Sumber ilustrasi: Pixabay
6 April 2026 12.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [06.04.2026] Model iklim selama ini menjadi alat utama untuk memahami perubahan iklim global, termasuk dalam mengukur keseimbangan energi Bumi, yaitu selisih antara energi yang diterima dari Matahari dan energi yang dipantulkan kembali ke luar angkasa. Secara teori, peningkatan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia telah diketahui memperbesar ketidakseimbangan ini, sehingga memicu pemanasan global.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa ketidakseimbangan energi Bumi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan oleh model iklim terbaik saat ini. Data observasi satelit mengungkapkan bahwa sejak dua dekade terakhir, khususnya setelah 2010, jumlah energi yang terperangkap di atmosfer meningkat drastis. Kondisi ini menandakan bahwa sistem iklim Bumi menyerap lebih banyak energi daripada yang mampu dilepaskan kembali ke angkasa.
Pada tahun 2023, ketidakseimbangan energi Bumi tercatat mencapai 1,8 watt per meter persegi, sekitar dua kali lipat dari estimasi model iklim. Perbedaan signifikan ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kelengkapan dan akurasi model dalam merepresentasikan proses fisik di atmosfer.
Perbedaan antara hasil model dan observasi nyata menunjukkan adanya komponen penting dalam sistem iklim yang belum sepenuhnya dipahami atau dimasukkan ke dalam simulasi. Para peneliti mengindikasikan bahwa interaksi antara awan dan aerosol kemungkinan menjadi faktor kunci yang selama ini kurang terwakili dalam model.
Aerosol, yaitu partikel kecil di atmosfer, diketahui memiliki peran kompleks dalam memengaruhi pembentukan dan sifat awan. Konsentrasi aerosol yang tinggi dapat menghasilkan awan dengan tetesan yang lebih kecil dan lebih banyak, sehingga meningkatkan kemampuan awan untuk memantulkan radiasi Matahari kembali ke luar angkasa. Selain itu, aerosol juga berkontribusi terhadap umur awan, yang pada akhirnya memengaruhi keseimbangan energi global.
Akan tetapi sejak sekitar tahun 2010, terjadi penurunan konsentrasi aerosol secara global, terutama akibat kebijakan pengurangan emisi di beberapa negara besar serta regulasi baru dalam sektor pelayaran. Penurunan ini diduga mengurangi kemampuan awan dalam memantulkan energi, sehingga lebih banyak panas terserap oleh sistem Bumi.
Di sisi lain, peningkatan suhu permukaan juga dapat memengaruhi dinamika awan. Model iklim saat ini kemungkinan belum sepenuhnya menangkap bagaimana perubahan suhu ini memodifikasi struktur dan perilaku awan, termasuk dalam mengatur pelepasan energi ke luar angkasa. Analisis para peneliti menunjukkan bahwa model secara konsisten meremehkan jumlah energi yang diserap Bumi, terutama dalam periode 2010 hingga 2024.
Upaya untuk menjelaskan ketidaksesuaian ini telah mencakup berbagai faktor, seperti variabilitas alami iklim dan proses umpan balik yang kompleks. Namun, bahkan setelah mempertimbangkan berbagai skenario emisi, model tetap gagal mereplikasi tren peningkatan tajam yang terlihat dalam data satelit. Hal ini mengindikasikan adanya mekanisme tersembunyi yang belum teridentifikasi secara jelas.
Penelitian yang dilakukan dengan menggabungkan 15 model iklim mutakhir, data radiasi satelit, dan catatan suhu permukaan semakin menegaskan adanya kekurangan dalam representasi sistem iklim saat ini. Para ilmuwan juga menyoroti bahwa heterogenitas aerosol, baik dari segi jenis maupun distribusi geografis, membuat proses ini sangat sulit dimodelkan secara akurat.
Lebih lanjut, terdapat dua kemungkinan utama terkait peningkatan ketidakseimbangan energi ini. Jika penyebab utamanya adalah penurunan aerosol, maka laju peningkatan seharusnya akan melambat seiring stabilisasi konsentrasi aerosol. Jika faktor dominannya adalah respons awan terhadap kenaikan suhu permukaan, maka ketidakseimbangan energi berpotensi terus meningkat dan mempercepat pemanasan global melebihi pengaruh gas rumah kaca saja. Hasil penelitian justru menunjukkan bahwa skenario kedua tidak sepenuhnya didukung oleh data yang ada.
Ketidakseimbangan energi Bumi ternyata meningkat jauh lebih cepat daripada yang diprediksi model iklim, dengan selisih yang terus melebar antara simulasi dan observasi nyata. Temuan ini mengindikasikan bahwa model saat ini masih belum mampu sepenuhnya menangkap kompleksitas interaksi antara awan, aerosol, dan suhu permukaan. Untuk meningkatkan akurasi prediksi iklim di masa depan, diperlukan penyempurnaan model yang lebih baik dalam merepresentasikan proses-proses tersebut, terutama dalam memahami peran aerosol dan dinamika awan dalam mengatur aliran energi global.
Diolah dari artikel:
“Earth’s energy imbalance is much more extreme than climate models show — but scientists aren’t sure why” oleh Sascha Pare. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.