Sumber ilustrasi: Magnific
18 September 2026 10.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.09.2026] Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia. Meskipun dikonsumsi dalam jumlah sangat besar, perhatian terhadap kandungan nutrisi beras selama ini lebih banyak tertuju pada karbohidrat, terutama pati yang mencakup lebih dari 85 persen komposisinya.
Selain pati, beras mengandung sekitar 10 persen protein, sekitar 2 persen lemak, serta sejumlah vitamin dan unsur mikro. Proporsi lemak yang kecil membuat komponen tersebut relatif jarang dipelajari dibandingkan pati, meskipun lipid dapat memengaruhi nilai nutrisi, rasa, dan kualitas bulir beras.
Sebuah penelitian dari Hokkaido University menunjukkan bahwa kandungan lemak yang kecil tersebut ternyata menyimpan keragaman kimia yang cukup besar. Setelah menganalisis 56 varietas beras japonica Jepang, para peneliti menemukan 196 molekul lipid berbeda yang terbagi ke dalam lima kelompok utama.
Temuan yang diterbitkan dalam Food Research International tersebut juga menunjukkan bahwa beras berpigmen, terutama beras hitam dan hijau, memiliki profil lipid yang berbeda dibandingkan varietas lainnya. Kedua jenis beras tersebut memperoleh nilai lebih tinggi dalam indeks peningkatan kesehatan yang digunakan tim peneliti.
Beras japonica merupakan kelompok beras berbulir pendek hingga sedang yang banyak dikaitkan dengan beras Jepang. Setelah dimasak, jenis tersebut biasanya memiliki tekstur lembut, empuk, dan sedikit lengket.
Meskipun sangat dikenal dalam kuliner Jepang, japonica hanya mencakup sekitar 15 persen konsumsi beras dunia. Keragaman warna di dalam kelompok tersebut memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari apakah perbedaan varietas juga menghasilkan perbedaan komposisi lipid.
Tim Hokkaido University mengumpulkan 56 kultivar japonica dari berbagai wilayah Jepang. Sampel tersebut mencakup beras cokelat, merah, hijau, dan hitam.
Associate Professor Siddabasave Gowda, penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa meskipun lipid hanya membentuk sebagian kecil beras, molekul tersebut memiliki peran penting dalam menentukan nilai nutrisinya.
Menurut Gowda, lipid berperan dalam mempertahankan integritas membran sel, menyimpan energi, serta mendukung berbagai proses pensinyalan yang penting di dalam tubuh.
Perkembangan teknologi analisis memungkinkan komponen lemak dalam makanan diperiksa dengan jauh lebih rinci dibandingkan sebelumnya. Para peneliti menggunakan metode seperti kromatografi cair dan spektrometri massa untuk memetakan molekul lipid dalam sampel beras.
Kromatografi cair memungkinkan berbagai senyawa dalam sampel dipisahkan berdasarkan karakteristik kimianya. Spektrometri massa kemudian membantu mengidentifikasi molekul berdasarkan massa dan struktur kimianya.
Melalui kombinasi metode tersebut, tim menemukan 196 molekul lipid yang termasuk dalam lima kelompok utama. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kandungan lemak beras jauh lebih kompleks daripada yang mungkin diperkirakan berdasarkan jumlah totalnya yang hanya sekitar dua persen.
Perbedaan paling menarik muncul ketika para peneliti membandingkan varietas beras berdasarkan warna dan profil lipidnya. Beras hitam dan hijau memiliki komposisi lemak yang membuat keduanya menonjol dalam analisis.
Varietas berpigmen tersebut mengandung beberapa lipid yang berpotensi bermanfaat, termasuk FAHMFA atau fatty acid esters of hydroxy medium-chain fatty acids serta LNAPE atau N-acyl-lysophosphatidylethanolamines.
Dalam sistem biologis tertentu, kelompok lipid tersebut sebelumnya dikaitkan dengan aktivitas antiinflamasi dan kesehatan metabolik yang lebih baik. Namun temuan pada beras belum berarti bahwa konsumsi beras hitam atau hijau secara langsung menghasilkan manfaat kesehatan yang sama pada manusia.
Penelitian tersebut juga menjadi laporan pertama yang mendeteksi keberadaan FAHMFA dalam beras. Temuan ini memperluas pengetahuan mengenai sumber alami lipid bioaktif yang mungkin terdapat dalam makanan sehari-hari.
Tim kemudian menyelidiki aspek lain yang membuat beras hitam dan hijau menarik, yaitu bagaimana pati di dalamnya dicerna.
Para peneliti tidak langsung memberikan beras kepada manusia untuk mengukur respons gula darah. Sebaliknya, sebagian proses pencernaan manusia direproduksi dalam kondisi laboratorium.
Sampel beras terpilih terlebih dahulu dimasak kemudian diberi enzim pencernaan. Para ilmuwan selanjutnya mengukur kecepatan pati dalam masing-masing sampel terurai.
Kecepatan pemecahan pati penting karena pati pada akhirnya menghasilkan glukosa yang dapat diserap tubuh. Pati yang terurai lebih cepat berpotensi membuat glukosa tersedia lebih cepat setelah makanan dikonsumsi.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pati dari beras japonica hitam dan hijau terurai lebih lambat dibandingkan beras putih biasa.
Pola tersebut menunjukkan bahwa glukosa dari kedua varietas berpigmen berpotensi memasuki aliran darah secara lebih bertahap setelah proses pencernaan.
Temuan tersebut membuat beras berpigmen menarik untuk diteliti lebih lanjut sebagai bahan pangan yang dirancang untuk membantu pengelolaan gula darah.
Para peneliti juga melihat kemungkinan penggunaannya dalam pengembangan makanan yang ditujukan untuk mendukung kesehatan jantung dan menurunkan risiko penyakit terkait gaya hidup seperti diabetes tipe 2.
Namun hasil penelitian masih perlu dibaca sesuai metode yang digunakan. Respons gula darah dalam penelitian diperkirakan melalui simulasi pencernaan di laboratorium, bukan melalui pengujian langsung terhadap manusia.
Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk menentukan apakah perbedaan kecepatan pencernaan tersebut menghasilkan manfaat metabolik yang bermakna ketika beras hitam dan hijau dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan manusia.
Penelitian beras tersebut merupakan bagian dari program yang lebih luas untuk menemukan lipid bioaktif baru dalam berbagai sumber pangan Jepang.
Gowda menjelaskan bahwa kelompok peneliti sebelumnya telah menemukan lipid bioaktif baru dalam ikan yang dikonsumsi di Jepang, teh herbal, dan rumput laut.
Menurut Gowda, penelitian tersebut membantu mengungkap sumber pangan kaya lipid di Jepang yang selama ini belum banyak dieksplorasi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa jumlah lemak dalam suatu makanan tidak selalu menggambarkan keragaman maupun potensi biologis lipid yang terkandung di dalamnya.
Pada beras, lemak hanya merupakan komponen kecil dibandingkan pati. Namun analisis molekuler memperlihatkan bahwa komponen kecil tersebut dapat berbeda secara signifikan antara satu varietas dengan varietas lainnya.
Perbedaan tersebut juga dapat menjadi dasar untuk mengembangkan beras sebagai pangan fungsional, yaitu makanan yang tidak hanya menyediakan energi dan nutrisi dasar tetapi juga dirancang untuk memberikan manfaat fisiologis tertentu.
Gowda berharap informasi mengenai komposisi beras berpigmen dapat membantu masyarakat memahami bahwa varietas beras yang berbeda mungkin memiliki karakteristik nutrisi yang berbeda.
Pengetahuan tersebut pada akhirnya dapat memungkinkan konsumen memilih varietas beras berdasarkan kebutuhan masing-masing, meskipun manfaat kesehatan spesifiknya masih memerlukan pengujian lebih lanjut pada manusia.
Tim peneliti juga berharap temuan tersebut dapat mendukung pengembangan produk beras fungsional yang ditujukan untuk membantu pengelolaan diabetes dan penyakit lain yang berkaitan dengan gaya hidup.
Penelitian Hokkaido University menunjukkan bahwa beras hitam dan hijau japonica memiliki profil lipid yang berbeda serta pati yang terurai lebih lambat dibandingkan beras putih biasa dalam simulasi pencernaan laboratorium. Dari 56 kultivar yang diperiksa, para ilmuwan menemukan 196 molekul lipid, termasuk FAHMFA yang untuk pertama kalinya terdeteksi dalam beras dan beberapa jenis lipid yang sebelumnya dikaitkan dengan aktivitas biologis yang berpotensi menguntungkan. Temuan tersebut membuka peluang penelitian mengenai beras berpigmen sebagai bahan pangan fungsional untuk mendukung pengelolaan gula darah dan kesehatan metabolik, tetapi manfaat langsung bagi manusia masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian klinis.
Diolah dari artikel:
“Scientists find a hidden health advantage in black and green rice” oleh Hokkaido University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/09/260916232523.htm