Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
22 Agustus 2026 16.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [22.08.2026] Fosil biasanya mempertahankan bagian tubuh yang paling keras, seperti tulang, gigi, cangkang, atau lempeng kerangka. Jaringan lunak seperti kulit, mata, organ dalam, dan struktur halus lainnya jauh lebih cepat membusuk setelah kematian. Karena itu, setiap fosil yang masih mempertahankan jaringan lunak dapat memberikan informasi yang biasanya hilang dari catatan geologi.
Sebuah temuan dari University of Oklahoma memperlihatkan kasus yang sangat langka tersebut. Para paleontolog menemukan jaringan lunak terawetkan pada fosil crinoid berusia lebih dari 450 juta tahun. Usia tersebut menempatkan fosil jauh sebelum munculnya dinosaurus dan sebelum kehidupan hewan serta tumbuhan menyebar luas di daratan.
Crinoid merupakan kerabat purba bintang laut yang telah hidup sejak masa awal perkembangan ekosistem laut kompleks. Bentuknya menyerupai bunga yang tumbuh di atas tangkai di dasar laut, dan kelompok tersebut termasuk salah satu penghuni penting terumbu purba.
Fosil crinoid selama ini menjadi sumber penting untuk memahami evolusi hewan laut awal. Akan tetapi, pengetahuan tersebut sebagian besar berasal dari struktur keras karena bagian lunak tubuh hampir selalu hilang selama proses fosilisasi.
Dr. Lena Cole, paleontolog University of Oklahoma sekaligus asisten kurator paleontologi invertebrata di Sam Noble Oklahoma Museum of Natural History, menjelaskan bahwa jaringan lunak biasanya menjadi bagian pertama yang membusuk setelah hewan mati. Menurut Cole, pengawetan jaringan lunak membutuhkan kondisi lingkungan yang sangat tidak biasa, hampir seperti lemari pendingin alami atau sistem penyegel vakum.
Spesimen yang diteliti berasal dari spesies Dendrocrinus simcoensis. Fosil tersebut mempertahankan kaki tabung, struktur tubuh yang sangat halus dan hampir tidak pernah bertahan dalam proses fosilisasi.
Kelangkaan temuan tersebut terlihat dari catatan fosil crinoid yang ada. Jutaan fosil crinoid telah ditemukan, tetapi hanya dua spesimen yang diketahui masih mempertahankan jaringan lunak.
Fosil Dendrocrinus simcoensis tersebut juga menjadi contoh jaringan lunak crinoid tertua yang sejauh ini pernah ditemukan. Umurnya lebih dari 450 juta tahun, atau lebih dari 200 juta tahun lebih tua dibandingkan dinosaurus paling awal.
Dr. David Wright, paleontolog University of Oklahoma dan asisten kurator paleontologi invertebrata di Sam Noble Oklahoma Museum of Natural History, menilai keberlangsungan jaringan lunak tersebut selama ratusan juta tahun sebagai sesuatu yang sangat luar biasa.
Nilai ilmiah terbesar dari spesimen tersebut terletak pada kaki tabungnya. Pada crinoid, struktur tersebut berperan dalam memperoleh makanan, merespons arus air, dan menempati relung ekologis tertentu.
Bentuk, ukuran, serta jarak antar kaki tabung dapat berbeda bergantung pada lingkungan dan cara makan masing-masing spesies. Karena itu, struktur tersebut dapat memberikan informasi tentang gaya hidup hewan purba.
Wright menjelaskan bahwa kaki tabung crinoid dapat dipahami secara analog dengan gigi mamalia. Seperti bentuk gigi yang dapat menunjukkan jenis makanan mamalia, variasi kaki tabung dapat membantu menjelaskan lingkungan hidup dan strategi makan crinoid.
Para peneliti kemudian membandingkan jaringan lunak fosil dengan struktur yang ditemukan pada crinoid modern. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa anatomi spesies purba sangat berbeda dibandingkan kerabatnya yang masih hidup saat ini.
Cole menjelaskan bahwa perbedaan tersebut memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana crinoid berevolusi. Perubahan bentuk kaki tabung juga menunjukkan bahwa strategi makan kelompok tersebut kemungkinan telah mengalami perubahan besar selama ratusan juta tahun.
