahan iklim di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Scientists say a critical Atlantic ocean current is weakening and the world could feel the impact” oleh University of Miami Rosenstiel School of Marine, Atmospheric, and Earth Science. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260509210639.htm