Benarkah Otak Manusia Baru Dewasa Setelah Usia 30 Tahun?

Sumber ilustrasi: Pixabay
16 Maret 2026 11.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [16.03.2026] Selama ini banyak orang menganggap masa dewasa dimulai sekitar usia 18 hingga 21 tahun. Pada usia tersebut seseorang biasanya telah menyelesaikan masa sekolah dan mulai menjalani kehidupan mandiri. Namun pandangan tersebut terutama didasarkan pada perubahan fisik dan sosial yang terlihat dari luar. Ilmu saraf modern menunjukkan bahwa perkembangan biologis manusia, khususnya pada otak, berlangsung jauh lebih lama dari yang selama ini dipahami.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa struktur otak manusia belum sepenuhnya mencapai bentuk dewasa hingga awal usia 30-an. Temuan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana para ilmuwan mendefinisikan masa remaja dan masa dewasa. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan menjadi bagian dari analisis besar mengenai perubahan jaringan otak sepanjang kehidupan manusia.

Penelitian ini dipimpin oleh ahli saraf Alexa Mousley dan Duncan Astle dari University of Cambridge. Tim peneliti menganalisis pemindaian otak dari lebih dari 4.000 individu yang berusia mulai dari bayi hingga 90 tahun. Data tersebut berasal dari berbagai penelitian sebelumnya yang kemudian digabungkan untuk memetakan perubahan konektivitas saraf sepanjang hidup manusia.

Selama masa remaja, perubahan yang terlihat secara kasat mata biasanya berkaitan dengan pubertas dan perkembangan fisik menuju kedewasaan. Akan tetapi di balik perubahan tersebut, otak juga mengalami proses reorganisasi yang kompleks. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses ini berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Otak manusia mengandung sekitar 86 miliar neuron yang saling terhubung dalam jaringan komunikasi yang sangat kompleks. Setiap neuron memiliki bagian panjang yang disebut akson yang berfungsi mengirimkan sinyal ke neuron lain. Akson dilapisi oleh sel pelindung berlemak yang dikenal sebagai materi putih, sedangkan badan sel neuron membentuk materi abu-abu.

Jumlah neuron relatif stabil sepanjang hidup manusia. Namun demikian, koneksi antar neuron terus berubah melalui proses pembentukan koneksi baru dan penghapusan koneksi yang jarang digunakan. Proses ini dikenal sebagai penyusunan ulang jaringan saraf dan berperan penting dalam perkembangan kemampuan kognitif.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan meneliti perubahan konektivitas otak dengan menganalisis pola hubungan antar wilayah otak pada berbagai usia. Analisis ini mengungkap bahwa perkembangan otak tidak berlangsung secara bertahap, melainkan melalui beberapa periode perubahan besar.

Studi tersebut mengidentifikasi lima fase utama perkembangan otak sepanjang kehidupan manusia. Fase pertama berlangsung sejak lahir hingga sekitar usia sembilan tahun, ketika otak anak memiliki sangat banyak koneksi saraf yang kemudian dipangkas untuk meningkatkan efisiensi jaringan.

Fase kedua dimulai sekitar usia sembilan tahun dan berlangsung hingga sekitar usia 32 tahun. Periode ini disebut sebagai masa remaja dalam konteks perkembangan otak. Pada fase ini jaringan saraf mengalami peningkatan efisiensi komunikasi antar wilayah otak.

Peneliti menemukan bahwa peningkatan efisiensi jaringan saraf selama masa remaja berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Proses tersebut terus berlanjut hingga awal usia 30-an, menunjukkan bahwa perkembangan otak menuju kondisi dewasa masih berlangsung pada periode yang biasanya sudah dianggap sebagai masa dewasa dalam kehidupan sosial.

Setelah usia sekitar 32 tahun, koneksi otak cenderung menjadi lebih stabil hingga sekitar usia 66 tahun. Periode ini sering disebut sebagai masa dewasa dalam perkembangan otak.

Perubahan berikutnya terjadi pada fase penuaan awal hingga sekitar usia 83 tahun. Pada tahap ini beberapa koneksi saraf mulai berkurang dan efisiensi jaringan otak menurun. Setelah itu, manusia memasuki fase penuaan lanjut dengan perubahan struktur otak yang lebih besar.

Menurut analisis ilmiah terhadap data tersebut, perubahan konektivitas otak sering berkaitan dengan tahap penting dalam kehidupan manusia. Ahli saraf Lucina Uddin menilai bahwa perubahan dalam komunikasi antar wilayah otak cenderung muncul bersamaan dengan transisi besar dalam tahap kehidupan.

Temuan tersebut juga memiliki implikasi penting bagi penelitian kesehatan mental. Perubahan dalam pola koneksi saraf dapat memengaruhi kemampuan perhatian, bahasa, memori, serta berbagai aspek perilaku manusia. Banyak gangguan kesehatan mental diketahui muncul pada masa remaja ketika reorganisasi jaringan otak sedang berlangsung secara intensif.

Penelitian ini juga menyoroti keterbatasan pemahaman ilmiah saat ini mengenai perkembangan otak. Ahli saraf kognitif Hillary Schwarb menilai bahwa penelitian tersebut penting tetapi hanya meneliti satu komponen struktur otak, yaitu materi putih. Hubungan antara perubahan struktur tersebut dengan perkembangan perilaku dan cara berpikir manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa perkembangan otak manusia berlangsung jauh lebih lama dari yang selama ini diperkirakan. Analisis terhadap ribuan pemindaian otak menunjukkan bahwa reorganisasi jaringan saraf yang meningkatkan efisiensi komunikasi antar wilayah otak dapat berlangsung hingga sekitar usia 32 tahun. Temuan ini memberikan sudut pandang baru mengenai batas antara masa remaja dan masa dewasa dalam konteks perkembangan biologis otak.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perkembangan otak terjadi melalui beberapa fase besar sepanjang kehidupan manusia, mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja yang panjang, masa dewasa, hingga tahap penuaan. Meskipun temuan ini memberikan gambaran baru mengenai dinamika perkembangan otak, para ilmuwan menilai masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana perubahan struktur saraf tersebut memengaruhi perilaku, kemampuan kognitif, dan kesehatan mental sepanjang hidup manusia.

Diolah dari artikel:
“Adolescence appears to last far longer than once thought” oleh Alison Pearce Stevens. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/long-adolescence-adult-brain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *