El Niño “Super”

Sumber ilustrasi: Unsplash
14 Mei 2026 13.25 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [14.05.2026] Fenomena El Niño dikenal sebagai salah satu pola iklim alami paling berpengaruh terhadap cuaca global. Peristiwa ini biasanya memicu kenaikan suhu dunia, perubahan pola hujan, kekeringan, hingga gangguan pada ekosistem laut dan pertanian. Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan juga semakin mengaitkan dampak El Niño dengan perubahan iklim global yang dipicu aktivitas manusia. Dalam sebuah penelitian terbaru, ditunjukkan bahwa dunia mungkin berada di ambang salah satu El Niño terkuat abad ini.

Data terbaru memperlihatkan bahwa suhu permukaan laut pada April mencapai tingkat bulanan yang hampir memecahkan rekor. Para ilmuwan iklim mengungkapkan bahwa suhu permukaan laut global untuk wilayah non-polar menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah pencatatan untuk bulan April. Suhu rata-rata mencapai sekitar 21 derajat Celsius, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan rekor April 2024 yang menjadi April terpanas yang pernah tercatat.

Layanan Perubahan Iklim Copernicus milik Uni Eropa menemukan bahwa kondisi tersebut mencerminkan transisi menuju fase El Niño. Fenomena El Niño sendiri merupakan fase hangat dari siklus iklim alami El Niño-Southern Oscillation atau ENSO yang biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Siklus tersebut bergantian antara fase hangat El Niño dan fase dingin La Niña.

El Niño terakhir berlangsung dari Juni 2023 hingga April 2024 dan memberikan tambahan panas besar pada planet yang sudah mengalami pemanasan global. Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah modern dan menjadi tahun pertama yang melampaui batas pemanasan 1,5 derajat Celsius, batas penting yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris untuk mencegah dampak perubahan iklim yang lebih berbahaya. Menariknya, El Niño 2023/2024 hampir mencapai kategori “super” El Niño.

Fenomena El Niño ditandai oleh perubahan suhu laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Akan tetapi, para ilmuwan menekankan bahwa peningkatan suhu laut saat ini bukan hanya disebabkan pola alami tersebut. Pemanasan global akibat aktivitas manusia juga berperan besar dalam meningkatkan suhu laut secara keseluruhan. Kombinasi antara perubahan iklim dan El Niño diperkirakan dapat memperparah kondisi cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Samantha Burgess dari Copernicus Climate Change Service menjelaskan bahwa April 2026 memperlihatkan sinyal jelas mengenai kehangatan global yang terus berlanjut. Menurut Samantha Burgess, suhu permukaan laut mendekati tingkat rekor disertai gelombang panas laut yang meluas, es laut Arktik yang tetap jauh di bawah rata-rata, serta kontras ekstrem suhu dan curah hujan di Eropa. Kondisi tersebut dianggap sebagai tanda bahwa iklim global semakin dipengaruhi oleh cuaca ekstrem.

National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA menyatakan bahwa kondisi El Niño diakui ketika suhu Samudra Pasifik tropis bagian timur berada setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata historis. Selain itu, pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di wilayah tersebut juga harus menunjukkan karakteristik khas El Niño.

Climate Prediction Center milik NOAA memperkirakan terdapat peluang sebesar 61 persen bahwa El Niño akan berkembang antara Mei hingga Juli dan kemungkinan besar bertahan sepanjang sisa tahun 2026. NOAA juga memperkirakan peluang sekitar 25 persen munculnya El Niño yang sangat kuat atau “super” El Niño pada musim dingin Belahan Bumi Utara mendatang, periode ketika El Niño biasanya mencapai puncaknya.

Para ilmuwan menilai tingkat keyakinan NOAA terhadap prakiraan tersebut cukup tinggi untuk ukuran musim semi, yang biasanya lebih sulit diprediksi karena pola cuaca yang tidak stabil. Samudra Pasifik tropis saat ini terlihat bergerak cepat keluar dari kondisi La Niña yang terjadi antara September dan Januari, melewati fase netral, lalu menuju El Niño yang berpotensi sangat kuat.

Nathaniel Johnson dari Climate Prediction Center menilai bahwa jika El Niño kali ini benar-benar berkembang menjadi sangat kuat, maka transisinya dapat menjadi salah satu yang tercepat dalam sejarah pengamatan modern. Nathaniel Johnson juga menyebut bahwa perubahan iklim mungkin memiliki peran dalam mempercepat peralihan antara El Niño dan La Niña, meskipun hubungan tersebut masih perlu dipastikan melalui penelitian lebih lanjut.

Istilah “super El Niño” sebenarnya tidak digunakan secara resmi oleh banyak organisasi meteorologi. Akan tetapi, istilah tersebut umum dipakai untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat. Fenomena seperti ini berpotensi menyebabkan penurunan hasil perikanan, kekeringan panjang, kebakaran hutan, hingga pemutihan terumbu karang dalam skala besar.

Met Office Inggris juga termasuk lembaga yang memperkirakan potensi El Niño sangat kuat tahun ini. Grahame Madge dari Met Office menjelaskan bahwa meskipun pihaknya tidak menggunakan istilah “super El Niño”, para ilmuwan melihat kemungkinan bahwa peristiwa mendatang dapat menjadi salah satu El Niño terkuat abad ini dan sebanding dengan peristiwa besar tahun 1998.

Peristiwa El Niño 1997/1998 dikenal sebagai salah satu yang paling kuat dalam sejarah modern. Data NOAA menunjukkan bahwa suhu laut saat itu meningkat hingga sekitar 2,4 derajat Celsius di atas rata-rata historis. El Niño besar lainnya terjadi pada 2015/2016 dengan puncak anomali suhu mencapai sekitar 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata historis. Kedua fenomena tersebut memicu dampak iklim besar di berbagai negara.

Menurut Grahame Madge, El Niño biasanya meningkatkan suhu global sekitar seperlima derajat Celsius. Kenaikan tersebut memang bersifat sementara, tetapi terjadi di atas pemanasan global yang terus berlangsung akibat emisi gas rumah kaca. Dengan kata lain, El Niño dapat mempercepat sementara tren pemanasan yang sudah terjadi secara global.

Carbon Brief memperkirakan bahwa tahun 2026 kemungkinan akan menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah pencatatan suhu global. Selain itu, jika El Niño kuat benar-benar berkembang pada akhir tahun ini, maka tahun 2027 berpotensi menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat di Bumi.

Para pemimpin dunia sebelumnya telah menyepakati target untuk menjaga pemanasan global tetap berada di bawah 1,5 derajat Celsius melalui Perjanjian Paris 2015. Meskipun tahun 2024 sempat melampaui angka tersebut, batas Perjanjian Paris sebenarnya dihitung berdasarkan rata-rata suhu jangka panjang selama minimal 20 tahun. Namun, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa dunia dapat melampaui ambang 1,5 derajat Celsius secara permanen dalam dekade mendatang apabila emisi global tidak segera ditekan.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa dunia mungkin sedang menuju salah satu fenomena El Niño terkuat abad ini di tengah kondisi pemanasan global yang terus meningkat. Suhu laut yang mendekati rekor, potensi munculnya “super” El Niño, serta meningkatnya cuaca ekstrem memperlihatkan bagaimana perubahan iklim dan pola iklim alami kini saling memperkuat dampaknya terhadap planet Bumi. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kombinasi tersebut dapat memicu konsekuensi besar bagi lingkungan, ekosistem laut, pertanian, dan kehidupan manusia dalam beberapa tahun mendatang.

Diolah dari artikel:
“Once-in-a-century ‘super’ El Niño in the cards as ocean temperatures reach near record highs in April” oleh Patrick Pester. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/climate-change/once-in-a-century-super-el-nino-in-the-cards-as-ocean-temperatures-reach-near-record-highs-in-april

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *