Sumber ilustrasi: Unsplash
19 Mei 2026 11.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [19.05.2026] Musim panas akan segera tiba. Musim yang satu ini selalu identik dengan aktivitas luar ruangan seperti berenang, berkunjung ke taman, dan berkumpul bersama teman. Banyak orang memanfaatkan cuaca cerah untuk beraktivitas lebih lama di luar. Akan tetapi, peningkatan suhu global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, di mana suhu ekstrem menjadi semakin sering terjadi. Kondisi ini menjadikan pemahaman tentang cara menjaga tubuh tetap sejuk sebagai hal yang semakin penting.
Tubuh manusia diketahui memiliki mekanisme alami untuk mengatur suhu melalui keringat. Proses penguapan keringat membantu melepaskan panas dari tubuh. Namun demikian, dalam kondisi panas dan kelembapan tinggi, mekanisme tersebut menjadi kurang efektif. Roxana Chicas dari Emory University menjelaskan bahwa paparan panas berlebih dapat meningkatkan suhu inti tubuh hingga menyerupai kondisi demam, yang kemudian memicu gejala seperti sakit kepala, kelelahan, hingga gangguan kesadaran.
Risiko kesehatan akibat panas tidak hanya dialami oleh pekerja luar ruangan seperti petani dan pekerja konstruksi, tetapi juga kelompok lain seperti anak-anak, lansia, serta atlet pelajar. Peningkatan kasus penyakit terkait panas menunjukkan bahwa strategi mitigasi berbasis sains menjadi semakin relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah pemanfaatan ruang hijau. Tanaman mampu menurunkan suhu lingkungan melalui dua mekanisme utama, yaitu memberikan bayangan dan melepaskan uap air yang mendinginkan udara sekitar. Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan tanaman, bahkan dalam bentuk pot di balkon, dapat menurunkan suhu permukaan dan suhu dalam ruangan secara signifikan, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.
Selain itu, pemilihan pakaian juga memiliki peran penting dalam mengatur suhu tubuh. Asis Patnaik dari Cape Peninsula University of Technology menjelaskan bahwa pakaian longgar berbahan alami seperti katun dan linen memungkinkan penguapan keringat berlangsung lebih efektif. Lapisan pakaian juga dapat berfungsi sebagai pelindung dari radiasi matahari, terutama dalam kondisi panas ekstrem.
Faktor lain yang jarang diperhatikan adalah peran rambut dalam melindungi kepala dari panas. Penelitian yang dipimpin oleh Tina Lasisi dari University of Michigan menunjukkan bahwa rambut keriting lebih efektif dalam mengurangi paparan panas karena menciptakan ruang udara yang membantu sirkulasi. Struktur rambut ini bertindak seperti pelindung alami terhadap radiasi matahari.
Perlindungan pada area leher juga terbukti penting dalam menjaga suhu tubuh. Studi yang dilakukan oleh tim Roxana Chicas menunjukkan bahwa penggunaan bandana pendingin dapat mengurangi gejala penyakit akibat panas secara signifikan. Efektivitas ini berkaitan dengan keberadaan pembuluh darah besar di leher yang berperan dalam mengatur suhu otak dan tubuh.
Pendekatan lain yang menarik adalah pendinginan dari dalam tubuh melalui konsumsi minuman es serut atau slushie. Minuman ini mengandung kristal es kecil yang mampu menyerap panas dari dalam tubuh lebih efektif dibandingkan cairan dingin biasa. Selain menurunkan suhu tubuh, metode ini juga dapat meningkatkan daya tahan selama aktivitas fisik.
Sensasi dingin juga dapat diperoleh melalui penggunaan mentol atau rasa mint. Russell Best dari Waikato Institute of Technology menjelaskan bahwa mentol bekerja dengan merangsang reseptor suhu di tubuh sehingga memberikan sensasi sejuk. Akan tetapi, penggunaan mentol perlu dibatasi karena tidak benar-benar menurunkan suhu tubuh dan dapat memengaruhi persepsi panas serta rasa haus.
Selain berbagai strategi tersebut, hidrasi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga suhu tubuh. Air membantu proses berkeringat yang sangat penting untuk pendinginan alami. Dalam kondisi tertentu, minuman dengan elektrolit dapat membantu menggantikan mineral yang hilang melalui keringat, meskipun konsumsi berlebihan perlu dihindari, terutama pada minuman tinggi gula.
Peningkatan suhu global yang semakin ekstrem menuntut adaptasi berbasis sains dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan berbagai strategi seperti penggunaan tanaman, pemilihan pakaian, perlindungan tubuh, serta pendekatan pendinginan dari dalam, risiko penyakit akibat panas dapat dikurangi secara signifikan.
Berbagai temuan ilmiah menunjukkan bahwa mengatasi panas tidak hanya bergantung pada pendingin ruangan, tetapi juga pada kombinasi strategi sederhana yang didukung oleh pemahaman ilmiah tentang bagaimana tubuh dan lingkungan berinteraksi dalam kondisi suhu tinggi.
Diolah dari artikel:
“6 surprising science-backed ways to beat the heat” oleh Alison Pearce Stevens. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link : https://www.snexplores.org/article/6-ways-science-beat-summer-heat