Sumber ilustrasi: Unsplash
1 Agustus 2026 12.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [01.08.2026] Kemampuan membuat alat merupakan salah satu tonggak terpenting dalam evolusi manusia. Selama puluhan tahun, para arkeolog menemukan berbagai perkakas batu yang menunjukkan bahwa manusia purba telah menguasai teknik pembentukan alat dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Pembuatan alat batu bukan satu-satunya bentuk teknologi yang mereka kuasai. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa manusia purba memanfaatkan tulang, tanduk, dan kayu sebagai bagian dari sistem teknologi yang lebih kompleks.
Di antara berbagai bahan tersebut, tulang gajah merupakan salah satu material yang sangat jarang ditemukan sebagai bahan pembuat alat di Eropa. Kelangkaan tersebut membuat para ilmuwan masih memiliki sedikit bukti mengenai kapan manusia purba mulai memanfaatkan tulang hewan berukuran besar sebagai alat khusus untuk mendukung pembuatan perkakas batu.
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dari University College London (UCL) dan Natural History Museum London berhasil mengidentifikasi sebuah palu yang dibuat dari tulang gajah dan diperkirakan berusia hampir 500.000 tahun. Penelitian yang dipublikasikan dalam Science Advances tersebut menjadikan artefak tersebut sebagai alat dari tulang gajah tertua yang pernah ditemukan di Eropa sekaligus memberikan bukti baru mengenai kemampuan berpikir, pemilihan material, dan kecanggihan teknologi manusia purba.
Artefak tersebut diperkirakan dibuat oleh Homo heidelbergensis atau Neanderthal awal yang hidup sekitar setengah juta tahun lalu.
Para peneliti menjelaskan bahwa benda tersebut bukan digunakan sebagai palu berat untuk memecahkan batu, melainkan sebagai palu lunak yang berfungsi memperbaiki dan mempertajam kembali kapak genggam serta berbagai alat batu setelah bagian tajamnya mulai aus.
Simon Parfitt dari UCL Institute of Archaeology sekaligus Scientific Associate di Natural History Museum menjelaskan bahwa penemuan tersebut memperlihatkan kecerdikan dan kemampuan manusia purba dalam memanfaatkan berbagai material yang tersedia di lingkungan sekitar. Simon Parfitt juga menilai bahwa tulang gajah merupakan sumber daya yang langka tetapi memiliki nilai yang tinggi karena sangat berguna dalam proses pembuatan alat.
Artefak tersebut memiliki bentuk menyerupai segitiga dengan panjang sekitar 11 sentimeter, lebar enam sentimeter, dan ketebalan sekitar tiga sentimeter.
Permukaan tulang memperlihatkan sejumlah bekas benturan dan modifikasi yang menunjukkan bahwa bentuk tersebut sengaja dibuat untuk digunakan sebagai alat, bukan terbentuk melalui proses alam.
Sebagian besar fragmen terdiri atas tulang kortikal, yaitu lapisan luar tulang yang memiliki struktur sangat padat dan kuat.
Ketebalan tulang menunjukkan bahwa artefak tersebut berasal dari seekor gajah atau mamut. Namun, bagian tulang yang masih tersisa tidak cukup lengkap untuk menentukan spesies maupun bagian kerangka tempat fragmen tersebut berasal.
Menariknya, fragmen tulang sebenarnya telah ditemukan ketika penggalian dilakukan pada awal 1990-an.
Pada saat itu para peneliti belum menyadari bahwa benda tersebut merupakan alat buatan manusia.
Fungsi sebenarnya baru diketahui setelah berbagai artefak dari lokasi yang sama diperiksa kembali menggunakan teknik analisis modern.
Untuk memastikan fungsi artefak, tim peneliti menggunakan teknologi pemindaian tiga dimensi dan mikroskop elektron.
Analisis tersebut memperlihatkan adanya lekukan, bekas benturan, serta pola kerusakan yang hanya dapat dihasilkan melalui penggunaan berulang sebagai alat pemukul.
Di dalam bekas benturan tersebut para peneliti juga menemukan serpihan-serpihan kecil batu rijang (flint) yang masih menempel.
Temuan tersebut menjadi bukti kuat bahwa tulang digunakan untuk memukul, membentuk ulang, serta mempertahankan ketajaman berbagai alat batu.
Menurut para peneliti, penggunaan tulang sebagai alat memiliki keuntungan tersendiri.
Karena tulang lebih lunak dibandingkan batu, pembuat alat dapat mengendalikan setiap pukulan dengan lebih baik sehingga sisi tajam alat batu dapat dibentuk tanpa mengalami kerusakan berlebihan.
Manusia purba diketahui menggunakan alat semacam ini untuk memperbaiki bagian tepi kapak genggam maupun alat pemotong yang dipakai dalam kegiatan memotong daging dan mengolah hewan.
Berdasarkan seluruh bukti yang ditemukan, para peneliti menyimpulkan bahwa artefak tersebut kemungkinan merupakan sebuah retoucher.
Retoucher merupakan alat yang digunakan untuk memukul bagian tepi alat batu sehingga serpihan-serpihan kecil terlepas dan bentuk serta ketajamannya kembali diperoleh.
Teknik pembentukan alat batu menggunakan metode tersebut dikenal sebagai knapping dan menjadi salah satu teknologi paling penting dalam kehidupan manusia purba.
Tulang gajah diperkirakan menjadi pilihan yang sangat baik untuk fungsi tersebut karena lapisan luarnya lebih keras dan lebih tahan terhadap benturan dibandingkan tulang banyak hewan lain yang tersedia di kawasan tersebut.
Penelitian juga menunjukkan bahwa gajah dan mamut bukan merupakan hewan yang umum ditemukan di Inggris bagian selatan pada masa itu.
Keputusan manusia purba untuk mengambil, menyimpan, dan kemudian membentuk tulang gajah menjadi alat menunjukkan adanya kemampuan memilih material berdasarkan kualitasnya.
Alih-alih membuang tulang tersebut setelah hewan mati, manusia purba tampaknya menyadari bahwa material tersebut memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan tulang biasa.
Penggunaan retoucher juga memperlihatkan bahwa teknologi manusia purba telah berkembang cukup maju.
Dengan bantuan alat tersebut, mereka mampu menghasilkan kapak genggam dan perkakas batu lain yang lebih simetris, lebih tajam, dan memiliki bentuk yang lebih terkontrol dibandingkan teknologi yang digunakan oleh sebagian kelompok manusia purba lainnya pada periode yang sama.
Silvia Bello dari Natural History Museum menjelaskan bahwa kemampuan mengumpulkan fragmen tulang gajah, membentuknya menjadi alat, dan kemudian menggunakannya berulang kali untuk mempertajam perkakas batu menunjukkan tingkat pemikiran yang kompleks serta kemampuan berpikir abstrak yang telah berkembang pada manusia purba. Silvia Bello juga menilai bahwa manusia purba memiliki pemahaman yang baik mengenai sifat berbagai material yang tersedia di lingkungan mereka.
Artefak tersebut ditemukan di Boxgrove, sebuah situs arkeologi di dekat Chichester, West Sussex, Inggris.
Situs Boxgrove telah lama dikenal sebagai salah satu situs prasejarah terpenting di Eropa karena menghasilkan berbagai perkakas dari batu rijang, tulang, dan tanduk.
Namun, sebelum penelitian ini belum pernah ditemukan alat yang dibuat dari tulang gajah di lokasi tersebut.
Para peneliti juga belum mengetahui apakah tulang tersebut berasal dari gajah yang diburu atau dari bangkai hewan yang telah mati sebelumnya.
Pola kerusakan pada artefak menunjukkan bahwa tulang kemungkinan masih dalam keadaan relatif segar ketika dibentuk menjadi alat.
Penemuan tersebut juga memiliki arti penting dalam sejarah teknologi manusia.
Alat dari tulang gajah memang pernah ditemukan di Ngarai Olduvai, Tanzania, dengan usia mencapai sekitar 1,5 juta tahun.
Akan tetapi, di Eropa penemuan alat serupa tergolong sangat langka.
Sebelum penelitian ini, tidak ada alat tulang gajah di Eropa yang diketahui memiliki usia lebih dari sekitar 450.000 tahun.
Sebagian besar temuan sebelumnya juga berasal dari wilayah Eropa bagian selatan yang memiliki iklim lebih hangat.
Artefak dari Boxgrove memperluas sejarah sekaligus wilayah penyebaran teknologi pemanfaatan tulang gajah di Eropa.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup di Inggris sekitar 500.000 tahun lalu telah mampu memilih material yang langka, mengubahnya menjadi alat khusus, serta menggunakannya berulang kali untuk menghasilkan dan merawat perkakas batu dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Penemuan palu dari tulang gajah berusia hampir 500.000 tahun memberikan bukti bahwa manusia purba telah memiliki kemampuan teknologi yang jauh lebih canggih daripada yang selama ini diperkirakan. Artefak tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mampu membuat perkakas batu, tetapi juga memahami karakter berbagai material, memilih tulang gajah karena sifatnya yang lebih unggul, serta menggunakannya sebagai alat khusus untuk mempertahankan kualitas perkakas. Temuan tersebut memperluas sejarah penggunaan tulang gajah sebagai teknologi di Eropa sekaligus memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kompleks, perencanaan, dan inovasi telah berkembang pada manusia purba jauh sebelum kemunculan Homo sapiens modern.
Diolah dari artikel:
“500,000-year-old elephant bone hammer shows ancient humans were master toolmakers” oleh University College London. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260726015301.htm