Sumber ilustrasi: Unsplash
7 September 2026 10.40 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.09.2026] Ketika kita membayangkan atau mendengar akan kebakaran hutan, yang terbayang adalah kobaran api yang bergerak cepat melintasi pepohonan dan vegetasi. Akan tetapi di wilayah gambut tropis, kebakaran dapat berlangsung dengan cara yang jauh lebih tersembunyi dan berbahaya. Api dapat masuk ke dalam lapisan tanah gambut yang mengering, kemudian terus membara di bawah permukaan pada suhu relatif rendah tanpa menghasilkan kobaran besar yang mudah terlihat.
Indonesia menghadapi risiko tersebut karena memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Dalam kondisi normal, kawasan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua menyimpan begitu banyak air sehingga sulit terbakar. Ketika kekeringan berkepanjangan menurunkan kadar air, lapisan gambut yang kaya material organik dapat berubah menjadi bahan bakar dalam jumlah sangat besar.
Kebakaran jenis ini menjadi perhatian bukan hanya karena sulit dipadamkan, tetapi juga karena tingkat pencemarannya sangat tinggi. Salah satu perkiraan menunjukkan bahwa kebakaran gambut dapat menghasilkan materi partikulat halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya, sulfur dioksida lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta metana dan karbon monoksida sekitar dua kali lebih banyak.
Musim kebakaran Indonesia tahun 2026 mulai menunjukkan peningkatan aktivitas ketika instrumen MODIS atau Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer di satelit Aqua milik NASA merekam wilayah Indonesia pada 1 September 2026. Citra tersebut memperlihatkan berbagai titik panas yang menandai lokasi dengan anomali termal yang berkaitan dengan kebakaran.
Dalam peta pemantauan tersebut, setiap titik merah mewakili satu deteksi kebakaran oleh sensor satelit dan algoritma pengolah data. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi karena api dapat mencakup area yang luas atau terdeteksi berkali-kali ketika satelit melintas.
Masalah kebakaran gambut telah berulang di Indonesia selama beberapa dekade. Pada periode kekeringan parah, lahan basah yang seharusnya menyimpan air dapat mengering cukup dalam sehingga api masuk ke lapisan gambut. Kebakaran kemudian mampu bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sambil menghasilkan asap yang menyelimuti kawasan luas dan mengganggu kehidupan jutaan orang.
Salah satu faktor iklim utama yang memperbesar risiko tersebut adalah El Niño. Sejumlah musim kebakaran paling parah di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir terjadi ketika El Niño berlangsung, termasuk krisis besar pada 1997 dan 2015.
Pada Agustus 2026, NOAA menilai El Niño telah terbentuk dan terus menguat. Pola iklim tersebut umumnya mengurangi curah hujan di Indonesia dan membuat musim kemarau menjadi lebih kering, terutama di wilayah yang memang rentan terhadap kebakaran.
Kondisi pengeringan juga dapat menjadi lebih kuat ketika El Niño berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole. Pada 2026, kedua pola tersebut terjadi secara bersamaan, menciptakan kondisi yang semakin mendukung pengeringan vegetasi dan lapisan gambut.
Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, menjelaskan bahwa aktivitas kebakaran meningkat tajam meskipun Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran. Menurut Field, pola peningkatan tersebut mulai menyerupai perkembangan yang terlihat pada 2015.
Field menambahkan bahwa El Niño kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah-wilayah yang rawan terbakar. Kondisi tersebut memperburuk pembakaran sebagaimana sebelumnya diperkirakan melalui pemodelan cuaca kebakaran.
Perbandingan dengan 2015 penting karena skala krisis pada tahun tersebut sangat besar. Setelah lebih dari tiga bulan kebakaran, emisi dari Indonesia diperkirakan mencapai setara 1,75 miliar ton gas rumah kaca, jumlah yang lebih besar daripada total emisi tahunan Jepang.
Pada 2 September 2026, kebakaran telah berlangsung sekitar satu bulan dan diperkirakan sudah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari total yang dilepaskan selama krisis 2015. Angka tersebut menunjukkan bahwa musim kebakaran masih berada pada tahap relatif awal ketika tingkat emisi sudah mulai meningkat.
Kondisi cuaca juga menunjukkan kemiripan dengan 2015. Data badan meteorologi Indonesia memperlihatkan bahwa sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit atau bahkan tidak menerima hujan pada awal Agustus 2026.
Ketika gambut kehilangan cukup banyak air, kebakaran tidak lagi hanya berlangsung di permukaan. Api dapat menembus ke bawah tanah dan bergerak melalui lapisan gambut yang terbentuk dari material tumbuhan yang terakumulasi selama waktu sangat panjang.
Field menjelaskan bahwa kebakaran permukaan relatif lebih mudah dihadapi dibandingkan api yang sudah masuk ke lapisan gambut. Ketika pembakaran berlangsung di bawah tanah, api dapat terus bertahan hingga hujan dalam jumlah cukup besar datang kembali, yang biasanya terjadi sekitar Oktober atau November.
Kemampuan kebakaran gambut bertahan lama berkaitan dengan sifat materialnya. Gambut menyimpan karbon dalam konsentrasi tinggi dan ketika kering dapat terus membara tanpa membutuhkan nyala api terbuka yang besar. Bagian permukaan bahkan dapat tampak relatif tenang sementara pembakaran masih berlangsung beberapa sentimeter atau lebih di bawah tanah.
