Bintang Laut Mengoordinasikan Ratusan Kaki Tanpa Otak?

Sumber ilustrasi: Pixabay
31 Januari 2026 12.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [31.01.2026] Bintang laut, atau yang juga dikenal sebagai bintang samudra, telah lama dikenal sebagai hewan laut yang mampu bergerak di hampir semua jenis permukaan. Hewan ini dapat merayap di batu, pasir, kaca, bahkan permukaan terbalik, seperti bagian bawah bebatuan atau dinding akuarium. Kemampuan tersebut tampak luar biasa, terutama karena bintang laut tidak memiliki otak maupun sistem saraf terpusat.

Selama ini, pergerakan kompleks pada hewan umumnya dikaitkan dengan adanya pusat kendali saraf. Namun demikian, bintang laut menantang pemahaman tersebut. Dengan tubuh berlengan banyak dan ratusan kaki kecil yang bergerak bersamaan, hewan ini mampu menavigasi lingkungan yang sulit tanpa arahan pusat.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim internasional ahli biologi dan insinyur mengungkap bagaimana bintang laut dapat mengatur gerakannya secara efisien. Studi ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut berasal dari mekanisme terdesentralisasi yang tertanam langsung pada struktur tubuh bintang laut.

Bagian bawah setiap lengan bintang laut dipenuhi oleh deretan kaki tabung hidrolik yang disebut podia. Setiap kaki terdiri atas batang lentur berotot yang memompa cairan melalui sistem pembuluh air, serta ujung berbentuk cakram pipih yang dapat menempel pada permukaan menggunakan lendir perekat kaya protein.

Pada spesies bintang laut umum (Asterias rubens), setiap lengan memiliki empat baris kaki tabung. Dengan lima lengan, hewan ini harus mengoordinasikan ratusan kaki yang bekerja secara independen untuk dapat bergerak. Tantangan ini semakin besar karena tidak adanya pusat kendali saraf.

Penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara ukuran tubuh dan kecepatan bergerak pada bintang laut tidak mengikuti pola umum pada hewan lain. Pada banyak spesies, tubuh yang lebih besar atau jumlah anggota tubuh yang lebih banyak biasanya menyebabkan pergerakan lebih lambat. Namun, pada Asterias rubens, kecepatan merayap relatif tidak bergantung pada jumlah kaki yang menyentuh permukaan.

Untuk memahami kaki mana yang aktif selama pergerakan, para peneliti menggunakan kaca khusus yang sangat refraktif dan diterangi cahaya. Ketika kaki bintang laut menyentuh kaca, pola pembiasan cahaya berubah dan menghasilkan titik terang yang menandai area kontak. Teknik ini memungkinkan pemetaan gerakan kaki secara detail.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kecepatan merayap bintang laut tetap stabil meskipun jumlah kaki yang digunakan berubah. Akan tetapi, ketika kaki tabung menempel lebih lama pada permukaan, kecepatan gerak justru menurun. Hal ini menunjukkan bahwa faktor utama pengendali gerak bukan jumlah kaki, melainkan durasi kontak masing-masing kaki.

Temuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa koordinasi gerak pada bintang laut tidak diatur oleh sistem saraf pusat, melainkan oleh respons lokal terhadap beban mekanis. Setiap kaki menyesuaikan waktu menempelnya berdasarkan tekanan dan gaya yang diterima.

Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti menambahkan beban berupa “ransel” kecil pada tubuh bintang laut. Beban tersebut setara dengan 25 hingga 50 persen dari berat tubuh hewan. Hasilnya menunjukkan bahwa kaki tabung menempel lebih lama ketika beban bertambah, menandakan adanya penyesuaian otomatis terhadap tekanan tambahan.

Penelitian juga mencakup pengamatan pergerakan terbalik, ketika bintang laut berjalan di bagian atas wadah percobaan. Dalam kondisi ini, kaki tabung kembali menyesuaikan perilaku kontaknya untuk melawan gaya gravitasi, baik berdasarkan pengamatan langsung maupun simulasi komputer.

Seluruh temuan ini menunjukkan bahwa bintang laut mengandalkan strategi terdesentralisasi yang sangat tangguh. Setiap kaki bertindak secara semi-independen, namun bersama-sama menghasilkan pola gerak yang terkoordinasi dan efektif di berbagai kondisi lingkungan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bintang laut mampu mengoordinasikan ratusan kaki tanpa bantuan otak atau sistem saraf terpusat. Kemampuan tersebut dicapai melalui penyesuaian lokal pada setiap kaki tabung, khususnya dengan mengatur durasi kontak terhadap permukaan sesuai dengan beban mekanis dan orientasi tubuh.

Secara keseluruhan, temuan ini memperluas pemahaman tentang bagaimana sistem biologis sederhana dapat menghasilkan perilaku kompleks. Strategi gerak terdesentralisasi pada bintang laut tidak hanya menjelaskan keberhasilan adaptasi hewan ini di lingkungan laut, tetapi juga berpotensi menginspirasi desain sistem robotik dan teknologi bergerak tanpa kendali pusat.

Diolah dari artikel:
“Starfish Control Hundreds of Feet Without a Brain. Here’s How.” oleh Jess Cockerill.

Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencealert.com/starfish-control-hundreds-of-feet-without-a-brain-heres-how

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *