Risiko Osteoartritis Lutut Bisa Dikurangi dengan Perubahan Sederhana?

Sumber ilustrasi: Pixabay
22 Agustus 2026 17.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [22.08.2026] Nyeri lutut menjadi salah satu masalah yang semakin umum seiring bertambahnya usia. Penyebabnya dapat beragam, mulai dari cedera hingga berbagai gangguan pada persendian. Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan adalah osteoartritis lutut, kondisi ketika tulang rawan yang melindungi permukaan tulang di dalam sendi secara perlahan mengalami kerusakan.

Dalam kondisi sehat, tulang rawan berfungsi sebagai bantalan yang memungkinkan tulang-tulang pada lutut bergerak dengan lancar sekaligus mengurangi gesekan. Ketika lapisan tersebut semakin menipis, perlindungan terhadap tulang berkurang dan seseorang dapat mulai mengalami rasa sakit, kekakuan, serta kesulitan bergerak yang dapat memburuk dari waktu ke waktu.

Dr. Abby Cheng, ahli bedah ortopedi di Washington University School of Medicine in St. Louis yang juga berspesialisasi dalam fisiatri atau pengobatan serta rehabilitasi nonbedah, menjelaskan bahwa osteoartritis dapat menyebabkan nyeri dan kekakuan pada lutut. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada persendian, tetapi juga dapat menurunkan tingkat aktivitas, meningkatkan risiko terjatuh, memengaruhi suasana hati, dan menurunkan kualitas hidup seseorang secara umum.

Dampak osteoartritis lutut juga dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas. Kesulitan bergerak dapat menyebabkan seseorang tidak dapat bekerja seperti biasanya dan pada akhirnya berpotensi kehilangan pendapatan. Ketika rasa sakit membuat seseorang mengurangi aktivitas fisik, risiko berbagai penyakit kronis lain juga dapat meningkat.

Kurangnya aktivitas fisik diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Karena itu, osteoartritis lutut bukan hanya persoalan mengenai rasa sakit pada satu sendi, tetapi dapat memengaruhi kesehatan seseorang melalui perubahan aktivitas dan mobilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Osteoartritis sendiri merupakan kondisi yang sangat umum. Lebih dari 30 juta orang dewasa di Amerika Serikat mengalami suatu bentuk osteoartritis, dan lutut merupakan sendi yang paling sering terkena. Meskipun kondisi tersebut sering diasosiasikan dengan usia lanjut, sekitar separuh kasus justru terjadi pada orang yang masih berada dalam usia kerja.

Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami osteoartritis lutut. Cheng menjelaskan bahwa kelemahan otot kaki serta kelebihan berat badan atau obesitas merupakan dua faktor yang meningkatkan risiko tersebut. Perempuan, kelompok usia lanjut, orang yang pernah mengalami cedera lutut, serta mereka yang memiliki riwayat osteoartritis dalam keluarga juga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kondisi yang sama.

Namun demikian, keberadaan faktor risiko tidak berarti perkembangan osteoartritis sama sekali berada di luar kendali seseorang. Bagi orang yang sudah mengalami osteoartritis, terdapat sejumlah langkah yang dapat digunakan untuk membantu mengendalikan rasa sakit, mempertahankan mobilitas, serta berpotensi memperlambat memburuknya kondisi.

Perubahan pola makan menjadi salah satu pendekatan yang dapat dilakukan. Cheng menjelaskan bahwa mengonsumsi lebih banyak makanan berbasis tumbuhan sekaligus mengurangi makanan olahan dan makanan tinggi gula dapat membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh. Penurunan peradangan tersebut pada akhirnya dapat membantu mengurangi nyeri akibat osteoartritis pada berbagai sendi.

Pola makan yang dianjurkan tidak berdiri sendiri sebagai satu-satunya bentuk penanganan. Beberapa pengobatan lain yang umum digunakan untuk osteoartritis lutut mencakup latihan penguatan otot paha, penggunaan penyangga lutut, obat antiinflamasi, suntikan kortison maupun jenis suntikan lainnya, hingga operasi penggantian lutut pada kondisi tertentu.

Penguatan otot paha memiliki peran penting karena otot di sekitar lutut membantu menopang sendi ketika seseorang berdiri, berjalan, atau melakukan berbagai aktivitas. Otot yang lebih kuat dapat membantu mengurangi sebagian beban yang harus ditanggung oleh struktur sendi yang mengalami osteoartritis.

Penanganan juga dapat disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Penyedia layanan kesehatan dapat bekerja bersama pasien untuk menentukan kombinasi strategi yang paling sesuai serta menghubungkan pasien dengan program atau sumber daya yang membantu memulai dan mempertahankan perubahan gaya hidup dalam jangka panjang.

Salah satu perubahan yang dapat memberikan dampak besar adalah penurunan berat badan pada orang yang mengalami kelebihan berat badan. Cheng menjelaskan bahwa penurunan berat badan sebesar 10 pon atau sekitar 4,5 kilogram dapat mengurangi tekanan pada lutut sekitar 40 pon atau sekitar 18 kilogram pada setiap langkah.

Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan berat badan yang relatif kecil dapat menghasilkan pengurangan beban mekanis yang jauh lebih besar pada sendi lutut. Ketika seseorang berjalan ribuan langkah setiap hari, berkurangnya tekanan pada setiap langkah dapat memberikan dampak berarti terhadap rasa sakit dan beban yang terus diterima persendian.

Strategi yang digunakan untuk mengendalikan osteoartritis juga dapat membantu mengurangi peluang seseorang untuk mengalaminya sejak awal. Aktivitas fisik teratur menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan tersebut karena dapat memperkuat otot, membantu menjaga fungsi sendi, dan mendukung pengendalian berat badan.

Anggapan bahwa berlari selalu merusak lutut juga tidak sepenuhnya sesuai dengan pesan yang disampaikan dalam artikel tersebut. Berlari dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif yang ditujukan untuk membantu menurunkan risiko osteoartritis, sementara mempertahankan berat badan yang sehat dapat mengurangi tekanan berlebihan pada sendi.

Pola makan juga dapat mendukung strategi pencegahan. Pola konsumsi yang kaya biji-bijian utuh, buah-buahan, serta sayuran dan membatasi makanan olahan maupun makanan yang telah mengalami pemurnian dapat mendukung kesehatan tubuh secara umum sekaligus berpotensi membantu melindungi sendi dari perkembangan osteoartritis.

Hubungan antara gaya hidup dan osteoartritis menjadi penting karena kondisi tersebut sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari proses penuaan. Kenyataannya, usia memang merupakan salah satu faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah seseorang akan mengalami penyakit tersebut atau seberapa berat kondisinya berkembang.

Riwayat keluarga juga sering membuat seseorang menganggap osteoartritis sebagai sesuatu yang tidak mungkin dicegah. Cheng menjelaskan bahwa sebagian orang mengira apabila orang tua atau kakek-nenek mengalami osteoartritis, maka mereka pasti akan mengalami kondisi yang sama.

Osteoartritis memang dapat muncul dalam keluarga, sehingga faktor genetik tetap memiliki peran. Namun menurut Cheng, keberadaan riwayat keluarga tidak berarti seseorang tidak dapat melakukan sesuatu untuk menurunkan risiko. Aktivitas fisik, kekuatan otot, berat badan, dan pola makan tetap menjadi beberapa faktor yang dapat dipengaruhi melalui kebiasaan sehari-hari.

Perspektif tersebut menempatkan osteoartritis sebagai kondisi yang dipengaruhi oleh perpaduan antara faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang masih dapat dimodifikasi. Usia, jenis kelamin, riwayat cedera, dan faktor keluarga mungkin tidak dapat dihapus, tetapi kondisi otot, berat badan, pola aktivitas, serta pola makan masih dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan maupun pengelolaan.

Osteoartritis berbeda dari penyakit seperti kanker dan penyakit jantung, tetapi dampaknya terhadap kesehatan, kesejahteraan, produktivitas, dan kualitas hidup tetap dapat sangat besar. Karena jutaan orang hidup dengan kondisi tersebut, upaya mempertahankan mobilitas dan mengurangi rasa sakit menjadi bagian penting dari kesehatan jangka panjang.

Osteoartritis lutut bukan kondisi yang perkembangannya sepenuhnya berada di luar kendali. Kerusakan tulang rawan memang dapat dipengaruhi oleh usia, riwayat keluarga, jenis kelamin, dan cedera sebelumnya, tetapi kekuatan otot kaki, berat badan, pola aktivitas, serta pola makan juga berperan terhadap risiko dan gejalanya. Aktivitas fisik teratur, penguatan otot paha, menjaga berat badan sehat, serta mengonsumsi lebih banyak makanan berbasis tumbuhan dan lebih sedikit makanan olahan dapat membantu mengurangi beban pada lutut dan mengendalikan rasa sakit, sementara terapi medis tetap tersedia ketika diperlukan.

Diolah dari artikel:
“Knee osteoarthritis isn’t inevitable — here’s what you can do” oleh Siteman Cancer Center. Original written by Dr. Graham A. Colditz. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260820002420.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *