Sumber ilustrasi: Unsplash
16 Mei 2026 12.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.05.2026] Hingga kini para ilmuwan dan astronomer masih berusaha memahami seperti apa kondisi Mars di masa lalu, khususnya terkait keberadaan air dalam jumlah besar di permukaannya. Sejumlah bukti dari misi eksplorasi sebelumnya menunjukkan adanya sungai purba, danau, hingga kemungkinan samudra luas yang pernah mengisi bagian utara planet tersebut. Namun, pertanyaan mengenai bagaimana air tersebut mengalir dan membentuk lanskap Mars masih menjadi topik penelitian aktif dalam ilmu planet.
Melalui misi eksplorasi milik European Space Agency, perhatian terbaru tertuju pada sebuah lembah besar bernama Shalbatana Vallis yang terletak di dekat khatulistiwa Mars. Lembah ini membentang sekitar 1.300 kilometer dan menjadi salah satu saluran aliran keluar terbesar di planet tersebut. Data citra resolusi tinggi dari kamera HRSC pada wahana Mars Express memperlihatkan struktur geologi kompleks yang menyimpan rekam jejak aktivitas air dan vulkanisme di masa lampau.
Analisis geologi menunjukkan bahwa lembah ini terbentuk sekitar 3,5 miliar tahun lalu akibat semburan besar air tanah ke permukaan. Aliran air dalam jumlah masif tersebut mengikis permukaan Mars dan membentuk saluran dalam yang berkelok-kelok. Lebar lembah yang mencapai sekitar 10 kilometer dan kedalaman hingga 500 meter menunjukkan kekuatan erosi yang sangat besar, mengindikasikan bahwa air pernah mengalir dalam volume dan kecepatan tinggi.
Penelitian lebih lanjut mengungkap bahwa bentuk lembah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi awalnya. Selama miliaran tahun, material seperti sedimen dan abu vulkanik mengisi sebagian saluran, mengubah struktur aslinya. Endapan berwarna gelap yang ditemukan di beberapa bagian lembah diduga merupakan abu vulkanik yang kemudian tersebar oleh angin Mars, menambah kompleksitas lanskap yang terbentuk dari interaksi antara air dan aktivitas geologi.
Wilayah sekitar Shalbatana Vallis juga menunjukkan peralihan geologis yang signifikan antara dataran tinggi selatan yang dipenuhi kawah dan dataran rendah utara yang lebih halus. Di dekat area tersebut terdapat Chryse Planitia, salah satu wilayah terendah di Mars yang menjadi titik akhir banyak saluran aliran. Kondisi ini mendorong sejumlah ilmuwan untuk berpendapat bahwa wilayah tersebut kemungkinan pernah menjadi lokasi samudra besar ketika Mars memiliki iklim yang lebih hangat dan lembap.
Selain jejak air, fitur lain yang menonjol adalah keberadaan medan kacau atau chaotic terrain. Lanskap ini terdiri dari blok batu pecah, punggungan, dan gundukan tidak beraturan yang terbentuk akibat runtuhnya permukaan tanah. Para peneliti menjelaskan bahwa fenomena ini kemungkinan terjadi ketika es bawah tanah mencair, menyebabkan struktur tanah di atasnya kehilangan penopang dan akhirnya runtuh. Formasi serupa juga ditemukan di wilayah lain seperti Iani Chaos dan Aram Chaos, memperkuat interpretasi mengenai peran es dalam membentuk lanskap Mars.
Citra yang diperoleh juga memperlihatkan banyak kawah tumbukan dengan berbagai kondisi, mulai dari yang masih utuh hingga yang telah terkikis. Beberapa kawah dikelilingi oleh material lontaran yang terbentuk saat tumbukan terjadi. Di sisi lain, permukaan yang lebih halus menunjukkan adanya aliran lava di masa lalu. Proses pendinginan lava menghasilkan struktur berkerut yang dikenal sebagai wrinkle ridges, sementara bukit datar terisolasi atau mesas menjadi sisa dari permukaan tinggi yang telah tererosi secara perlahan.
Misi Mars Express yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade memberikan kontribusi besar dalam memahami sejarah geologi Mars. Instrumen seperti HRSC memungkinkan pemetaan permukaan planet dalam detail tinggi dan tiga dimensi. Data yang dikumpulkan terus membantu para ilmuwan menghubungkan berbagai proses seperti aktivitas air, vulkanisme, dan tumbukan dalam membentuk lanskap Mars yang terlihat saat ini.
Temuan dari pengamatan terhadap Shalbatana Vallis menunjukkan bahwa Mars kemungkinan pernah memiliki sistem air yang aktif, termasuk aliran besar yang mampu membentuk lembah raksasa dan kemungkinan keberadaan samudra di dataran rendah, sementara interaksi antara air, es, dan aktivitas vulkanik menciptakan lanskap kompleks yang masih dapat diamati hingga sekarang.
Diolah dari artikel:
“Mars may have once had an ocean and this chaotic valley is a big clue” oleh European Space Agency (ESA). (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260515002137.htm