Tes Kekuatan Dapat Memprediksi Panjang Umur?

Sumber ilustrasi: Pixabay
13 Mei 2026 11.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [13.05.2026] Melakukan olahraga secara cukup merupakan salah satu kunci penting untuk menjaga kesehatan, terutama bagi mereka yang telah lanjut usia. Dalam sebuah studi terbaru, terungkap bahwa melatih otot juga merupakan faktor yang juga penting dalam melakukan olahraga. Studi besar dari University at Buffalo ini menemukan bahwa perempuan lanjut usia dengan kekuatan otot lebih baik memiliki risiko kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki kekuatan otot lemah.

Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open ini melibatkan lebih dari 5.000 perempuan dengan rentang usia antar 63 hingga 99 tahun. Para peneliti mengikuti kondisi kesehatan masing-masing peserta selama delapan tahun untuk dapat mengamati hubungan antara kekuatan tubuh dan panjang hidup. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa perempuan yang memiliki genggaman tangan lebih kuat dan mampu berdiri dari kursi lebih cepat kenderung memiliki usia lebih panjang.

Fokus studi ini ada pada dua pengukuran sederhana yang umum dipakai dalam dunia medis untuk mengevaluasi kondisi fisik lansia, yaitu tes kekuatan genggaman tangan dan tes duduk-berdiri dari kursi. Dalam tes kursi, peserta diminta berdiri dan duduk sebanyak lima kali tanpa bantuan secepat mungkin. Tes sederhana tersebut ternyata mampu memberikan gambaran penting mengenai kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Para peneliti menemukan bahwa setiap tambahan sekitar 7 kilogram kekuatan genggaman tangan berkaitan dengan penurunan risiko kematian rata-rata sebesar 12 persen. Selain itu, peserta dengan waktu tes kursi lebih cepat juga menunjukkan peluang hidup yang lebih baik. Peningkatan performa sekitar enam detik dari kelompok paling lambat ke kelompok tercepat dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebesar 4 persen.

Temuan tersebut tetap konsisten bahkan setelah para peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain seperti tingkat aktivitas fisik, perilaku sedentari, kebugaran kardiovaskular, dan tingkat peradangan dalam tubuh. Para peneliti menggunakan data akselerometer untuk mengukur aktivitas harian peserta, kecepatan berjalan untuk menilai kebugaran jantung, serta kadar protein C-reaktif sebagai penanda peradangan yang berhubungan dengan penurunan massa otot dan kematian dini.

Penulis utama penelitian Michael LaMonte dari UB’s School of Public Health and Health Professions menjelaskan bahwa kekuatan otot menjadi fondasi penting bagi kemampuan tubuh untuk bergerak. Menurut Michael LaMonte, seseorang yang tidak memiliki cukup kekuatan untuk berdiri akan kesulitan melakukan aktivitas aerobik seperti berjalan, yang merupakan aktivitas fisik paling umum dilakukan kelompok usia lanjut di Amerika Serikat.

Michael LaMonte juga menilai bahwa penuaan sehat sebaiknya dicapai melalui kombinasi aktivitas aerobik dan latihan penguatan otot. Kekuatan otot memungkinkan tubuh bergerak melawan gravitasi dan mendukung mobilitas sehari-hari. Penurunan kemampuan untuk bangkit dari kursi dan bergerak dengan baik dipandang sebagai tanda menurunnya kondisi kesehatan secara serius.

Menurut Michael LaMonte, penelitian ini menjadi studi terbesar sejauh ini yang secara khusus meneliti hubungan antara kekuatan otot dan umur panjang pada perempuan di atas usia 60 tahun. Penelitian sebelumnya sering kali tidak memiliki pengukuran rinci mengenai aktivitas fisik, kebugaran kardiovaskular, maupun tingkat peradangan tubuh, sehingga peran kekuatan otot sulit dipisahkan dari faktor kesehatan lainnya.

Para peneliti juga menemukan bahwa ukuran tubuh bukan faktor utama yang menjelaskan hubungan antara kekuatan otot dan umur panjang. Bahkan setelah kekuatan otot disesuaikan dengan berat badan dan massa tubuh tanpa lemak, hubungan antara kekuatan tubuh dan rendahnya risiko kematian tetap terlihat signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan otot memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesehatan dan ketahanan tubuh.

Salah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah manfaat kekuatan otot tetap terlihat pada perempuan yang tidak memenuhi rekomendasi olahraga mingguan. Pedoman kesehatan saat ini merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu. Akan tetapi, perempuan dengan aktivitas fisik di bawah batas tersebut tetap menunjukkan risiko kematian lebih rendah apabila memiliki kekuatan otot yang lebih baik.

Michael LaMonte menilai bahwa hasil tersebut menjadi bukti kuat bahwa latihan penguatan otot perlu mendapat perhatian lebih besar dalam rekomendasi kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok usia lanjut. Michael LaMonte juga menyoroti bahwa perempuan berusia 80 tahun ke atas merupakan kelompok usia dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat, sehingga pemantauan dan pemeliharaan kekuatan otot akan menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin penting pada masa mendatang.

Penelitian ini juga menekankan bahwa latihan kekuatan tidak selalu memerlukan alat olahraga mahal atau latihan berat di pusat kebugaran. Para peneliti menjelaskan bahwa beban bebas, dumbbell, mesin beban, hingga latihan sederhana menggunakan berat tubuh sendiri seperti push-up modifikasi, dorongan dinding, dan tekukan lutut dapat membantu meningkatkan kekuatan otot.

Michael LaMonte menyebut bahwa benda rumah tangga sehari-hari juga dapat digunakan sebagai alat latihan resistensi. Kaleng makanan atau buku misalnya, dapat memberikan rangsangan pada otot rangka bagi individu yang tidak memiliki akses terhadap peralatan olahraga lain. Pendekatan sederhana tersebut dinilai dapat membantu lebih banyak lansia menjaga kekuatan tubuh tanpa memerlukan biaya besar.

Para peneliti menyarankan orang lanjut usia untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memulai program latihan kekuatan. Bagi individu yang belum terbiasa melakukan latihan resistensi, pendampingan dari fisioterapis atau spesialis olahraga juga dianggap penting guna memastikan keamanan dan perkembangan latihan yang sesuai dengan kondisi tubuh.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa kekuatan otot memiliki hubungan kuat dengan peluang hidup lebih panjang pada perempuan lanjut usia, bahkan setelah memperhitungkan aktivitas fisik, kebugaran jantung, dan peradangan tubuh. Tes sederhana seperti kekuatan genggaman tangan dan kemampuan berdiri dari kursi dapat menjadi indikator penting kesehatan tubuh dan risiko kematian di usia lanjut. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa menjaga kekuatan otot melalui latihan sederhana berpotensi menjadi bagian penting dalam strategi penuaan sehat di masa depan.

Diolah dari artikel:
“This simple strength test could predict how long you live” oleh University at Buffalo. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260510234722.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *