Sumber ilustrasi: unsplash
13 Juni 2025 11.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [13.6.2025] Rangkaian protes besar-besaran menentang penggerebekan imigrasi dan kebijakan deportasi yang diperkuat di bawah pemerintahan Trump menyebar ke berbagai kota besar di Amerika Serikat. Langkah presiden untuk mengerahkan Garda Nasional dan Marinir memperkeruh situasi, memicu kekhawatiran tentang pendekatan militer terhadap isu sipil.
Para aktivis merencanakan aksi nasional bertajuk “No Kings” pada hari Sabtu mendatang, yang akan bertepatan dengan rencana parade militer Trump di Washington, D.C., sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap otoriter.
Pengerahan militer dalam negeri direspons secara berbeda oleh pemerintah daerah. Di Texas, Gubernur Greg Abbott menolak memberikan rincian penempatan pasukan, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil untuk mencegah skenario seperti yang terjadi di California, di mana bentrokan menjadi semakin intens.
Namun, kota seperti San Antonio menyatakan tidak mengetahui secara pasti jumlah dan fungsi dari pasukan yang dikirim, menandakan adanya ketidaksesuaian koordinasi antara pemerintah negara bagian dan lokal. Berikut merupakan kondisi dari beberapa kota yang hingga kini masih melakukan demonstrasi, dengan jumlah yang akan bertambah.
New York
Demonstrasi terbesar terjadi di New York City, dengan ribuan orang memadati Foley Square. Aksi awalnya berlangsung damai, namun memanas ketika sebagian peserta mencoba menerobos pengamanan. Video menunjukkan lemparan benda ke arah kendaraan aparat dan konfrontasi fisik.
Polisi mengatakan sebagian besar pengunjuk rasa bersikap tertib, namun tindakan sebagian kecil menyebabkan kekacauan. Komisaris Tisch menekankan bahwa polisi akan menjamin hak protes damai, namun menindak tegas kekerasan dan pelanggaran hukum.
San Antonio
Meski suasana relatif damai, langkah aparat menutup akses ke situs bersejarah Alamo dan pengerahan Garda Nasional mencerminkan kekhawatiran akan potensi eskalasi. Beberapa demonstran menyuarakan kritik terhadap tindakan simbolik yang menunjukkan kekuatan militer sebagai respons terhadap aksi sipil.
Wali Kota Nirenberg menyampaikan empatinya kepada masyarakat, namun menekankan pentingnya menjaga hukum dan ketertiban dalam menyampaikan aspirasi.
Philadelphia dan San Francisco
Di dua kota ini, gelombang demonstrasi melibatkan aksi langsung yang lebih konfrontatif. Di Philadelphia, penggunaan kekuatan oleh polisi saat penangkapan akan ditinjau ulang, menimbulkan pertanyaan tentang proporsionalitas respon aparat.
San Francisco menjadi salah satu titik api, di mana jumlah peserta melonjak tajam dalam waktu dua hari. Kerusakan properti seperti kendaraan dan gedung publik memperlihatkan adanya elemen destruktif yang menyusupi aksi protes yang semula damai.
Seattle dan Chicago
Penutupan akses ke pengadilan imigrasi di Seattle, termasuk untuk wartawan dan pengacara pendamping, menimbulkan kekhawatiran akan transparansi proses hukum. Hal ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk persepsi terhadap sistem peradilan imigrasi yang dianggap tidak adil dan tertutup.
Sementara itu, insiden di Chicago yang menyebabkan luka serius pada seorang warga lansia menggambarkan tingginya risiko eskalasi kekerasan dalam protes jalanan. Penangkapan atas tuduhan penyerangan terhadap aparat juga memperlihatkan bahwa protes di kota ini berlangsung dalam ketegangan tinggi.
Denver
Aksi di Denver melibatkan ribuan orang yang membagi diri menjadi dua kelompok dan menutup jalanan utama. Penggunaan peluru merica dan gas asap oleh aparat memperlihatkan bagaimana pihak berwenang mulai mengadopsi taktik keras untuk membubarkan massa yang dianggap tidak tertib.
Poster-poster seperti “ICE pengecut” menandakan kemarahan publik yang semakin terbuka terhadap keberadaan dan metode ICE, serta tuntutan untuk pembubaran lembaga tersebut.
Spokane
Wali Kota Spokane, Lisa Brown, menetapkan jam malam di pusat kota mulai Rabu pukul 21.30 hingga Kamis pukul 05.00, usai unjuk rasa di depan kantor ICE.
Kepala Polisi Kevin Hall menyebut lebih dari 30 orang ditangkap, dan polisi menggunakan peluru merica untuk membubarkan massa, menurut KREM-TV.
Brown menegaskan mayoritas pengunjuk rasa bersikap damai dan memiliki hak untuk memprotes kebijakan federal. Jam malam diberlakukan demi menjaga keselamatan publik. Jam malam dikecualikan bagi petugas, media, warga sekitar, penonton pertandingan sepak bola lokal, dan orang yang bepergian untuk bekerja.
Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial-politik yang mengarah pada polarisasi tajam antara kebijakan pemerintah dan aspirasi warga. Ketegangan ini tidak hanya menjadi isu domestik, tetapi juga mempengaruhi persepsi global terhadap Amerika sebagai pusat demokrasi dan stabilitas hukum.
Dari sisi ekonomi, protes yang meluas bisa memicu keraguan investor terhadap kondisi sosial-politik AS, mendorong volatilitas pasar, dan memperlambat arus modal masuk. Industri yang bergantung pada tenaga kerja imigran ilegal atau berstatus tidak pasti juga akan terdampak langsung oleh penggerebekan dan deportasi massal.
Jika ketegangan ini terus meningkat tanpa adanya pendekatan dialog dan kebijakan yang lebih manusiawi, maka Amerika Serikat berisiko kehilangan peran utamanya sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan global. (NJD)
Sumber: Apnews
Link: https://apnews.com/article/immigration-protests-arrests-austin-aa726c826047f8d7eb4091acc8929b8e