Ilmuwan Menyembuhkan Diabetes Tipe 1 pada Tikus dengan Sistem Imun Campuran?

Sumber ilustrasi: Unsplash
7 April 2026 09.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [07.04.2026] Diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel penghasil insulin di pankreas, yang dikenal sebagai islet. Tanpa insulin, kadar gula darah meningkat drastis dan dapat berujung fatal, sehingga penderita harus bergantung pada terapi insulin seumur hidup.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan berupaya menyembuhkan penyakit ini dengan cara mengganti sel islet yang rusak melalui transplantasi. Namun demikian pendekatan tersebut menghadapi kendala besar dalam bentuk penolakan oleh sistem imun penerima. Untuk mencegah hal ini, pasien harus mengonsumsi obat penekan imun dalam jangka panjang, yang berisiko tinggi terhadap infeksi dan komplikasi lain.

Penelitian terbaru menawarkan pendekatan berbeda dengan menciptakan sistem imun “hibrida” atau campuran antara donor dan penerima. Strategi ini memungkinkan tubuh menerima transplantasi sel penghasil insulin tanpa memerlukan penekanan sistem imun secara permanen.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengembangkan metode untuk menggabungkan sebagian sistem imun donor ke dalam tubuh penerima tanpa harus menghancurkan sistem imun asli sepenuhnya. Pendekatan ini bertujuan menciptakan toleransi imun, sehingga tubuh tidak lagi menganggap sel transplantasi sebagai benda asing.

Metode ini melibatkan penggunaan sel punca sumsum tulang dan sel islet yang berasal dari donor yang sama. Sel punca tersebut ditransplantasikan ke dalam sumsum tulang penerima, kemudian berkembang menjadi sel-sel imun baru yang tidak menyerang sel islet. Sistem imun yang terbentuk menjadi campuran antara donor dan penerima, sekaligus “mendidik ulang” respons imun agar lebih toleran.

Pendekatan sebelumnya untuk mencapai kondisi ini mengharuskan penghancuran total sistem imun penerima melalui kemoterapi dan radiasi dosis tinggi, yang berisiko besar. Dalam penelitian ini, ilmuwan menggunakan kombinasi antibodi, radiasi dosis rendah, serta obat rheumatoid arthritis bernama baricitinib untuk menciptakan kondisi yang lebih aman. Proses ini membuka ruang di sumsum tulang bagi sel donor tanpa menghilangkan seluruh sel imun penerima.

Hasil dari transplantasi sel punca dan sel islet berhasil bertahan dalam tubuh tikus. Sistem imun campuran yang terbentuk mampu menghilangkan sel-sel imun yang sebelumnya menyerang islet, sekaligus mempertahankan fungsi imun secara keseluruhan. Tikus yang menjalani prosedur ini tetap mampu memproduksi insulin hingga 20 minggu setelah transplantasi, tanpa tanda-tanda penolakan jaringan.

Proses keseluruhan berlangsung sekitar 12 hari, dengan tingkat radiasi yang lebih rendah dibandingkan prosedur transplantasi sumsum tulang konvensional. Pendekatan ini dinilai lebih “lembut” dan tidak membuat sistem imun benar-benar lumpuh.

Meski hasilnya menjanjikan, sejumlah tantangan masih harus diatasi sebelum metode ini dapat diterapkan pada manusia. Salah satunya adalah keterbatasan antibodi yang digunakan dalam studi, karena belum semuanya memiliki versi yang disetujui untuk penggunaan klinis pada manusia. Selain itu, kebutuhan akan donor yang sama untuk sel punca dan sel islet juga menjadi kendala, mengingat ketersediaan sel islet yang terbatas.

Tantangan lain yang lebih kompleks adalah menjaga keseimbangan sistem imun campuran dalam jangka panjang. Pada tikus, keseimbangan ini dapat dipertahankan, tetapi umur hidup tikus yang relatif pendek belum cukup untuk memastikan keberlanjutan efek pada manusia selama puluhan tahun. Ketidakseimbangan dapat menyebabkan kegagalan transplantasi atau bahkan reaksi penolakan yang berbahaya.

Penelitian ini menunjukkan penciptaan sistem imun campuran berpotensi menjadi pendekatan revolusioner dalam menyembuhkan diabetes tipe 1, dengan memungkinkan transplantasi sel penghasil insulin tanpa penekanan imun jangka panjang. Meskipun hasil pada tikus sangat menjanjikan, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan, ketersediaan sumber daya, serta stabilitas jangka panjang sebelum metode ini dapat diterapkan secara luas pada manusia.

Diolah dari artikel:
“Scientists cured type 1 diabetes in mice by creating a blended immune system” oleh Tia Ghose. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/health/scientists-cured-type-1-diabetes-in-mice-by-creating-a-blended-immune-system

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *