Sumber ilustrasi: Unsplash
14 Mei 2026 13.10 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [14.05.2026] Mikroplastik telah banyak menjadi tema dalam pembahasan polusi duni. Akan tetapi para ilmuwan menemukan ancaman lain yang sebelumnya kurang mendapat perhatian, yaitu methylsiloxanes, senyawa silikon sintetis yang banyak digunakan dalam kosmetik, pelumas industri, kendaraan, hingga produk rumah tangga. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa polutan ini ternyata tersebar luas di atmosfer dan mungkin hadir hampir di seluruh wilayah dunia.
Studi yang dipimpin oleh peneliti dari Utrecht University dan University of Groningen serta dipublikasikan dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics mengungkap bahwa konsentrasi methylsiloxanes di udara jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Para ilmuwan menemukan senyawa tersebut di kawasan perkotaan, pesisir, pedesaan, hingga hutan, menunjukkan bahwa penyebarannya tidak terbatas pada wilayah industri atau lalu lintas padat saja.
Selama bertahun-tahun, para peneliti menganggap methylsiloxanes di atmosfer terutama berasal dari penguapan produk perawatan pribadi dan material industri. Akan tetapi, penelitian terbaru menemukan bahwa kapal dan kendaraan bermotor juga melepaskan bentuk methylsiloxanes dengan ukuran molekul lebih besar yang tidak mudah menguap. Temuan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan mengenai sumber utama polusi silikon di atmosfer.
Rupert Holzinger dari Utrecht University menjelaskan bahwa temuan terbaru menunjukkan konsentrasi methylsiloxane di atmosfer ternyata jauh lebih tinggi daripada dugaan awal para ilmuwan. Menurut Rupert Holzinger, jumlah senyawa tersebut bahkan termasuk yang paling melimpah di antara partikel sintetis yang ditemukan di udara.
Para peneliti memperkirakan methylsiloxanes bermolekul besar menyumbang sekitar 2 hingga 4,3 persen dari total massa aerosol organik di atmosfer. Angka tersebut menjadikan senyawa ini sebagai salah satu polutan sintetis paling dominan di udara. Sebagai perbandingan, konsentrasi PFAS di atmosfer disebut lebih dari seribu kali lebih rendah dibandingkan methylsiloxanes.
Penelitian ini juga mengungkap bagaimana oli mesin menjadi sumber pelepasan senyawa tersebut. Methylsiloxanes memang ditambahkan ke dalam pelumas untuk membantu proses pelumasan mesin. Namun saat mesin bekerja, sejumlah kecil oli tidak dapat dihindari masuk ke ruang pembakaran. Karena senyawa ini sangat tahan panas, sebagian methylsiloxanes tidak sepenuhnya terurai dan akhirnya keluar melalui gas buang kendaraan ke atmosfer.
Konsentrasi tertinggi ditemukan di wilayah metropolitan São Paolo, Brasil, dengan tingkat mencapai 98 nanogram per meter kubik. Sebaliknya, konsentrasi terendah ditemukan di kawasan hutan Rugsteliskis, Lithuania, dengan nilai sekitar 0,9 nanogram per meter kubik. Para peneliti juga menemukan keberadaan senyawa ini di Cabauw, desa kecil di Belanda, dengan konsentrasi sekitar 2 nanogram per meter kubik.
Pengukuran dilakukan di beberapa negara berbeda seperti Belanda, Lithuania, dan Brasil. Data tersebut memberikan gambaran kondisi atmosfer dari berbagai iklim, belahan bumi, serta wilayah ekonomi yang mencakup negara maju dan berkembang. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa methylsiloxanes telah menyebar luas secara global.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa manusia kemungkinan terus-menerus menghirup methylsiloxanes karena keberadaannya yang hampir ada di mana-mana di atmosfer. Meskipun dampak kesehatan jangka panjangnya belum diketahui secara pasti, para peneliti memperkirakan dosis inhalasi harian methylsiloxanes dapat melebihi paparan terhadap PFAS maupun mikroplastik.
Rupert Holzinger menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi mendesak mengenai dampak kesehatan dari methylsiloxanes terhadap manusia. Para peneliti khawatir paparan jangka panjang dapat mempengaruhi sistem biologis tertentu, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan risiko sebenarnya.
Selain kesehatan manusia, methylsiloxanes juga diperkirakan dapat mempengaruhi sistem iklim dan proses atmosfer. Senyawa tersebut mampu mengubah sifat aerosol yang berperan penting dalam pembentukan awan dan pola iklim. Perubahan pada tegangan permukaan aerosol dapat mempengaruhi cara awan terbentuk dan berkembang di atmosfer.
Para ilmuwan juga menemukan kemungkinan bahwa methylsiloxanes dapat mengganggu proses nukleasi es, yaitu tahapan penting dalam pembentukan partikel es di awan atmosfer. Gangguan pada proses tersebut berpotensi mempengaruhi pola cuaca dan dinamika iklim dalam skala lebih luas.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa lebih dari setengah partikel methylsiloxanes bermolekul besar kemungkinan berasal dari emisi lalu lintas kendaraan. Para ilmuwan sampai pada kesimpulan tersebut setelah menemukan pola penyebaran methylsiloxanes di atmosfer sangat mirip dengan hidrokarbon rantai panjang yang umum ditemukan dalam oli mesin kendaraan.
Menariknya, hidrokarbon rantai panjang cenderung berkurang secara signifikan ketika bergerak melalui atmosfer. Sebaliknya, methylsiloxanes terbukti jauh lebih stabil dan mampu bertahan dalam jumlah besar bahkan setelah melakukan perjalanan jarak jauh melalui udara. Stabilitas tinggi tersebut membuat senyawa ini berpotensi menyebar ke berbagai wilayah di dunia.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa methylsiloxanes mungkin merupakan salah satu polutan sintetis paling melimpah di atmosfer yang selama ini kurang mendapat perhatian ilmiah. Penyebaran global, kestabilan tinggi di udara, serta potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia dan sistem iklim membuat para peneliti menilai bahwa studi lebih mendalam mengenai polutan silikon ini menjadi semakin mendesak di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Scientists discover a mysterious silicone pollutant that may be everywhere” oleh Utrecht University, Faculty of Science. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260512202353.htm