Sumber ilustrasi: Unsplash
12 Mei 2026 10.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.05.2026] Ular menjadi salah satu kelompok hewan paling sukses di planet ini meskipun tubuhnya tampak memiliki banyak keterbatasan. Ular tidak memiliki kaki, tidak mampu mengunyah makanan, dan bergerak hanya dengan melata menggunakan otot tubuh. Akan tetapi, reptil tersebut berhasil menyebar hampir ke seluruh dunia dengan lebih dari 4.000 spesies yang telah diketahui, mulai dari ular kecil setipis spaghetti hingga piton raksasa sepanjang lebih dari 20 kaki. Ada ular yang menggali tanah, berenang di laut, hidup di pepohonan, berbisa, membelit mangsa, bahkan mampu bereproduksi tanpa pejantan.
Para ilmuwan telah lama mencoba memahami bagaimana ular pertama berevolusi dan dari mana asal-usul kelompok reptil tersebut. Catatan fosil ular sangat terbatas karena tubuh ular yang panjang dan rapuh mudah terurai setelah mati. Akibatnya, banyak bagian penting dari sejarah evolusi ular masih menjadi misteri hingga sekarang.
Dalam beberapa tahun terakhir, penemuan fosil baru dan penggunaan teknologi modern mulai membantu para peneliti menyusun kembali kisah evolusi ular. Marc Tollis, ahli biologi evolusi dari Northern Arizona University, menjelaskan bahwa ular kemungkinan pertama kali muncul ketika mamalia kecil mulai hidup di liang bawah tanah pada era dinosaurus. Tubuh ular yang ramping memungkinkan reptil tersebut masuk ke sarang mamalia dan memangsa penghuninya.
Meski begitu, teori tersebut masih belum dapat dipastikan sepenuhnya. Para ilmuwan masih memperdebatkan habitat asal ular pertama, apakah berasal dari daratan, bawah tanah, atau bahkan lingkungan laut.
Alex Pyron dari George Washington University memperkirakan nenek moyang ular modern muncul sekitar 160 juta tahun lalu. Namun fosil ular tertua yang ditemukan berasal dari lingkungan berbeda-beda sehingga sulit menentukan habitat awal evolusi mereka.
Salah satu hipotesis paling lama menyebut bahwa ular berasal dari bawah tanah. Gagasan tersebut muncul karena ular buta, kelompok paling awal dalam pohon keluarga ular modern, memiliki mata sangat kecil dan hidup di dalam tanah. Akan tetapi, Catie Strong dari Harvard Museum of Comparative Zoology menjelaskan bahwa ular buta ternyata terlalu terspesialisasi untuk dianggap sebagai bentuk nenek moyang ular pertama.
Strong menemukan bahwa tengkorak ular buta memiliki struktur unik yang sangat cocok untuk kehidupan bawah tanah dan pola makan serangga. Salah satu contohnya adalah rahang bawah menonjol yang membantu mencegah tanah masuk ke mulut ketika menggali.
Pada akhir abad ke-20, muncul teori lain yang menyebut ular berasal dari laut. Para ilmuwan menemukan fosil ular purba di Timur Tengah yang hidup hampir 100 juta tahun lalu ketika wilayah tersebut masih berada di bawah laut. Michael Caldwell dari University of Alberta bersama timnya juga menemukan hubungan evolusi antara ular dan mosasaurus, reptil laut purba yang telah punah.
Namun teori asal laut mulai kehilangan dukungan ketika fosil ular yang lebih tua ditemukan di lingkungan daratan. Tiago Simões dari Princeton University menjelaskan bahwa konsensus ilmiah saat ini lebih mendukung gagasan bahwa ular laut purba sebenarnya berasal dari daratan lalu beradaptasi kembali ke lingkungan air.
Wilayah Patagonia di Amerika Selatan menjadi salah satu lokasi paling penting dalam penelitian evolusi ular. Fosil seperti Najash rionegrina yang berusia sekitar 95 juta tahun dan Dinilysia patagonica yang hidup sekitar 80 juta tahun lalu memberikan petunjuk baru mengenai kehidupan ular purba.
Analisis terhadap kedua spesies tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa ular awal hidup di lingkungan daratan kering dan berpasir. Simões menjelaskan bahwa Dinilysiakemungkinan hidup di permukaan tanah, sedangkan Najashmungkin menghabiskan sebagian waktunya di bawah tanah.
Michael Caldwell menambahkan bahwa kedua spesies tersebut memiliki tubuh besar seperti piton modern. Menurut Caldwell, ular tersebut kemungkinan bersembunyi di liang bawah tanah tetapi berburu di permukaan.
Penelitian lain menggunakan pemindaian sinar-X tiga dimensi untuk mempelajari bentuk otak ular purba melalui struktur rongga tengkorak. Para peneliti menemukan bahwa nenek moyang ular memiliki beberapa ciri otak khas hewan penggali tanah, tetapi juga memiliki karakteristik yang tidak sepenuhnya cocok dengan kehidupan bawah tanah.
Berdasarkan berbagai bukti tersebut, Strong mendukung teori bahwa ular berevolusi di lingkungan daratan berpasir dan kemudian mengembangkan kemampuan untuk bergerak di bawah tanah ketika diperlukan.
Salah satu perubahan terbesar dalam evolusi ular adalah hilangnya kaki. Meskipun tampak ekstrem, perubahan tersebut sebenarnya juga terjadi pada beberapa kelompok kadal lain yang memiliki tubuh panjang dan ramping.
Daniela Garcia Cobos dari American Museum of Natural History menjelaskan bahwa kaki justru menjadi hambatan ketika hewan bergerak di bawah tanah atau di antara rerumputan. Bentuk tubuh panjang tanpa kaki memberikan keuntungan dalam berbagai jenis lingkungan.
Pyron memperkirakan proses hilangnya kaki terjadi antara 150 juta hingga 125 juta tahun lalu. Fosil ular awal yang ditemukan masih memiliki kaki belakang, tetapi tidak memiliki kaki depan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang ular berkaki empat kemungkinan pernah ada, meskipun fosil lengkapnya belum ditemukan.
Pada tahun 2025, para ilmuwan mendeskripsikan fosil baru bernama Breugnathair elgolensis dari Skotlandia dalam jurnal Nature. Fosil tersebut berasal dari periode Jurassic dan memiliki empat kaki seperti kadal biasa.
Susan E. Evans dari University College London menjelaskan bahwa fosil tersebut secara sekilas tampak seperti iguana modern. Akan tetapi struktur rahangnya memiliki beberapa ciri khas ular, terutama bentuk giginya.
Michael Caldwell meyakini fosil tersebut merupakan ular awal karena memiliki banyak karakter tengkorak khas ular. Evans sendiri masih belum yakin dan bahkan memberi nama Breugnathairyang berarti “ular palsu” dalam bahasa Gaelik.
Selain kehilangan kaki, ular juga mengalami perubahan besar pada tengkorak dan tulang belakang. Penelitian besar yang dipublikasikan di jurnal Sciencetahun 2024 mempelajari ribuan tengkorak ular dan kadal, isi lambung spesimen museum, pola makan, serta data genetika lebih dari 1.000 spesies reptil.
Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 125 juta tahun lalu ular mengalami perubahan besar pada tengkorak, pola makan, dan struktur tubuh yang memungkinkan mereka menyebar dengan sangat cepat.
Salah satu inovasi paling penting adalah tengkorak fleksibel yang tersusun dari banyak bagian tulang yang dihubungkan jaringan lunak. Struktur tersebut memungkinkan ular membuka mulut sangat lebar dan menelan mangsa berukuran besar.
Pada banyak spesies ular, kedua sisi rahang bawah dapat bergerak terpisah sehingga mulut dapat melebar secara ekstrem. Bagian langit-langit mulut juga dapat bergerak secara independen untuk membantu mendorong makanan ke tenggorokan.
Kemampuan tersebut memungkinkan ular memakan hampir semua jenis hewan, mulai dari siput, belut, mamalia kecil, hingga ular lain. Tim penelitian Science menemukan bahwa fleksibilitas pola makan menjadi salah satu faktor penting keberhasilan evolusi ular.
Pada waktu yang hampir bersamaan, tubuh ular juga memanjang dengan penambahan ratusan ruas tulang belakang. Caldwell menjelaskan bahwa tubuh panjang membuat ular dapat bergerak lebih efisien di tanah, memanjat pohon, maupun berenang di air.
Frank Burbrink dari American Museum of Natural History menyebut ular memiliki kemampuan adaptasi sangat cepat terhadap lingkungan baru. Kombinasi tubuh fleksibel, tengkorak unik, dan pola makan luas membuat ular mampu bertahan di hampir semua habitat di Bumi.
Catatan fosil ular yang tidak lengkap masih menjadi tantangan besar dalam penelitian evolusi reptil tersebut. Tubuh ular yang mudah terurai menyebabkan fosil utuh sangat jarang ditemukan. Para ilmuwan bahkan masih belum mengetahui dengan pasti kelompok reptil mana yang menjadi kerabat terdekat ular.
Ketika fosil tidak mampu memberikan jawaban lengkap, penelitian genetika mulai memainkan peran penting. Analisis DNA menunjukkan bahwa banyak pohon keluarga reptil yang sebelumnya dibuat berdasarkan bentuk tubuh ternyata tidak akurat.
Penelitian genetika juga membantu menjelaskan beberapa ciri unik ular modern. Hilangnya kaki dikaitkan dengan kerusakan fungsi pada sekuens gen ZRS yang berperan dalam pertumbuhan anggota tubuh.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa ular tidak memiliki gen pengkode hormon lapar ghrelin. Kondisi tersebut mungkin membantu ular bertahan dalam periode puasa panjang, karena beberapa spesies diketahui mampu tidak makan selama lebih dari satu tahun.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa evolusi ular melibatkan kombinasi perubahan besar pada tubuh, tengkorak, genetika, dan pola hidup yang berlangsung selama jutaan tahun. Fosil baru serta teknologi modern mulai membantu para ilmuwan mengisi kekosongan sejarah evolusi reptil tersebut, meskipun banyak misteri asal-usul ular masih belum sepenuhnya terpecahkan. Penelitian lanjutan mengenai fosil dan genetika kemungkinan akan terus mengubah pemahaman manusia mengenai bagaimana ular berkembang menjadi salah satu predator paling sukses di Bumi.
Diolah dari artikel:
“Evolution of snakes: Scientists unravel the mysssteries” oleh Amber Dance. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://knowablemagazine.org/content/article/living-world/2026/evolution-of-snakes