Sumber ilustrasi: Pixabay
18 September 2026 09.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.09.2026] Kemampuan memahami bentuk dan hubungan geometris dipandang sebagai salah satu ciri kecerdasan manusia. Sejak puluhan ribu tahun lalu, manusia telah menggunakan sudut siku-siku, garis sejajar, kesamaan panjang, dan berbagai pola geometris dalam gambar maupun benda yang dibuatnya.
Kemampuan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai asal-usul pemikiran geometri. Apakah manusia memahami bentuk karena belajar melalui bahasa dan pendidikan, atau terdapat kemampuan dasar yang telah muncul jauh sebelum manusia mengenal pelajaran matematika formal?
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian kemampuan tersebut mungkin tidak hanya dimiliki manusia. Monyet rhesus dan babun zaitun ternyata menunjukkan pola pemahaman bentuk yang menyerupai anak-anak prasekolah dan orang dewasa yang tidak pernah mendapatkan pendidikan geometri formal.
Penelitian yang diterbitkan pada 20 Juli dalam Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut membandingkan bagaimana manusia dan dua spesies monyet menyelesaikan permainan yang melibatkan bentuk serta sudut.
Jessica Cantlon, ahli ilmu saraf kognitif dari Carnegie Mellon University, menjelaskan bahwa para ilmuwan sejak lama mencoba memahami kemampuan apa yang benar-benar membedakan manusia dari hewan lain, terutama primata yang memiliki kedekatan evolusioner dengan manusia.
Bahasa, penggunaan alat, dan matematika pernah menjadi beberapa kandidat utama. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian hewan dapat menggunakan atau membuat alat, sementara spesies tertentu juga memperlihatkan bentuk komunikasi yang semakin sulit dianggap sebagai kemampuan sederhana.
Geometri kemudian menjadi salah satu kemampuan yang menarik perhatian. Jialin Li, ahli ilmu saraf kognitif dari Carnegie Mellon University, menjelaskan bahwa manusia telah menggunakan konsep seperti sudut siku-siku, garis sejajar, ukuran yang sama, dan panjang yang sama sejak puluhan ribu tahun lalu.
Jejak tersebut memunculkan dugaan bahwa pikiran manusia mungkin memiliki cara khusus untuk memahami bentuk yang berbeda dari primata lain. Jika benar, perbedaan tersebut seharusnya dapat ditemukan bahkan ketika manusia yang diuji belum mendapatkan pendidikan geometri.
Untuk mengujinya, Cantlon dan Li membandingkan beberapa kelompok dengan pengalaman pendidikan yang sangat berbeda. Penelitian melibatkan masyarakat Tsimane’ dari Bolivia dan Himba dari Namibia yang tidak memperoleh pendidikan mengenai bentuk seperti kebanyakan siswa di Amerika Serikat.
Kelompok tersebut kemudian dibandingkan dengan anak-anak prasekolah Amerika Serikat, monyet rhesus yang hidup di laboratorium, serta babun zaitun di kebun binatang.
Semua kelompok menjalani permainan pada layar yang mengharuskan mereka mengenali dan mencocokkan bentuk serta sudut. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti membandingkan kemampuan dasar tanpa bergantung pada bahasa atau pengetahuan matematika formal.
Monyet memperoleh makanan sebagai hadiah ketika menyelesaikan tugas. Li menjelaskan bahwa beberapa monyet sangat menikmati permainan tersebut, sedangkan anak-anak prasekolah mendapatkan stiker dan terkadang justru lebih sulit dibujuk untuk berpartisipasi.
Untuk penelitian terhadap babun zaitun, tim Cantlon dan Li bekerja bersama Caroline DeLong dari Rochester Institute of Technology. Para peneliti mengembangkan sistem yang disebut Primate Portal di Seneca Park Zoo, Rochester.
Primate Portal berupa kabin yang ditempatkan di dalam area tempat tinggal babun. Sebuah layar di luar kabin memungkinkan hewan memainkan permainan, sedangkan peneliti di bagian dalam mengatur permainan dan memberikan hadiah.
Sistem tersebut memungkinkan babun berpartisipasi secara sukarela. Seekor babun jantan besar bernama Kalamata bahkan sangat menyukai permainan dan dapat bermain selama berjam-jam dalam sehari, menurut DeLong.
Bagian penting penelitian bukan hanya menentukan berapa banyak jawaban yang benar. Para ilmuwan juga menganalisis jenis kesalahan yang dilakukan masing-masing kelompok.
Kesalahan tersebut kemudian dibandingkan dengan dua model komputer yang dirancang untuk mewakili cara berbeda dalam memproses informasi mengenai bentuk.
Hasilnya menunjukkan pola yang menarik. Kedua spesies monyet dan seluruh kelompok manusia cenderung melakukan jenis kesalahan yang serupa.
Kesamaan tersebut memberikan petunjuk bahwa manusia dan monyet mungkin menggunakan prinsip dasar yang serupa ketika memahami bentuk, meskipun kemampuan manusia tetap lebih baik.
Li menyimpulkan bahwa manusia tampaknya bukan satu-satunya primata yang memiliki kemampuan tersebut. Keunggulan manusia lebih terlihat pada tingkat kemampuan daripada keberadaan mekanisme dasarnya.
Temuan tersebut dapat mengubah pertanyaan mengenai asal-usul kemampuan matematika. Jika monyet tanpa bahasa manusia atau pendidikan geometri menunjukkan pola pemrosesan serupa, sebagian fondasi pemikiran geometris mungkin telah berkembang sebelum garis evolusi manusia dan monyet berpisah.
Namun demikian, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa pikiran manusia dan monyet benar-benar menjalankan proses kognitif yang identik. Model komputer hanya dapat membandingkan pola perilaku yang terlihat dari luar.
Moira Dillon dari New York University, yang tidak terlibat dalam penelitian, menjelaskan bahwa model komputer dapat menawarkan penjelasan mengenai bagaimana suatu proses mungkin berlangsung, tetapi model bukanlah pikiran itu sendiri.
Menurut Dillon, ilmuwan tidak dapat secara langsung memasuki pikiran anak atau monyet untuk mengikuti setiap proses yang berlangsung ketika mereka menyelesaikan permainan. Karena itu, masih terbuka pertanyaan apakah kesamaan perilaku benar-benar mencerminkan mekanisme mental yang sama.
Véronique Izard dari University of Paris Cité dan National Centre for Scientific Research juga menunjukkan keterbatasan lainnya. Penelitian tersebut hanya menggunakan dua model komputer.
Menurut Izard, model yang berbeda mungkin dapat mengungkap perbedaan antara manusia dan monyet yang tidak terdeteksi oleh kedua model tersebut. Kesamaan yang ditemukan karena itu masih perlu diuji melalui pendekatan lain.
Penelitian mengenai kemampuan matematika primata kemudian berkembang menjadi proyek yang juga melibatkan anak-anak sekolah dasar. Para siswa bahkan mulai membuat sendiri permainan komputer untuk babun.
Salah satu permainan tersebut disebut match-to-sample. Sebuah bentuk, misalnya persegi, pertama-tama muncul pada layar. Setelah itu muncul dua pilihan, seperti persegi dan segitiga. Monyet harus memilih bentuk yang sama dengan contoh pertama untuk memperoleh makanan sebagai hadiah.
Michael Sufra, siswa berusia 11 tahun dari QUEST Elementary School di Hilton, New York, membuat sendiri permainan match-to-sample menggunakan bentuk roket dan gambar kucing kartun. Program tersebut memungkinkan setiap siswa merancang permainan sendiri. Selain belajar membuat kode, siswa harus mempertimbangkan bagaimana gambar akan dipahami oleh monyet.
Cora Dimino, siswa berusia 12 tahun, menjelaskan bahwa gambar yang terlalu mirip dapat menyulitkan monyet membedakannya. Permainan buatan Cora menggunakan gambar hewan dengan warna berbeda.
Beberapa ratus anak telah memperoleh kesempatan membuat permainan untuk monyet sekaligus menyaksikan hewan tersebut memainkannya.
DeLong menemukan bahwa pengalaman membuat permainan untuk monyet juga dapat membantu anak meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Beberapa permainan buatan siswa bahkan berpotensi digunakan dalam penelitian primata berikutnya.
Bagi anak-anak yang terlibat, proyek tersebut sekaligus mengubah cara mereka memandang kecerdasan hewan. Cora menyimpulkan berdasarkan pengamatan selama kegiatan bahwa monyet ternyata memiliki kemampuan yang cukup tinggi dalam menyelesaikan tugas tersebut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan dasar memahami bentuk mungkin bukan ciri yang sepenuhnya unik pada manusia. Monyet rhesus, babun zaitun, anak-anak prasekolah, serta kelompok manusia tanpa pendidikan geometri formal memperlihatkan pola kesalahan yang serupa ketika menyelesaikan permainan bentuk dan sudut. Kesamaan tersebut membuka kemungkinan bahwa sebagian fondasi pemikiran geometris telah berkembang dalam sejarah evolusi primata sebelum munculnya matematika formal manusia, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan apakah kesamaan perilaku tersebut benar-benar berasal dari mekanisme kognitif yang sama.
Diolah dari artikel:
“Monkeys might share our instincts for math” oleh Bethany Brookshire, Science News Explores. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/monkeys-understand-math-shapes