Temuan tersebut memperluas pemahaman tentang ekologi lautan Paleozoikum awal. Pada periode tersebut, crinoid hidup bersama berbagai kelompok hewan awal lain yang berkembang di lingkungan terumbu.
Fosil jaringan lunak menjadi sangat penting karena dapat menunjukkan karakteristik yang tidak terlihat dari lempeng kerangka saja. Struktur tersebut memungkinkan para ilmuwan merekonstruksi fungsi tubuh dan perilaku dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi.
Wright menjelaskan bahwa spesies yang telah punah dapat memiliki karakteristik yang berada jauh di luar rentang variasi yang ditemukan pada organisme modern. Karena itu, membandingkan spesies purba dan modern dapat menunjukkan bagaimana pola adaptasi berubah dari waktu ke waktu.
Perbandingan tersebut juga membantu menjelaskan faktor-faktor yang akhirnya membentuk biosfer modern. Dengan melihat perubahan fungsi makan, bentuk tubuh, dan relung ekologis, para ilmuwan dapat menelusuri bagaimana tekanan lingkungan mendorong evolusi kelompok hewan laut.
Jaringan lunak pada echinodermata purba, kelompok yang mencakup crinoid dan bintang laut, sangat jarang ditemukan. Setiap spesimen baru karena itu memiliki potensi untuk secara signifikan memperluas pengetahuan mengenai ekosistem laut awal.
Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa penemuan besar dalam paleontologi tidak selalu datang dari ekspedisi baru. Banyak informasi penting justru tersimpan dalam koleksi museum selama bertahun-tahun sebelum arti sebenarnya diketahui.
Fosil Dendrocrinus simcoensis tersebut telah lama disimpan di Musée de paléontologie et de l’évolution di Montréal. Museum kecil tersebut beroperasi dengan dukungan donasi masyarakat.
Nilai ilmiah spesimen baru menjadi jelas ketika Cole dan Wright, yang memiliki keahlian khusus dalam crinoid, memeriksanya secara lebih rinci dalam sebuah kunjungan penelitian.
Wright menjelaskan bahwa museum memiliki peran besar dalam penelitian semacam ini karena arti penting suatu fosil tidak selalu diketahui ketika pertama kali ditemukan. Teknologi, gagasan, dan keahlian baru dapat membuka informasi yang sebelumnya tidak dikenali dari spesimen lama.
Cole juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat terhadap koleksi museum. Tanpa orang-orang yang menjaga, merawat, dan mempertahankan koleksi selama bertahun-tahun, spesimen penting dapat hilang sebelum sempat dipelajari dengan metode baru.
Koleksi paleontologi invertebrata di Oklahoma Museum of Natural History yang dikelola Cole dan Wright sendiri berisi lebih dari satu juta spesimen. Jumlah tersebut terus bertambah setiap tahun seiring masuknya fosil baru.
Skala koleksi yang sangat besar berarti banyak spesimen berpotensi menyimpan informasi yang belum dikenali. Sebuah fosil dapat tersimpan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun sebelum seseorang dengan keahlian tertentu menyadari keunikannya.
Wright menjelaskan bahwa alasan tersebut menjadi dasar penting untuk membuat koleksi museum dapat diakses oleh peneliti dari berbagai tempat. Jumlah fosil terlalu banyak untuk dipelajari hanya oleh satu orang selama seluruh kariernya.
Temuan fosil Dendrocrinus simcoensis berusia lebih dari 450 juta tahun menunjukkan betapa langkanya pengawetan jaringan lunak dalam catatan fosil dan betapa besar nilai ilmiah yang dapat diperoleh ketika struktur tersebut bertahan. Kaki tabung yang terawetkan memberikan informasi baru mengenai cara crinoid purba makan, berinteraksi dengan lingkungan, serta berevolusi, sekaligus menegaskan bahwa koleksi museum dapat menyimpan penemuan penting yang baru dikenali setelah bertahun-tahun.
Diolah dari artikel:
““One-in-a-million” sea creature fossil preserves soft tissue for 450 million years” oleh University of Oklahoma. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260820002450.htm