Pemantauan kebakaran di Indonesia banyak mengandalkan data dari satelit NASA dan NOAA. MODIS dan VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan untuk mengikuti perkembangan kebakaran aktif hampir secara waktu nyata.
Kementerian Kehutanan Indonesia juga menggunakan data MODIS dan VIIRS melalui platform pemantauan SiPongi. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026, memberikan gambaran mengenai luasnya aktivitas termal yang terdeteksi di berbagai wilayah.
Namun kemampuan satelit untuk melihat kebakaran memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat kesulitan mendeteksi api yang tertutup awan, tertutup asap sangat tebal, berada di bawah tajuk hutan, atau membara di dalam tanah gambut.
Dalam kondisi tertentu, semakin buruk kebakaran justru semakin sulit kebakaran tersebut terdeteksi dari luar angkasa. Asap yang sangat pekat dapat menghalangi pandangan sensor sehingga jumlah titik panas yang tercatat satelit dapat menurun meskipun kondisi di permukaan semakin parah.
Mark Cochrane, ekolog dari University of Maryland Center for Environmental Science yang telah melakukan penelitian lapangan tentang kebakaran gambut Indonesia selama hampir satu dekade, menjelaskan bahwa peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kejadian yang paling sulit dipantau menggunakan MODIS dan VIIRS.
Kerentanan Indonesia terhadap kebakaran gambut juga tidak hanya berasal dari kondisi iklim. Perubahan lanskap selama beberapa dekade terakhir telah membuat sebagian kawasan gambut jauh lebih mudah mengering dan terbakar.
Menurut Cochrane, pembangunan jaringan kanal irigasi dan pengeringan rawa gambut pada 1990-an, termasuk dalam proyek untuk menciptakan pertanian padi berskala sangat besar, menurunkan muka air tanah di berbagai kawasan lahan basah. Ketika permukaan air turun, gambut yang sebelumnya selalu jenuh air menjadi lebih sering mengalami pengeringan.
Perkebunan kelapa sawit dan berbagai bentuk kehutanan perkebunan juga tersebar luas di kawasan tersebut. Perubahan tata air dan penggunaan lahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan gambut mempertahankan kelembapan selama musim kemarau.
Setelah musim kebakaran 2015 yang sangat parah, pemerintah dan berbagai organisasi melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi risiko terulangnya krisis serupa. Langkah-langkah tersebut mencakup penutupan kanal untuk membantu membasahi kembali lahan gambut, peningkatan kemampuan pemadaman, serta penguatan pencegahan terhadap penyalaan api oleh manusia.
Shi Jun Wee, mahasiswa pascasarjana University of Maryland, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian penting terhadap berbagai kebijakan dan tindakan pemulihan yang telah diterapkan sejak 2015. Tingkat kekeringan yang tinggi memberikan kesempatan untuk melihat sejauh mana langkah-langkah tersebut mampu menahan peningkatan kebakaran.
Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode pemantauan yang lebih sensitif terhadap kebakaran bawah tajuk. Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2 untuk mendeteksi kebakaran yang mungkin tidak terlihat oleh MODIS dan VIIRS.
Selama musim kebakaran berlangsung, Wee berencana memantau kondisi melalui sejumlah sistem, termasuk Worldview data browser milik NASA, FIRMS atau Fire Information for Resource Management System, HLS atau Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta GFED atau Global Fire Emissions Database.
Dampak kebakaran tidak hanya terlihat melalui angka emisi maupun citra satelit. Masyarakat Indonesia dan negara-negara tetangga mulai menghadapi peningkatan paparan asap berbahaya yang dapat memengaruhi kesehatan, mobilitas, pendidikan, dan aktivitas sehari-hari.
Pejabat Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk berpotensi terpapar kualitas udara yang berbahaya. Laporan media juga menyebutkan beberapa sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional ditutup, dan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.
Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran gambut biasanya meningkat ketika krisis besar berlangsung bersamaan dengan El Niño, tetapi kemudian berkurang ketika hujan kembali dan asap menghilang. Menurut Cochrane, penyelesaian persoalan membutuhkan perhatian yang terus-menerus bahkan pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak terlalu parah karena volume emisi dari kebakaran gambut tetap sangat besar.
Kebakaran gambut Indonesia merupakan kombinasi antara kondisi iklim, struktur lahan basah, perubahan tata air, dan penggunaan lahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Kekeringan akibat El Niño dapat mengubah gambut yang biasanya basah menjadi bahan bakar bawah tanah yang mampu membara selama berbulan-bulan, menghasilkan polusi jauh lebih besar daripada kebakaran hutan biasa, dan bahkan menjadi sulit dilihat oleh satelit ketika asap semakin tebal. Musim kebakaran 2026 karena itu bukan hanya menjadi ancaman kesehatan dan lingkungan, tetapi juga ujian penting terhadap berbagai upaya pemulihan gambut dan perlindungan kebakaran yang diterapkan setelah krisis 2015.
Diolah dari artikel:
“Indonesia’s most dangerous fires are burning underground” oleh NASA Earth Observatory. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/09/260904000318.htm