Sumber ilustrasi: Freepik
21 Maret 2026 11.12 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Jika dalam obrolan di gardu ronda diajukan pertanyaan: apakah itu biaya (“ongkos”) perang? Apa kira-kira jawaban yang akan disodorkan? Apa pula reaksi atas jawaban tersebut? ke arah mana obrolan akan bergerak? Apa pula yang akan berkembang ketika jumlah biaya dibandingkan dengan biaya hidup sehari-hari? Atau bahkan dibandingkan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara?
Masing-masing kita barangkali punya “bayangan” (gambar dalam angan masing-masing) yang berbeda. Ada yang menganggap bahwa tema tersebut tidak mungkin menjadi bahan obrolan, apalagi jika diharapkan suatu obrolan yang masuk ke dimensi yang kompleks. Hal ini sangat wajar, karena penghuni gardu ronda tidak dibayangkan adalah pribadi-pribadi tertentu, misalnya para pemikir dan periset di lapangan politik atau ekonomi.
Tidak dihindari munculnya bias. Tetapi kita memahami bias tersebut, karena memang senyatanya telah terjadi perubahan budaya. Konsep keamanan keliling telah tidak lagi dipahami sebagaimana masa lalu, di mana keamanan telah menjadi suatu unit fungsi khusus, sehingga dapat didelegasikan kepada pihak tertentu. Akibatnya sulit dijumpai situasi masa lalu tersebut, terlebih tata hidup telah menjadi lebih kompleks.
Oleh sebab itu, sulit terbayangkan jika obrolan di gardu ronda menjadi gayeng, lantaran yang terlibat obrolan adalah pribadi-pribadi yang update, baik terhadap situasi ataupun terhadap perkembangan pemikiran. Kini, kita bayangkan situasi itulah yang terjadi. Suatu obrolan ringan menyangkut hal yang barangkali jarang menjadi diskursus publik. Beberapa kemungkinan bisa saja terjadi. Begini:
Sebagai respon atas pertanyaan yang didorong dalam obrolan tersebut, salah satu yang hadir mengajukan deskripsi berikut ini:
Meskipun tampak mirip dengan hal tentang biaya pada umumnya, namun konsep biaya perang, sebenarnya melampaui pengertian ekonomi yang terbatas dan boleh jadi masuk ranah normatif yang kompleks. Biaya tidak hanya merujuk pada pengeluaran negara untuk persenjataan, logistik, dan rekonstruksi, melainkan mencakup dimensi etis, sosial, dan eksistensial yang melekat pada tindakan kolektif bernama perang. Dengan begitu, kalau kita bicara tentang biaya perang, pada akhirnya akan menuntut refleksi atas nilai kehidupan manusia, legitimasi kekuasaan, serta batas-batas moral tindakan politik.
Apa reaksi yang hadir dengan deskripsi tersebut? Kita mungkin belum bisa membayangkan jika deskripsi tersebut justru ditimpali dengan uraian yang bersifat memperdalam:
Jika begitu, pengertian biaya menjadi luas dan mendalam. Bukan sekedar ongkos, seperti kita menyebut “ongkir” (ongkos kirim). Atau “ongkul”(ongkos kuliah), yakni keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan satu masa studi. Apabila untuk memperoleh gelar kesarjanaan, masa kuliah selama 4-5 tahun, maka yang disebut sebagai “ongkul” adalah seluruh biaya yang dikeluarkan selama periode tersebut. Bukan hanya biaya yang disetorkan ke kampus, tetapi juga biaya hidupnya.
Apa yang tidak terhitung dalam penghitungan ongkul adalah biaya lain yang tidak ter-rupiah-kan, yakni hal-hal yang sering disebut sebagai “pengorbanan”. Artinya, jika elemen ini masuk dalam pengertian biaya perang, maka biaya perang sebenarnya berkaitan langsung dengan pengorbanan manusia, seperti kehilangan nyawa, penderitaan fisik, serta trauma psikologis. Kesemuanya menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Uraian yang demikian itu, barangkali akan membuat yang menyimak harus menahan nafas beberapa saat. Apa yang semula dianggap hanya soal berkaitan dengan besaran “uang”, ternyata punya makna yang lebih luas dan dalam. Kita bisa membayangkan apa yang akan berlangsung di dalam pikiran masing-masing yang hadir? Kecamuk pikiran dan perasaan. Perang tidak lagi sebagai konflik bersenjata, tetapi sangat mungkin berubah wajah menjadi dilema moral: apakah suatu tujuan politik dapat membenarkan hilangnya kehidupan manusia dalam skala besar.
Bila kita bayangkan salah satu yang hadir dalam obrolan itu adalah mahasiswa doktoral yang sedang kehausan pengetahuan dan hendak menyusun suatu horison baru. Masalah-masalah tersebut sangat mungkin mengantarkannya pada refleksi lebih lanjut: tentang nilai intrinsik kehidupan dan batas legitimasi tindakan kekerasan. Mengapa kekerasan masih juga berjaya di abad XXI? Mengapa ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan filsafat tidak mampu menghentikan langkah kekerasan?
Obrolan telah memasuki dimensi yang luas. Sebagian ada yang setuju dan sebagian yang lain masih meraba-raba, apakah soal biaya perang memang demikian luas maknanya? Sementara yang tidak setuju, berjuang untuk memahami, mengapa masalah tampak sederhana menjadi demikian rumit? Kita membayangkan obrolan larut dalam pencarian yang tidak berujung. Seandainya ada yang mencatat obrolan tersebut, barangkali akan disusun sebagai berikut:
- Jika optik proporsionalitas dapat dipakai, maka akan ada tuntutan agar kerugian yang ditimbulkan oleh perang tidak melebihi kebaikan yang ingin dicapai. Dengan demikian, biaya perang menjadi ukuran moral yang menentukan sah atau tidaknya suatu konflik bersenjata. Dalam perspektif ini, perang tidak dapat dilepaskan dari evaluasi etis yang ketat.
- Selain dimensi moral, biaya perang juga berkaitan erat dengan legitimasi politik. Negara modern memonopoli penggunaan kekerasan dan memiliki otoritas untuk memutuskan kapan perang dilakukan. Namun, otoritas tersebut tidak bersifat absolut. Ketika biaya perang terlalu besar, baik dalam bentuk penderitaan manusia maupun kehancuran sosial, legitimasi negara dapat dipertanyakan. Rakyat dapat menilai bahwa negara gagal memenuhi tujuan dasar pembentukannya.
- Dalam kerangka kontrak sosial, perang menimbulkan ketegangan antara kewajiban negara dan hak warga negara. Negara dituntut untuk melindungi keamanan kolektif, tetapi perang sering kali justru mengorbankan warga yang seharusnya dilindungi. Biaya perang, dalam konteks ini, menjadi indikator apakah kontrak sosial masih berjalan atau telah mengalami keretakan mendasar.
- Dimensi keadilan distributif juga tidak dapat diabaikan. Biaya perang jarang didistribusikan secara merata. Kelompok tertentu, seperti tentara dan warga sipil di wilayah konflik, menanggung beban yang jauh lebih besar dibandingkan elite politik atau ekonomi. Ketimpangan ini menimbulkan pertanyaan tentang keadilan: apakah adil jika sebagian pihak menanggung penderitaan ekstrem sementara pihak lain relatif terlindungi.
- Dalam perspektif filsafat politik modern, analisis terhadap biaya perang juga mencakup struktur kekuasaan global. Perang tidak hanya terjadi dalam konteks nasional, tetapi juga dalam relasi internasional yang kompleks. Biaya sering kali ditanggung oleh negara atau kelompok yang lebih lemah, sementara keuntungan strategis dinikmati oleh kekuatan yang lebih dominan. Hal ini memperlihatkan bahwa biaya perang memiliki dimensi struktural yang terkait dengan ketimpangan global.
- Lain dari semua itu, biaya perang dapat dipahami sebagai kritik terhadap rasionalitas politik itu sendiri. Jika perang menghasilkan kerugian yang begitu besar, maka muncul pertanyaan apakah perang merupakan sarana yang rasional untuk mencapai tujuan politik. Dalam kerangka ini, biaya perang menjadi argumen untuk mengembangkan tatanan politik yang lebih damai dan kooperatif.
- Bagi yang berpandangan lebih eksistensial, yang lebih disorot adalah dampak terhadap manusia sebagai makhluk yang bermakna. Perang tidak hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga merusak makna kehidupan, identitas, dan hubungan sosial. Trauma yang dihasilkan sering kali berlangsung lintas generasi, menciptakan luka kolektif yang sulit dipulihkan. Biaya ini tidak dapat diukur secara kuantitatif, tetapi memiliki dampak yang sangat nyata.
- Selain itu, perang juga mengubah cara masyarakat memahami kemanusiaan. Kekerasan yang terlegitimasi dapat menyebabkan dehumanisasi terhadap pihak lawan, bahkan terhadap sesama warga. Dalam kondisi tersebut, batas moral yang biasanya mengatur kehidupan sosial menjadi kabur. Biaya perang, dengan demikian, mencakup degradasi nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar.
Apa yang dapat ditangkap dari keseluruhan pandangan tersebut? Kita dapat mengatakan bahwa obrolan mengenai biaya perang, sebenarnya dapat menyingkap hal-hal mendasar yang terlahir ternormalisasi dalam tata modem ini. Dalam situasi tersebut nilai-nilai dasar kehidupan telah mengalami degradasi atau mengalami kemerosotan yang dalam. Karena itu, obrolan tentang biaya perang dengan semua dimensinya, sebenarnya membuka jalan untuk refleksi lebih fundamental mengenai batas legitimasi kekerasan dalam kehidupan politik dan kemungkinan untuk melampaui perang sebagai instrumen politik.
Bagaimana menurut anda? [desanomia – 210326 – dja]