Keratin dari Rambut Bisa Jadi Solusi Revolusioner untuk Regenerasi Enamel Gigi?

Sumber ilustrasi: Pixabay

28 Agustus 2025 11.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [28.08.2025] Kerusakan enamel gigi merupakan masalah kesehatan global yang sangat umum namun sulit diatasi. Dengan sekitar dua miliar orang di seluruh dunia mengalami karies gigi permanen yang tidak diobati, beban kesehatan mulut terus meningkat dan menimbulkan tantangan besar bagi sistem pelayanan kesehatan. Meskipun ada berbagai solusi yang tersedia, seperti resin dan fluoride, sebagian besar hanya bersifat paliatif dan tidak mampu meregenerasi struktur alami gigi.

Di tengah keterbatasan ini, para peneliti dari King’s College London menemukan bahwa protein keratin, yang umum ditemukan di rambut manusia dan wol domba, berpotensi menjadi bahan utama dalam regenerasi enamel gigi. Penemuan ini membuka peluang baru dalam bioteknologi kedokteran gigi dengan pendekatan berbasis protein alami.

Berbeda dari tulang, gigi tidak dapat tumbuh kembali jika rusak. Ketika enamel, lapisan terluar yang keras dan pelindung, terkikis karena pola makan, kebersihan mulut yang buruk, atau faktor usia, lapisan dentin yang lebih lunak akan terbuka. Hal ini memicu kerusakan permanen, hipersensitivitas, dan pada akhirnya berpotensi menyebabkan hilangnya gigi atau bahkan kerusakan struktur tulang rahang.

Saat ini solusi untuk kerusakan enamel masih terbatas. Resin gigi yang sering digunakan memiliki kelemahan, seperti toksisitas, daya tahan rendah, dan ketidaksesuaian dengan struktur biologis alami. Di sisi lain, penggunaan fluoride terbukti hanya mampu memperlambat proses pengikisan, namun tidak membalikkan kerusakan yang sudah terjadi.

Melalui penelitian terbaru, para ilmuwan mengekstraksi keratin dari wol domba dan melarutkannya dalam air liur buatan. Dalam kondisi tersebut, keratin mampu menarik mineral dari lingkungan sekitarnya dan membentuk struktur yang menyerupai enamel gigi. Struktur ini tidak hanya memiliki kemiripan secara visual, tetapi juga secara fungsional mampu mengisi lubang kecil, memberikan perlindungan layaknya enamel, serta mengembalikan kekuatan dan kilau alami gigi.

Campuran keratin yang digunakan dalam penelitian tersebut juga dirancang dengan mengombinasikan beberapa jenis protein untuk mendapatkan kekuatan mekanis dan ketahanan yang optimal. Struktur hierarkis yang terbentuk memberikan karakteristik unik yang tahan terhadap tekanan, kerusakan kimia, dan degradasi lingkungan mulut.

Pendekatan keratin ini berpotensi mengatasi berbagai hambatan yang selama ini menghambat keberhasilan regenerasi enamel, termasuk isu bioavailabilitas dan skalabilitas produksi. Peneliti utama dalam studi ini menyatakan bahwa dunia kini memasuki era baru bioteknologi, di mana bukan hanya gejala yang ditangani, tetapi fungsi biologis juga bisa dipulihkan dengan menggunakan bahan-bahan dari tubuh sendiri atau limbah biologis.

Penggunaan keratin dalam konteks ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, karena memanfaatkan bahan limbah seperti wol menjadi produk kesehatan bernilai tinggi. Potensi penerapannya pun cukup fleksibel, baik dalam bentuk pasta gigi harian maupun gel klinis seperti pernis gigi. Produk ini diperkirakan bisa tersedia secara komersial dalam dua hingga tiga tahun ke depan, membuka peluang untuk perawatan gigi regeneratif yang mudah, efektif, dan berkelanjutan.

Penelitian ini dapat menginspirasi inovasi serupa dalam pemanfaatan limbah biologis lain untuk aplikasi medis, mendorong industri kesehatan bergerak ke arah yang lebih ramah lingkungan dan efisien dari sisi biaya. Dengan sifat keratin yang bisa dimodifikasi secara struktural dan fungsional, tidak tertutup kemungkinan teknologi ini dikembangkan untuk memperbaiki kerusakan jaringan lain di luar gigi.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari King’s College London menunjukkan bahwa keratin, protein yang biasa ditemukan di rambut dan wol domba, memiliki kemampuan luar biasa untuk meniru enamel gigi secara struktural dan fungsional. Dengan menggabungkan beberapa jenis protein dan menciptakan struktur hierarkis, keratin ini mampu mengisi lubang pada gigi serta memberikan perlindungan dan kekuatan layaknya enamel asli. Terobosan ini dapat menjadi solusi atas keterbatasan perawatan gigi saat ini, terutama pada regenerasi enamel yang selama ini belum tercapai.

Jika pengembangan lanjutan berjalan sesuai harapan, dalam beberapa tahun ke depan, masyarakat mungkin akan memiliki akses terhadap produk-produk gigi regeneratif yang terbuat dari bahan sederhana dan ramah lingkungan. Selain manfaat klinisnya, pendekatan ini juga menjanjikan transformasi industri kesehatan gigi menuju sistem yang lebih berkelanjutan, berbasis pemanfaatan limbah, dan berbasis bioteknologi modern.

Diolah dari artikel:
“Something in Your Hair Could Make The Ultimate Toothpaste” oleh Ivan Farkas.

Link: https://www.sciencealert.com/something-in-your-hair-could-make-the-ultimate-toothpaste

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *