Apakah Emisi Karbon China Mulai Menurun?

Sumber ilustrasi: Pixabay
22 Februari 2026 13.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [22.02.2026] Emisi karbon dari negara penghasil gas rumah kaca terbesar dunia, China, dilaporkan telah stagnan atau menurun selama 21 bulan terakhir. Tren ini menandai kemungkinan bahwa negara tersebut telah mencapai titik balik global lebih cepat dari yang diperkirakan.

Menurut analisis terbaru oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang berbasis di Finlandia untuk Carbon Brief, emisi karbon dioksida China turun 1% pada kuartal terakhir 2025 dan kemungkinan turun sekitar 0,3% sepanjang tahun, tetap sedikit di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada Mei 2024. Stagnasi atau penurunan selama hampir dua tahun ini merupakan yang terpanjang yang tercatat tanpa disebabkan oleh perlambatan ekonomi, padahal China menyumbang lebih dari sepertiga total emisi global.

Jika tren ini berlanjut, emisi China bisa mencapai puncak sebelum 2030, target resmi negara tersebut, atau bahkan lebih cepat, menandai kemenangan penting dalam upaya global mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan memperlambat pemanasan global. Namun, apakah penurunan ini akan bertahan atau permintaan akan mendorong lonjakan kembali emisi sebelum puncak resmi tetap menjadi pertanyaan terbuka.

Penurunan emisi CO2 tercatat hampir di semua sektor utama pada 2025, termasuk transportasi (3%), pembangkit listrik (1,5%), dan bahan bangunan (7%), sementara sektor kimia justru meningkat 12%, menurut laporan Lauri Myllyvirta, penulis utama analisis dan salah satu pendiri CREA.

Meskipun emisi stagnan, intensitas karbon China — emisi fosil per unit PDB — hanya turun sekitar 12% selama 2020–2025, di bawah target 18%. Untuk memenuhi komitmen Perjanjian Paris, China perlu menurunkan intensitas karbon sekitar 23% dalam lima tahun ke depan.

Tren ini didorong oleh pengembangan teknologi energi terbarukan, transportasi listrik, dan penurunan permintaan semen dan baja. China merupakan produsen terbesar dunia untuk kedua komoditas tersebut, masing-masing menyumbang sekitar 48% dan 54% produksi global, dengan kontribusi masing-masing sekitar 15% terhadap total emisi gas rumah kaca negara tersebut.

Stagnasi emisi terjadi meski konsumsi listrik China bertambah 520 terawatt jam (TWh) pada 2025. Hal ini terjadi karena produksi energi bersih meningkat mengikuti pertumbuhan konsumsi, dengan tenaga surya naik 43%, angin 14%, dan nuklir 8% secara tahunan, menghasilkan tambahan sekitar 530 TWh. Kapasitas penyimpanan energi juga meningkat rekor 75 gigawatt (GW), melebihi pertumbuhan permintaan sebesar 55 GW.

Keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah China dalam rencana lima tahun berikutnya yang akan diumumkan pada Maret. Analisis CREA mencatat beberapa ketidakjelasan dalam perencanaan, misalnya adanya indikasi plateau konsumsi batu bara dari 2027, yang menunjukkan pengurangan absolut emisi mungkin harus menunggu hingga setelah 2030.

Selain itu, pertumbuhan konsumsi batu bara untuk sektor listrik di atas puncak penggunaan dan emisi total dapat memperlambat kemajuan energi bersih. Namun sejauh ini, investasi teknologi bersih telah mendorong lebih dari sepertiga pertumbuhan ekonomi China pada 2025. Proyek rekayasa ekologi, termasuk penghijauan sekitar Gurun Taklamakan, berhasil mengubah salah satu gurun terbesar dan terkering di dunia menjadi penyerap karbon.

Tren stagnasi atau penurunan emisi karbon di China menunjukkan titik balik penting bagi negara penghasil emisi terbesar dunia. Peningkatan energi bersih, transportasi listrik, dan penurunan konsumsi semen serta baja menjadi faktor utama yang mendorong perubahan ini.

Namun, keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada keputusan pemerintah dalam lima tahun ke depan. Kebijakan mengenai konsumsi batu bara dan investasi energi bersih akan menentukan apakah emisi China akan terus menurun atau kembali meningkat sebelum mencapai puncak resmi pada 2030.

Diolah dari artikel:
“China’s emissions are flatlining — and may be falling — in critical turning point for biggest emitter, report says” oleh Ben Turner.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/climate-change/chinas-carbon-emissions-may-have-reached-a-critical-turning-point-sooner-than-expected

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *