Sumber ilustrasi: Magnific
18 September 2026 09.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.09.2026] Venus dan Bumi sering dipandang sebagai planet kembar karena memiliki ukuran, massa, dan struktur yang relatif serupa. Akan tetapi terdapat satu perbedaan mencolok di antara keduanya. Bumi memiliki Bulan yang besar, sementara Venus tidak memiliki satelit alami sama sekali.
Ketiadaan bulan di Venus telah lama menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan. Salah satu penjelasan menyebut Venus mungkin pernah memiliki bulan yang kemudian dihancurkan oleh tumbukan besar. Penjelasan lain menyatakan planet tersebut mungkin tidak pernah mengalami tumbukan yang dapat membentuk bulan sejak awal.
Penelitian terbaru dari University of California, Riverside menawarkan kemungkinan berbeda. Venus mungkin pernah memiliki bulan, tetapi rotasi planet yang sangat lambat membuat satelit tersebut bergerak semakin mendekat hingga akhirnya menabrak Venus.
Penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal tersebut menunjukkan bahwa kehilangan bulan tidak harus disebabkan oleh bencana eksternal. Interaksi gravitasi antara Venus dan bulannya sendiri dapat menghasilkan proses tersebut secara alami.
Stephen Kane, astrofisikawan UC Riverside sekaligus penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa kombinasi gravitasi Venus dan kecepatan rotasinya dapat menyebabkan orbit sebuah bulan menyusut hingga akhirnya bertabrakan dengan planet.
Mekanisme tersebut sangat berbeda dengan yang terjadi pada sistem Bumi dan Bulan. Bulan Bumi justru perlahan-lahan bergerak semakin jauh dari planet kita.
Perubahan jarak tersebut dapat diukur secara sangat presisi berkat cermin yang ditinggalkan di permukaan Bulan oleh misi Apollo 11. Pengukuran menunjukkan Bulan menjauh dari Bumi sekitar empat sentimeter setiap tahun.
Pergerakan Bulan berkaitan dengan rotasi Bumi. Planet kita menyelesaikan satu putaran dalam waktu sekitar 24 jam, dan sebagian energi rotasi tersebut secara bertahap dipindahkan ke Bulan.
Transfer energi membantu mendorong Bulan menuju orbit yang semakin jauh. Karena proses berlangsung sangat lambat, perubahan jarak baru menjadi jelas ketika diamati dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Venus memiliki kondisi yang sangat berbeda. Satu kali rotasi Venus membutuhkan waktu sekitar 243 hari Bumi, menjadikannya salah satu planet dengan rotasi paling lambat di Tata Surya.
Rotasi yang sangat lambat tersebut mengubah bagaimana sebuah bulan hipotetis berinteraksi dengan Venus. Bulan tidak harus memperoleh energi dan bergerak menjauh seperti Bulan Bumi.
Sebaliknya, kombinasi gravitasi dan rotasi Venus dapat membuat orbit satelit semakin menyusut. Bulan kemudian bergerak spiral menuju planet sampai akhirnya mencapai permukaan.
Untuk menguji kemungkinan tersebut, Kane mengembangkan model komputer yang menyimulasikan interaksi gravitasi antara planet dan satelitnya.
Model tersebut terlebih dahulu diuji menggunakan sistem Bumi-Bulan. Simulasi berhasil mereproduksi evolusi sistem yang telah diketahui sehingga dapat digunakan untuk menguji skenario hipotetis di Venus.
Kane kemudian memasukkan Venus ke dalam model dan mengubah berbagai parameter, termasuk kecepatan rotasi planet.
Penelitian tersebut juga menguji berbagai ukuran bulan hipotetis. Massa satelit dibuat mulai dari setengah massa Bulan Bumi hingga sepuluh kali lebih besar daripada Bulan. Hasil dari sebagian besar simulasi menunjukkan pola yang sangat konsisten. Bulan hipotetis tersebut pada akhirnya bergerak menuju Venus dan menabrak planet.
Ukuran bulan juga memengaruhi kecepatan proses tersebut. Bulan dengan massa lebih besar justru mencapai Venus lebih cepat dibandingkan satelit yang lebih kecil.
Kane menjelaskan bahwa hasil tersebut mengejutkan karena rentang skenario yang diuji sebelumnya diperkirakan akan menghasilkan beragam kemungkinan. Sebagian besar simulasi ternyata berakhir menuju hasil yang sama.
Meskipun demikian, simulasi tidak membuktikan bahwa Venus benar-benar pernah memiliki sebuah bulan. Penelitian hanya menunjukkan apa yang kemungkinan terjadi apabila satelit alami pernah terbentuk di sekitar Venus.
Kane menilai keberadaan bulan purba Venus tetap mungkin, tetapi pertanyaan apakah satelit tersebut benar-benar pernah terbentuk belum dapat dijawab berdasarkan simulasi.
Jika Venus memang pernah memiliki bulan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa satelit itu mungkin sulit bertahan dalam jangka waktu sangat panjang karena karakteristik rotasi planet.
Masalah berikutnya adalah mencari bukti bahwa sebuah tumbukan semacam itu pernah terjadi. Kondisi geologi Venus membuat pencarian tersebut menjadi sangat sulit.
Sekitar 80 persen permukaan Venus memiliki usia yang relatif serupa. Para ilmuwan menafsirkan kondisi tersebut sebagai bukti terjadinya peristiwa pembentukan kembali permukaan secara besar-besaran sekitar satu miliar tahun lalu.
Aktivitas geologi tersebut mungkin telah menghapus sebagian besar jejak peristiwa yang terjadi lebih awal dalam sejarah Venus, termasuk kemungkinan bukti tumbukan dengan bulan.
Petunjuk yang lebih kuat mungkin justru tersimpan jauh di bagian dalam planet. Bumi memberikan contoh bagaimana jejak tumbukan purba dapat bertahan di bawah permukaan.
Bulan Bumi diperkirakan terbentuk akibat tumbukan besar pada masa awal sejarah planet. Penelitian seismik menemukan struktur tidak biasa jauh di dalam Bumi yang mungkin menyimpan material terkait tumbukan purba tersebut.
Pengukuran serupa terhadap interior Venus pada masa depan dapat digunakan untuk mencari struktur yang mungkin menunjukkan bahwa planet pernah menyerap satelit alaminya.
Jika sebuah bulan benar-benar menabrak Venus, peristiwa tersebut kemungkinan membawa energi dan momentum sudut dalam jumlah sangat besar.
Tambahan energi dan momentum tersebut berpotensi mengubah rotasi Venus, memengaruhi aktivitas geologi, serta memberikan konsekuensi terhadap perkembangan iklim planet.
Kemungkinan tersebut juga berkaitan dengan pertanyaan apakah Venus pernah memiliki lingkungan yang dapat mendukung kehidupan. Venus saat ini merupakan dunia yang sangat panas, tetapi kondisi planet pada masa lalu mungkin jauh lebih menyerupai Bumi.
Jika Venus pernah memiliki lautan atau lingkungan yang lebih ramah bagi kehidupan, tumbukan dengan sebuah bulan dapat menjadi salah satu peristiwa besar yang memengaruhi perjalanan evolusi planet selanjutnya.
Penelitian tersebut juga memiliki implikasi bagi pencarian planet layak huni di luar Tata Surya. Para astronom telah menemukan banyak planet yang memiliki ukuran dan karakteristik yang menyerupai Bumi.
Keberadaan bulan terkadang dipertimbangkan ketika ilmuwan menilai evolusi jangka panjang sebuah planet. Bulan Bumi menghasilkan pasang surut dan mungkin turut memengaruhi aktivitas geologi serta perkembangan planet.
Kane menilai keberadaan bulan tidak harus menjadi syarat bagi sebuah planet untuk mendukung kehidupan. Bulan dapat memberikan sejumlah keuntungan, tetapi tingkat kepentingannya terhadap kelayakhunian masih belum sepenuhnya diketahui.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan bulan hanya merupakan satu bagian dari persoalan. Setelah sebuah satelit terbentuk, planet induknya juga harus memiliki kondisi yang memungkinkan bulan tersebut bertahan.
Planet dengan rotasi terlalu lambat dapat menyebabkan satelitnya bergerak spiral ke arah dalam. Tumbukan yang kemudian terjadi berpotensi mengubah sejarah geologi dan iklim planet secara drastis.
Menurut Kane, kemungkinan tersebut perlu diperhitungkan ketika astronom mempelajari planet yang menyerupai Bumi di sekitar bintang lain. Pertanyaan bukan hanya apakah sebuah planet pernah memiliki bulan, tetapi juga apakah planet tersebut mampu mempertahankannya.
Penelitian dari UC Riverside menunjukkan bahwa rotasi Venus yang sangat lambat dapat memberikan penjelasan baru mengenai ketiadaan bulan di planet tersebut. Simulasi memperlihatkan bahwa jika Venus pernah memiliki satelit alami, interaksi gravitasi dan rotasi planet dapat membuat orbit bulan menyusut hingga akhirnya bertabrakan dengan Venus, dengan bulan yang lebih besar bahkan jatuh lebih cepat. Simulasi belum membuktikan bahwa bulan Venus benar-benar pernah ada, tetapi membuka kemungkinan bahwa sebuah planet dapat kehilangan satelitnya tanpa membutuhkan tumbukan eksternal sekaligus memberikan perspektif baru untuk memahami evolusi Venus dan planet mirip Bumi di luar Tata Surya.
Diolah dari artikel:
“Venus may have swallowed its own moon” oleh University of California – Riverside. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/09/260915232122.htm