Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
1 Maret 2026 11.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [01.03.2026] Mosasaurus selama ini dikenal sebagai predator puncak lautan pada periode Kapur Akhir. Reptil raksasa yang lebih dekat kekerabatannya dengan kadal dan ular dibanding dinosaurus ini memiliki ekor mirip hiu dan sirip berbentuk dayung, adaptasi yang memungkinkan pergerakan lincah di perairan asin.
Kelompok ini muncul sekitar 100 juta tahun lalu dan mencapai panjang hingga 11 meter pada beberapa spesies besar, termasuk dari genus Prognathodontini. Seperti dinosaurus non-unggas lainnya, mosasaurus punah sekitar 66 juta tahun lalu setelah tumbukan asteroid besar mengakhiri era Kapur.
Akan tetapi, sebuah temuan fosil baru mengguncang asumsi lama tersebut. Sebuah gigi mosasaurus berusia 66 juta tahun ditemukan bukan di endapan laut, melainkan di bekas dataran banjir sungai di kawasan yang kini dikenal sebagai Hell Creek Formation di Amerika Serikat.
Lokasi ini terkenal sebagai situs penting fosil dinosaurus, termasuk Tyrannosaurus rex. Penemuan gigi mosasaurus di antara fosil dinosaurus dan buaya purba memunculkan pertanyaan mendasar: apakah sebagian mosasaurus pernah hidup di air tawar?
Penemuan tersebut terjadi pada 2022 ketika tim dari North Dakota Geological Society menggali fosil di bekas dataran banjir sungai. Dalam satu bongkah batu, ditemukan tiga fosil sekaligus: gigi T. rex, tulang rahang buaya purba, dan gigi mosasaurus.
Awalnya, keberadaan reptil laut di lingkungan sungai dianggap anomali. Para peneliti berupaya memastikan apakah gigi tersebut mungkin terbawa arus dari laut. Untuk menguji hipotesis ini, mereka melakukan analisis isotop dan membandingkan hasilnya dengan koleksi di Vrije University Amsterdam.
Teknik analisis isotop memeriksa variasi atom dari unsur yang sama untuk mengungkap kondisi lingkungan tempat organisme hidup. Peneliti memfokuskan pada isotop oksigen, stronsium, dan karbon yang tersimpan dalam struktur gigi.
Jika mosasaurus hidup di laut, komposisi isotop oksigennya akan menunjukkan dominasi isotop berat yang umum di air asin. Namun, hasil pengujian menunjukkan dominasi isotop ringan yang lebih khas lingkungan air tawar. Pola serupa juga terlihat pada isotop stronsium dan karbon.
Temuan ini mengindikasikan bahwa mosasaurus tersebut hidup dan mati di lingkungan sungai, bukan sekadar hanyut dari laut. Hasil penelitian dipublikasikan pada 12 Desember 2025 di jurnal BMC Zoology.
Implikasi temuan ini cukup luas. Selama ini mosasaurus dianggap sepenuhnya sebagai reptil laut. Paleontolog yang tidak terlibat dalam penelitian menilai hasil ini sebagai bukti adaptasi habitat yang sebelumnya tidak terduga.
Pada periode Kapur Akhir, sebagian Amerika Utara terbelah oleh Western Interior Seaway, laut dangkal tropis yang kaya mangsa. Ketika kondisi geologi dan kadar garam berubah akibat pengangkatan daratan, sebagian populasi mosasaurus mungkin beradaptasi terhadap lingkungan dengan salinitas lebih rendah.
Hipotesis lain menyebut bahwa mosasaurus mengikuti mangsa hingga ke sistem sungai. Adaptasi ke air tawar juga berpotensi mengurangi persaingan dengan predator laut lain, memungkinkan mereka menempati relung ekologi baru.
Fenomena adaptasi organisme laut ke air tawar bukan tanpa preseden. Lumba-lumba Sungai Amazon merupakan contoh mamalia laut yang beradaptasi penuh ke lingkungan sungai. Beberapa reptil laut purba lainnya juga pernah ditemukan di endapan air tawar.
Para peneliti menilai bahwa kemungkinan masih ada fosil mosasaurus air tawar yang belum teridentifikasi, karena selama ini pencarian difokuskan pada lingkungan laut. Penemuan kerangka lengkap di masa depan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang perubahan anatomi yang mungkin terjadi akibat adaptasi tersebut.
Penemuan gigi mosasaurus di Hell Creek Formation menunjukkan bahwa sebagian anggota kelompok predator raksasa ini mungkin tidak terbatas pada lingkungan laut. Analisis isotop mengindikasikan kehidupan di air tawar, sehingga menantang pandangan lama mengenai ekologi mosasaurus.
Temuan ini membuka kembali diskusi tentang fleksibilitas adaptasi reptil purba dan memperlihatkan bahwa sebelum kepunahan massal 66 juta tahun lalu, mosasaurus kemungkinan memiliki keragaman habitat yang lebih luas daripada yang selama ini diperkirakan. Penelitian lanjutan diharapkan mampu mengungkap sejauh mana ekspansi ekologis tersebut terjadi.
Diolah dari artikel:
“Prehistoric ‘sea’ monster also lurked in rivers, data show” oleh Amelia Macapia. [njd]
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/mosasaur-tooth-fossil-river