Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
12 Maret 2026 11.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.03.2026] Warisan arsitektur Islam di wilayah Andalusia telah lama menjadi objek kajian sejarah, arkeologi, dan studi budaya. Para peneliti mengetahui bahwa selama periode kekuasaan Muslim di Semenanjung Iberia antara tahun 711 hingga 1492, berbagai kota di Spanyol berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan, seni, serta inovasi arsitektur. Salah satu peninggalan yang masih bertahan hingga kini adalah Almonaster la Real Mosque, sebuah masjid pedesaan yang diperkirakan berusia sekitar satu milenium.
Bangunan tersebut berdiri di atas bukit yang menghadap kota kecil Almonaster la Real di provinsi Huelva. Dengan populasi kota yang hanya sekitar seribu penduduk, lokasi masjid ini berada di kawasan yang relatif terpencil namun memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Keberadaan bangunan ini memberikan gambaran penting mengenai kehidupan komunitas Muslim di wilayah pedesaan Andalusia pada masa awal abad pertengahan.
Para sejarawan meyakini bahwa masjid tersebut dibangun pada abad ke-9 hingga ke-10, ketika Andalusia berada di bawah pemerintahan Islam. Pembangunan masjid sering dikaitkan dengan masa pemerintahan Abd al-Rahman III, salah satu penguasa paling berpengaruh dalam sejarah Andalusia. Struktur bangunan yang masih mempertahankan sebagian besar desain aslinya menjadikan situs ini sebagai satu-satunya masjid pedesaan di Spanyol yang mampu bertahan lebih dari seribu tahun.
Selama sekitar empat abad, masjid ini berfungsi sebagai pusat ibadah bagi komunitas Muslim setempat. Situasi tersebut berubah pada abad ke-13 ketika wilayah tersebut direbut oleh kekuatan Kristen. Setelah perubahan kekuasaan, bangunan masjid mengalami kerusakan dan kemudian diubah menjadi gereja, meskipun sejumlah elemen arsitektur Islam tetap bertahan hingga sekarang.
Letak masjid di puncak bukit memberikan perspektif unik bagi penelitian sejarah lanskap budaya. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat hamparan taman alam luas di sekitarnya. Posisi geografis ini menunjukkan bahwa pemilihan lokasi bangunan keagamaan pada masa Andalusia tidak hanya mempertimbangkan fungsi spiritual, tetapi juga faktor strategis serta visual dalam lanskap pedesaan.
Kajian arsitektur menunjukkan bahwa masjid ini memanfaatkan berbagai material dari periode sejarah berbeda. Beberapa bagian konstruksi berasal dari bangunan era Romawi, sementara elemen lain menggunakan material dari periode Visigoth. Lengkungan tapal kuda yang khas, yang sering dikaitkan dengan gaya arsitektur Umayyah, juga terlihat pada struktur bangunan tersebut. Penelitian sejarah mencatat bahwa beberapa elemen ini kemudian dipotong atau dimodifikasi ketika bangunan diubah menjadi gereja pada periode setelah kekuasaan Islam berakhir.
Di dekat pintu masuk bangunan terdapat prasasti berbahasa Arab yang diperkirakan berusia sekitar seribu tahun. Tulisan tersebut memuat kalimat syahadat yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad merupakan utusan Allah. Keberadaan prasasti ini memberikan bukti epigrafi yang penting mengenai praktik keagamaan masyarakat Muslim di wilayah tersebut pada masa lalu.
Seorang pensiunan guru sekolah menengah asal Spanyol bernama Rafael Hernandez Mancha pernah memilih lokasi masjid ini sebagai tempat untuk mengucapkan deklarasi keimanan dalam Islam setelah menemukan agama tersebut puluhan tahun lalu. Pengamatan pribadi yang disampaikan kepada media menunjukkan bahwa atmosfer bangunan sering dipersepsikan sebagai pengalaman historis yang kuat, seolah menghadirkan kembali suasana masa lampau.
Selain aspek arsitektur, penelitian budaya juga menunjukkan bahwa pengaruh Arab dalam masyarakat Spanyol tetap terlihat hingga saat ini. Studi linguistik menunjukkan bahwa hampir sepuluh persen kosakata dalam bahasa Spanyol berasal dari bahasa Arab. Fenomena ini merupakan hasil interaksi panjang antara budaya Arab dan masyarakat Iberia selama berabad-abad.
Pengaruh tersebut juga tercermin pada sejumlah nama tempat di Spanyol, termasuk kota-kota seperti Seville, Córdoba, Granada, dan Toledo, serta sungai Guadalquivir River. Bahkan beberapa nama keluarga modern di Spanyol juga memiliki akar linguistik Arab, termasuk nama belakang petenis dunia Carlos Alcaraz, yang menurut kajian etimologi berasal dari kata Arab yang berkaitan dengan buah ceri.
Bagi masyarakat lokal, masjid ini bukan sekadar peninggalan sejarah. Anggota dewan kota yang menangani bidang pariwisata dan kebudayaan, Maria Jose Martin Anarte, menjelaskan dalam pernyataan kepada media bahwa bangunan tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Lebih dari seratus ribu wisatawan setiap tahun mengunjungi situs ini, menjadikannya pusat aktivitas budaya sekaligus destinasi wisata sejarah.
Bangunan ini juga memiliki fungsi simbolik sebagai ruang dialog budaya. Walaupun tidak digunakan untuk kegiatan ibadah rutin, pengunjung Muslim tetap diperbolehkan untuk melaksanakan salat secara pribadi. Selain itu, kota Almonaster la Real secara rutin menyelenggarakan konferensi budaya Islam setiap bulan Oktober selama sekitar dua setengah dekade terakhir. Acara tersebut melibatkan akademisi dan pakar dari berbagai kota di Spanyol untuk membahas sejarah, musik, kuliner, dan warisan budaya Andalusia.
Keberadaan Masjid Almonaster la Real menunjukkan bagaimana sebuah bangunan dapat menjadi sumber data historis yang penting bagi kajian arkeologi, arsitektur, dan sejarah budaya. Struktur bangunan yang masih mempertahankan banyak elemen asli dari abad ke-9 dan ke-10 memberikan bukti nyata tentang kehidupan komunitas Muslim di wilayah pedesaan Andalusia serta tentang perkembangan teknik konstruksi pada masa tersebut.
Selain nilai arsitektural, masjid ini juga menggambarkan jejak interaksi budaya antara dunia Arab dan masyarakat Spanyol yang masih terasa hingga kini melalui bahasa, nama tempat, dan identitas budaya. Arsitektur masjid serta jejak budaya yang terkait dengannya menggambarkan interaksi panjang antara peradaban Islam dan masyarakat Iberia yang masih terlihat dalam budaya Spanyol saat ini.
Diolah dari artikel:
“Spain’s 1,000-year-old mosque reflects Andalusia’s Islamic heritage” oleh Daily Sabah with AA. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring history knowledge closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.