Kegemaran pada Makanan Manis Membantu Membesarkan Otak Manusia?

Sumber ilustrasi: Magnific
30 September 2026 09.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [30.09.2026] Otak merupakan salah satu organ yang paling banyak membutuhkan energi dalam tubuh manusia. Otak manusia modern memiliki berat rata-rata sekitar 1.500 gram, jauh lebih besar dibandingkan otak nenek moyang manusia yang berjalan tegak sekitar empat juta tahun lalu, yang diperkirakan hanya berbobot sekitar 300 gram. Pertumbuhan luar biasa tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sumber energi yang memungkinkan otak berevolusi menjadi semakin besar.

Pembahasan mengenai hubungan makanan dan evolusi manusia banyak berpusat pada daging. Sekitar 2,5 juta tahun lalu, nenek moyang manusia mulai meningkatkan konsumsi daging, mula-mula dalam keadaan mentah dan kemudian dimasak. Kandungan protein, lemak, dan nutrisi yang tinggi membuat daging dianggap sebagai salah satu sumber energi penting bagi perkembangan otak.

Namun sebagian besar pembesaran otak ternyata telah berlangsung sebelum manusia purba menguasai penggunaan api dan memasak. Kondisi tersebut memberikan Gambaran bahwa terdapat sumber energi lain yang sudah memainkan peranan penting sebelum manusia dapat secara rutin memperoleh energi dari makanan berpati yang dimasak.

Penelitian terbaru mengarahkan perhatian pada sumber makanan yang jauh lebih manis, yaitu buah dan madu. Analisis terhadap data nenek moyang manusia dan simpanse menunjukkan bahwa karbohidrat bergula mungkin menyediakan bagian besar dari energi yang mendukung evolusi primata dan manusia purba.

Karbohidrat secara umum dapat dibedakan menjadi gula dan pati. Gula tersusun dari molekul yang relatif sederhana, sedangkan pati memiliki struktur yang lebih besar dan kompleks. Sebelum memasak menjadi bagian penting kehidupan manusia, buah matang dan madu dapat menyediakan gula yang relatif mudah digunakan sebagai sumber energi.

Para peneliti dalam studi yang diterbitkan pada 6 Agustus di jurnal Science berpendapat bahwa gula sederhana mungkin memiliki peranan penting dalam evolusi manusia yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Temuan tersebut tidak menyingkirkan peran daging, tetapi memperluas gambaran mengenai jenis makanan yang membantu mendukung pertumbuhan otak.

Jennie Brand-Miller, ilmuwan nutrisi dari University of Sydney di Australia, mulai mempertanyakan apakah penekanan pada daging telah membuat peranan gula kurang diperhatikan. Brand-Miller kemudian menelusuri kemungkinan bahwa makanan manis telah berpengaruh terhadap evolusi otak jauh sebelum manusia mengembangkan pola makan modern.

Salah satu petunjuk datang dari penelitian pada 2017 yang menemukan bahwa primata pemakan buah cenderung memiliki otak lebih besar daripada primata pemakan daun. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa mencari dan memperoleh buah dapat menuntut kemampuan kognitif yang lebih kompleks daripada sekadar mengonsumsi makanan yang tersedia secara luas.

Buah matang merupakan sumber makanan yang keberadaannya berubah menurut tempat dan waktu. Primata yang mengandalkan buah harus mengetahui kapan spesies tumbuhan tertentu menghasilkan buah matang serta mengingat lokasi pohon-pohon tersebut di lingkungan yang luas.

Menurut Brand-Miller, kemampuan mengingat kapan berbagai jenis buah mulai matang dan di mana buah tersebut berada di dalam hutan menempatkan tuntutan tertentu pada memori. Kemampuan memori yang semakin baik pada gilirannya berkaitan dengan perkembangan otak yang lebih besar.

Hubungan tersebut membuka kemungkinan adanya proses yang saling memperkuat. Buah menyediakan gula sebagai sumber energi bagi otak, sementara pencarian buah juga menuntut kemampuan mengingat, merencanakan perjalanan, dan mengenali perubahan lingkungan yang dapat mendorong perkembangan kemampuan kognitif.

Petunjuk lain ditemukan pada fosil primata dan hominid seperti Homo erectus. Menurut Brand-Miller, beberapa fosil memperlihatkan tanda kerusakan gigi yang dapat menunjukkan konsumsi makanan lunak dan mengandung gula.

Homo erectus sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah manusia karena merupakan salah satu kerabat purba yang pertama kali bergerak keluar dari Afrika sekitar dua juta tahun lalu. Bukti dari gigi menambah kemungkinan bahwa makanan bergula tetap menjadi bagian dari pola makan ketika kelompok hominid berkembang dan menyebar.

Brand-Miller memandang berbagai bukti tersebut sebagai bagian dari gambaran yang sama. Data mengenai ukuran otak primata, kebutuhan kognitif dalam mencari buah, serta kondisi gigi fosil bersama-sama menunjukkan bahwa gula dari buah mungkin mempunyai peranan penting dalam evolusi manusia.

Untuk menguji gagasan tersebut secara lebih sistematis, Brand-Miller dan tim peneliti menghitung kebutuhan makanan simpanse, manusia, serta tiga spesies awal nenek moyang manusia. Analisis menggabungkan informasi dari fosil, gigi, metabolisme, dan berbagai proses biologis tubuh.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nenek moyang awal manusia yang menyerupai simpanse sekitar empat juta tahun lalu kemungkinan besar memiliki pola makan yang sebagian besar terdiri atas tumbuhan. Buah diperkirakan menyediakan lebih dari dua pertiga energi makanan mereka.

Peranan buah tampaknya tidak langsung menghilang ketika otak hominid mulai bertambah besar selama beberapa juta tahun berikutnya. Data yang dianalisis menunjukkan bahwa buah kemungkinan tetap menjadi sumber energi penting selama periode pertumbuhan otak tersebut.

Otak membutuhkan energi dalam jumlah besar sehingga nenek moyang manusia harus mampu memperoleh makanan berkualitas tinggi secara efisien. Perkembangan kemampuan mencari makanan menjadi salah satu strategi yang memungkinkan kebutuhan tersebut dipenuhi.

Strategi tersebut tidak terbatas pada mencari buah. Nenek moyang manusia juga mengembangkan kemampuan berburu, memecahkan kacang, menggiling biji-bijian, serta mengambil sumsum tulang yang kaya energi dari tulang hewan.

Ketika memasak kemudian menjadi semakin umum, pilihan sumber energi bertambah. Manusia dapat memanfaatkan pati dari biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi dengan lebih efektif setelah proses pemanasan membuat makanan tersebut lebih mudah dikonsumsi dan dimanfaatkan tubuh.

Namun munculnya daging dan pati sebagai sumber energi tidak berarti kebutuhan terhadap makanan bergula menghilang. Analisis terbaru menunjukkan bahwa gula mungkin tetap berjalan berdampingan dengan protein dan lemak sebagai bagian dari sejarah panjang pola makan manusia.

Brand-Miller menjelaskan bahwa peranan daging dan gula sebaiknya dipahami sebagai dua kisah yang berjalan secara paralel, bukan sebagai satu sumber makanan yang menggantikan sumber lainnya. Makanan hewani tetap penting karena memiliki kepadatan nutrisi yang tinggi.

Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Julie Lee-Thorp, arkeolog dari University of Oxford di Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian. Lee-Thorp menilai fokus terhadap konsumsi daging pada masa lalu mungkin membuat beberapa pola makanan lain yang berkontribusi terhadap perkembangan otak manusia kurang diperhatikan.

Menurut Lee-Thorp, perhatian besar terhadap daging juga mungkin dipengaruhi oleh cara masyarakat modern memandang makanan tersebut. Daging memiliki status tinggi dalam banyak masyarakat saat ini, sehingga penilaian tersebut mungkin ikut terbawa ketika para peneliti membayangkan kehidupan manusia pada masa lalu.

Namun tidak semua ilmuwan sepakat bahwa penelitian evolusi manusia terlalu berfokus pada daging. Brian Wood, antropolog biologi dari University of California, Los Angeles, menilai kajian mengenai evolusi manusia sebenarnya tidak terobsesi pada konsumsi daging.

Menurut Wood, evolusi manusia didukung oleh beragam sumber makanan dan bukan satu jenis makanan tertentu. Faktor yang lebih penting adalah meningkatnya kemampuan nenek moyang manusia untuk mendapatkan dan memanen makanan berkualitas tinggi yang sulit diperoleh.

Kemampuan tersebut mencakup berburu hewan, tetapi juga mencari buah, madu, kacang-kacangan, serta bagian tumbuhan yang berada di bawah tanah. Dengan demikian, keunggulan evolusioner mungkin berasal dari kemampuan memperluas pilihan makanan dan memperoleh sumber energi dari berbagai lingkungan.

Perspektif tersebut menempatkan gula sebagai bagian dari strategi makanan yang lebih luas. Buah dan madu menawarkan energi dari gula sederhana, sementara daging, kacang, biji, sumsum tulang, umbi, dan kemudian makanan berpati menyediakan kombinasi energi dan nutrisi lainnya.

Penelitian terbaru tidak menunjukkan bahwa kecenderungan manusia modern menyukai makanan manis merupakan penyebab tunggal terbentuknya otak besar. Temuan tersebut lebih menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap makanan kaya gula mungkin memiliki akar evolusioner yang sangat tua dan berkaitan dengan kebutuhan memperoleh energi berkualitas tinggi.

Kondisi lingkungan nenek moyang manusia juga sangat berbeda dari lingkungan makanan modern. Gula pada masa tersebut terutama diperoleh dari sumber alami seperti buah matang dan madu yang harus dicari, ditemukan, dan dipanen, bukan dari makanan olahan dengan kandungan gula tinggi yang tersedia setiap saat.

Dengan demikian, kegemaran manusia terhadap rasa manis dapat dipandang dalam konteks evolusi sebagai kecenderungan yang dahulu membantu mengarahkan nenek moyang menuju makanan kaya energi. Dalam lingkungan yang menuntut pencarian makanan secara aktif, kemampuan menemukan sumber gula dapat memberikan keuntungan bagi organisme dengan otak yang membutuhkan energi besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan besar otak manusia kemungkinan tidak hanya ditopang oleh meningkatnya konsumsi daging, tetapi juga oleh sejarah panjang pemanfaatan makanan bergula seperti buah dan madu. Nenek moyang manusia sekitar empat juta tahun lalu kemungkinan memperoleh lebih dari dua pertiga energi makanannya dari buah, sementara pencarian buah juga menuntut kemampuan memori dan strategi yang semakin kompleks. Daging, gula, serta berbagai makanan berkualitas tinggi lainnya karena itu dapat dipahami sebagai sumber energi yang berjalan berdampingan dalam evolusi manusia, dengan kemampuan menemukan dan memanfaatkan beragam makanan menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan otak manusia berkembang menjadi semakin besar.

Diolah dari artikel:
“The human brain may owe a lot of its size to our love of sweets” oleh Jake Buehler. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/sugar-evolution-human-brain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *