Bahasa Kita

Sumber ilustrasi: Freepik
27 Desember 2025 08.40 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Ada sebagian kalangan, terutama mereka yang dapat dikatakan sebagai entitas terdidik, berwawasan luas, dan bergaul secara global, punya pandangan demikian: bahwa ilmu pengetahuan modern, termasuk ekonomi beserta seluruh aktivitas dan instrumen pendukungnya, terdokumentasi terutama dalam “bahasa asing”. Bahasa ini dipandang sebagai medium utama bagi jurnal ilmiah, buku teks, laporan riset, kebijakan ekonomi, standar akuntansi, hingga komunikasi pasar global. Karena itu, penguasaan bahasa tersebut sering ditempatkan sebagai prasyarat awal untuk dapat membaca, memahami, dan mengikuti perkembangan ilmu dan ekonomi dunia.

Dalam kerangka tersebut, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bahasa pengarsipan pengetahuan. Apa yang tidak ditulis, didiskusikan, atau diterbitkan dalam bahasa ini kerap dianggap tidak ada, tidak mutakhir, atau tidak relevan. Dengan demikian, bahasa menjadi pintu masuk menuju legitimasi ilmiah dan pengakuan profesional, baik di ranah akademik maupun ekonomi. Mungkin inilah yang telah menjadi kenyataan, sehingga pandangan tersebut terasa biasa, normal atau sudah semestinya demikian itu.

Bahkan dapat dikatakan bahwa pandangan ini memperoleh pembenarannya dari kenyataan historis dan institusional. Sejak abad ke-XX, pusat-pusat produksi pengetahuan dan kekuatan ekonomi global memang berada di wilayah berbahasa asing dimaksud atau yang mengadopsi bahasa tersebut sebagai lingua franca. Konsekuensinya, standar berpikir, kategori analitis, dan istilah teknis pun dibentuk dan distabilkan dalam bahasa itu.

Apakah hal ini dapat dipandang sebagai suatu realitas natural? Atau, apakah globalisasi bahasa asing tertentu bersifat netral? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan reflektif yang harus disikapi dengan bijak. Sebagian kalangan mungkin akan berpandangan bahwa keadaan tersebut sebagai suatu keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Sebagian yang lain mungkin akan mengambil jarak. Mengapa? Karena, bahasa, disadari atau tidak, mungkin sudah selalu membawa serta cara pandang tertentu, asumsi-asumsi epistemik tertentu, dan horizon pengalaman tertentu. Bahasa bukan sekadar wadah yang pasif, melainkan turut membingkai apa yang dapat dikatakan, dipikirkan, dan diakui sebagai pengetahuan yang sah.

Di titik inilah muncul problem reflektif. Ketika penguasaan bahasa asing diperlakukan sebagai syarat utama, perhatian mudah bergeser dari substansi kenyataan menuju “penerimaan” tanpa syarat atas medium yang dipersyaratkan. Pengetahuan yang lahir dari pengalaman lokal, dari praktik hidup konkret, dan dari bahasa-bahasa lain berisiko direduksi nilainya hanya karena tidak dikemas dalam bahasa dominan tersebut.

Lebih jauh lagi, situasi ini berpotensi menciptakan eksklusi epistemik. Individu atau komunitas yang memiliki pengalaman, pemahaman, dan kebijaksanaan yang kaya dapat tersingkir dari percakapan ilmiah dan ekonomi, bukan karena kekosongan pengetahuan, melainkan karena keterbatasan akses linguistik. Bahasa, dalam hal ini, berfungsi sebagai mekanisme seleksi yang halus namun efektif.

Refleksi ini menuntut sikap yang lebih jernih terhadap bahasa asing. Menolaknya secara total tidak realistis dan mungkin dipandang bermasalah, karena dalam kenyataan yang terselenggara bahasa dimaksud memang menjadi alat akses yang penting dalam dunia yang saling terhubung. Namun menerimanya tanpa refleksi juga bermasalah, karena berisiko mengukuhkan dominasi epistemik yang menyingkirkan keragaman cara memahami kenyataan.

Yang dibutuhkan adalah penempatan bahasa asing secara fungsional dan sadar. Bahasa dimakasud dapat digunakan sebagai alat untuk membaca, berdialog, dan berinteraksi secara global, bukan sebagai tolok ukur kebenaran atau keilmiahan itu sendiri. Dengan cara ini, bahasa tetap berada pada posisinya sebagai sarana, bukan sebagai penentu nilai.

Pada saat yang sama, perlu upaya sistematis untuk mengembangkan bahasa sendiri sebagai bahasa pengetahuan dan ekonomi. Ini mencakup penulisan, pendokumentasian, dan pengembangan istilah yang berangkat dari pengalaman hidup konkret masyarakat, sehingga realitas tidak harus selalu diterjemahkan ke dalam kategori asing untuk dianggap sah.

Dengan demikian, relasi dengan bahasa asing tidak bersifat subordinatif maupun antagonistik, melainkan reflektif dan strategis. Penguasaan bahasa global berjalan beriringan dengan penguatan bahasa sendiri dan pengalaman lokal, sehingga ilmu pengetahuan dan ekonomi dapat tumbuh sebagai ekspresi pemahaman atas kenyataan, bukan sekadar sebagai pantulan dari pusat-pusat dominasi linguistik dan epistemik.

***

Pada titik inilah muncul kebutuhan strategis, yakni pentingnya suatu rintisan yang disengaja dan terencana dengan baik untuk menulis serta mendokumentasikan ilmu pengetahuan dalam bahasa sendiri, yang berangkat dari kesadaran bahwa bahasa bukan sekadar alat penyampai gagasan, melainkan ruang tempat pengetahuan dibentuk, disimpan, dan diwariskan. Tanpa rintisan yang sadar dan berkelanjutan, bahasa sendiri akan terus berada pada posisi subordinat, hanya berfungsi sebagai bahasa percakapan sehari-hari, sementara pengetahuan ilmiah dan ekonomi berkembang dalam bahasa lain yang asing dari pengalaman hidup masyarakatnya.

Rintisan yang dimaksud bukanlah tindakan sporadis atau simbolik, melainkan kerja panjang yang sistematis: mencakup penulisan hasil riset, pendokumentasian praktik-praktik ekonomi, pengarsipan dialog keilmuan, serta pengembangan istilah dan kategori analitis dalam bahasa sendiri. Dengan cara ini, bahasa tidak sekadar menerjemahkan konsep yang telah jadi, tetapi menjadi medium tempat konsep-konsep itu lahir dari kenyataan yang dihadapi.

Dalam konteks ilmu pengetahuan, penggunaan bahasa sendiri memungkinkan realitas sosial, ekologis, dan kultural dibaca tanpa harus terlebih dahulu dipaksa masuk ke dalam kerangka konseptual yang berasal dari luar. Bahasa lokal menyimpan nuansa, relasi makna, dan pengalaman historis yang sering tidak sepenuhnya terwakili dalam bahasa global. Menulis ilmu dalam bahasa sendiri berarti memberi ruang bagi kenyataan untuk berbicara dengan logikanya sendiri.

Hal yang sama berlaku dalam ranah ekonomi. Aktivitas ekonomi pada dasarnya tertanam dalam cara hidup, cara bermukim, dan cara manusia berhubungan dengan alam serta sesamanya. Jika ekonomi hanya dipikirkan dan didokumentasikan dalam bahasa yang terpisah dari konteks sosio-ekologis tersebut, maka ekonomi berisiko berubah menjadi sistem abstrak yang tercerabut dari kehidupan nyata. Bahasa sendiri memungkinkan ekonomi dipahami sebagai praktik hidup, bukan semata sebagai model atau angka.

Rintisan yang terencana juga penting untuk menjaga kesinambungan pengetahuan. Dokumentasi yang rapi dan konsisten menciptakan arsip intelektual yang dapat dirujuk, dikritik, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Tanpa arsip dalam bahasa sendiri, pengalaman dan pemikiran akan terus terputus, dan setiap generasi dipaksa memulai dari awal atau bergantung pada rujukan eksternal.

Lebih jauh, pengangkatan bahasa sendiri menjadi bahasa ilmu dan bahasa ekonomi memiliki dampak kultural yang mendalam. Kita dapat mengatakan bahwa hal itu akan memperluas akses warga terhadap pengetahuan, mengurangi jarak antara ilmuwan, pelaku ekonomi, dan masyarakat luas, serta memperkuat posisi warga sebagai subyek epistemik, bukan sekadar konsumen gagasan.

Namun, rintisan semacam ini menuntut disiplin dan kesabaran. Langkah ini, pada nantinya akan memerlukan standar penulisan, etika keilmuan, ruang dialog kritis, dan keberanian untuk menerima bahwa bahasa sendiri akan berkembang melalui perdebatan, ketidaksempurnaan, dan koreksi terus-menerus. Bahasa ilmu tidak lahir sempurna, melainkan tumbuh bersama praktik berpikir yang dijalani.

Dengan demikian, tujuan utama dari rintisan ini bukan sekadar kebanggaan linguistik, melainkan penjagaan keterhubungan antara ilmu, ekonomi, dan realitas sosio-ekologis tempat keduanya berakar. Ketika bahasa sendiri menjadi medium utama pengetahuan dan ekonomi, maka ilmu dan praktik ekonomi yang berkembang memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan, bertanggung jawab, dan selaras dengan kehidupan nyata yang selaras dengan realitas sosio-ekologi setempat. [desanomia – 271225 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *