Kebakaran Hutan di Eropa Menjadi Begitu Dahsyat hingga Menciptakan Awan Badai Sendiri?

Sumber ilustrasi: Unsplash
6 Agustus 2026 10.10 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [06.08.2026] Kebakaran hutan merupakan peristiwa yang hampir selalu terjadi di berbagai wilayah Eropa setiap musim panas. Kebakaran yang melanda Spanyol dan Prancis pada Juli 2026 berkembang dalam skala yang jauh lebih merusak dibandingkan banyak peristiwa sebelumnya. Luas wilayah yang terbakar, jumlah penduduk yang harus mengungsi, serta terbentuknya awan api menunjukkan bahwa kebakaran tersebut telah mencapai tingkat ekstrem.

Beberapa kebakaran terparah muncul di Departemen Gironde di Prancis barat daya serta di Provinsi Ávila dan Madrid di Spanyol pada pertengahan Juli. Kobaran api memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah dan menghancurkan ratusan bangunan di berbagai kawasan yang terdampak.

Pejabat Spanyol melaporkan bahwa kebakaran di Ávila menghanguskan sekitar 50.000 hektare atau 124.000 acre. Luas tersebut menjadikannya kebakaran hutan terbesar yang pernah tercatat di Spanyol dan melampaui kebakaran pada 2025 yang berdampak terhadap Larouco, Quiroga, dan Oencia.

Satelit NASA pertama kali mendeteksi tanda-tanda kebakaran di dekat Burgohondo pada 22 dan 23 Juli. Hanya dalam waktu beberapa hari, kobaran api berkembang dan bergabung dengan kebakaran lain yang berlangsung di provinsi-provinsi terdekat.

Pada 24 Juli, gabungan kebakaran tersebut telah menghanguskan sekitar 77.000 hektare. Luas wilayah itu kira-kira setara dengan Kota New York dan memperlihatkan betapa cepatnya api bergerak melintasi bentang alam yang telah mengering.

Citra Landsat 9 yang diambil pada 29 Juli 2026 memperlihatkan kerusakan besar di sekitar Burgohondo. Dalam citra warna semu tersebut, vegetasi yang masih sehat tampak berwarna hijau muda, sedangkan wilayah yang telah terbakar terlihat berwarna cokelat.

Dua waduk yang berada di dekat bagian tengah citra termasuk kawasan yang mengalami kerusakan paling berat. Menurut berbagai laporan berita, api menghancurkan rumah, restoran, area perkemahan, marina, serta fasilitas lain yang berada di sekitar waduk.

Krisis serupa juga berkembang di sebelah barat Bordeaux, Prancis barat daya. Salah satu kebakaran terbesar yang dialami Prancis selama dekade ini membakar lebih dari 42.000 hektare dan memaksa penduduk melakukan evakuasi dalam skala luas.

Kebakaran tersebut juga menghancurkan Desa Le Porge. Pada akhir Juli, luas wilayah yang terbakar di seluruh Prancis telah melampaui 90.000 hektare.

Data dari European Forest Fire Information System menunjukkan bahwa luas kawasan yang hilang akibat kebakaran tersebut merupakan yang terbesar di Prancis dalam beberapa dekade. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran 2026 bukan hanya peristiwa lokal, tetapi bagian dari krisis kebakaran yang lebih luas.

Menurut analisis para peneliti dari The State of Wildfires Project, kondisi berbahaya sebenarnya mulai terbentuk beberapa bulan sebelum kebakaran terjadi. Musim dingin yang luar biasa basah mendorong pertumbuhan vegetasi dalam jumlah besar di padang rumput, semak belukar, dan lapisan bawah hutan.

Pertumbuhan tersebut pada awalnya mungkin terlihat menguntungkan bagi lingkungan. Namun, rangkaian gelombang panas dan kekeringan berikutnya mengeringkan vegetasi yang telah tumbuh subur sehingga mengubahnya menjadi bahan bakar dalam jumlah sangat besar.

Beberapa hari dengan angin kencang kemudian melengkapi rangkaian kondisi tersebut. Kecepatan angin pada waktu tertentu mencapai sekitar 65 kilometer per jam, sehingga kobaran api dapat menyebar dengan cepat dari satu kawasan ke kawasan lain.

Kombinasi vegetasi yang melimpah, panas ekstrem, kekeringan, dan angin kencang membuat bentang alam menjadi sangat mudah terbakar. Api tidak hanya bergerak di permukaan tanah, tetapi juga memperoleh energi cukup besar untuk memengaruhi atmosfer di atasnya.

Pada 25 Juli, kebakaran di Prancis barat daya menjadi begitu intens sehingga petugas pemadam melaporkan terbentuknya pyrocumulonimbus. Fenomena tersebut merupakan awan api menjulang tinggi yang memperoleh energi konvektif dari panas kebakaran.

Pyrocumulonimbus terbentuk ketika panas dari kebakaran mendorong udara, asap, dan uap air naik dengan sangat kuat ke atmosfer. Proses tersebut dapat menghasilkan awan besar menyerupai badai yang berkembang langsung dari kobaran api.

Tim internasional yang terdiri atas ilmuwan atmosfer dan pakar kebakaran hutan telah memantau kejadian pyrocumulonimbus selama beberapa dekade terakhir. Beberapa peristiwa sebelumnya tercatat di Spanyol dan Portugal.

Para anggota kelompok pemantau tersebut menyatakan bahwa kejadian pada Juli 2026 merupakan kasus pertama yang dilaporkan mengenai kebakaran hutan yang menghasilkan pyrocumulonimbus di Prancis. Kemunculan awan tersebut menunjukkan bahwa intensitas kebakaran telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Ribuan petugas pemadam kebakaran dan personel militer dikerahkan di Spanyol dan Prancis. Pesawat menjatuhkan air serta bahan penghambat api dari udara, sedangkan tim darat membangun sekat bakar untuk memperlambat penyebaran api.

Pembuatan sekat bakar dilakukan menggunakan berbagai peralatan, mulai dari buldoser hingga perkakas tangan. Upaya tersebut bertujuan menghilangkan vegetasi yang dapat menjadi jalur bagi kobaran api untuk terus bergerak.

Pada akhir Juli, petugas pemadam mulai memperoleh kendali yang cukup besar terhadap beberapa kebakaran. Pihak berwenang kemudian dapat mencabut sebagian perintah evakuasi dan mengizinkan sejumlah penduduk kembali ke wilayahnya.

Meskipun demikian, para prakirawan memperingatkan bahwa risiko kebakaran masih tetap tinggi. Kondisi panas dan kering diperkirakan terus berlangsung sehingga wilayah yang belum terbakar masih berpotensi menjadi bahan bakar baru.

Pemantauan satelit pemerintah menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran tersebut. Data dari satelit membantu pihak berwenang mengikuti perkembangan api, mengukur luas wilayah terdampak, dan memahami pola kebakaran dalam jangka panjang.

NASA menyediakan beberapa perangkat untuk memantau kebakaran aktif, termasuk FIRMS atau Fire Information for Resource Management System serta peramban Worldview. Sistem tersebut memungkinkan aktivitas kebakaran dipantau hampir secara waktu nyata dari berbagai wilayah di dunia.

Kebakaran di Spanyol dan Prancis menunjukkan bagaimana kondisi cuaca yang terbentuk selama berbulan-bulan dapat menciptakan bencana dalam waktu singkat. Musim dingin basah menghasilkan banyak vegetasi, sedangkan gelombang panas dan kekeringan kemudian mengubahnya menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

Kebakaran hutan di Eropa Barat pada Juli 2026 menghanguskan puluhan ribu hektare di Spanyol dan Prancis, memaksa evakuasi besar-besaran, serta menghancurkan berbagai kawasan permukiman dan fasilitas publik. Kombinasi pertumbuhan vegetasi yang subur, panas ekstrem, kekeringan, dan angin kencang mempercepat penyebaran api hingga salah satu kebakaran di Prancis menghasilkan pyrocumulonimbus, sebuah awan api langka yang menyerupai badai. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dapat berkembang bukan hanya sebagai bencana di permukaan, tetapi juga sebagai kekuatan yang mampu mengubah kondisi atmosfer di atasnya.

Diolah dari artikel:
“Europe’s wildfires became so intense they created their own storm” oleh NASA Earth Observatory. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260804034631.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *