Mengapa Kulit Menjadi Keriput Seiring Bertambahnya Usia?

Sumber ilustrasi: Pixabay

12 Agustus 2025 09.30 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [12.08.2025] Kerutan di wajah, terutama di sekitar mata dan mulut, kerap dianggap sebagai tanda alami dari pertambahan usia. Secara umum, masyarakat memahami bahwa penuaan menyebabkan kulit kehilangan elastisitas dan kelembapan, namun mekanisme fisik di balik munculnya kerutan selama bertahun-tahun masih bersifat teoritis. Dalam sebuah penelitian terbaru dari Universitas Binghamton, New York, berhasil mengungkap dengan jelas bagaimana perubahan struktural dan mekanis pada kulit memicu terbentuknya kerutan.

Dengan memanfaatkan sampel kulit manusia dari berbagai rentang usia, mulai dari remaja hingga lansia, para peneliti menguji hipotesis bahwa tekanan fisik berulang pada kulit, seperti ekspresi wajah dan gerakan otot, berkontribusi langsung terhadap pembentukan kerutan. Penelitian ini memberikan bukti eksperimental pertama mengenai bagaimana kulit manusia mengalami perubahan bentuk secara mekanis selama proses penuaan, menyerupai bagaimana lipatan permanen terbentuk pada kain yang sering digunakan.

Dalam studi ini, para peneliti menggunakan alat khusus yang disebut low-force tensometer untuk meregangkan sampel kulit secara hati-hati. Alat ini dirancang untuk meniru tekanan rendah namun berulang yang biasa dialami kulit dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat tersenyum, berbicara, atau mengedipkan mata. Pengamatan mikroskopis terhadap kulit yang diregangkan menunjukkan bahwa gerakan kontraksi pada kulit meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia.

Penelitian juga menemukan bahwa kulit secara alami berada dalam kondisi semi-terentang, bahkan saat istirahat. Seiring bertambahnya usia, lapisan terluar kulit (stratum corneum) menjadi semakin kaku, sedangkan lapisan di bawahnya justru melemah karena berkurangnya jaringan kolagen. Ketidakseimbangan elastisitas ini menyebabkan lipatan-lipatan terbentuk lebih mudah dan cenderung menetap.

Selain perubahan elastisitas, kulit juga menunjukkan sifat poroelastis — yaitu kemampuannya untuk kehilangan cairan saat mengalami tekanan. Eksperimen menunjukkan bahwa kulit kehilangan volume melalui pengeluaran cairan internal, yang memperparah efek kerutan. Para peneliti membandingkan proses ini dengan fenomena yang terjadi pada bahan seperti Silly Putty, yang memanjang ke satu arah tetapi menipis ke arah lain saat ditarik.

Kontraksi kulit yang membesar pada usia lanjut berkontribusi terhadap pembentukan kerutan. Ketika kulit terlalu banyak mengalami kontraksi, struktur permukaannya menjadi tidak stabil dan akhirnya mengerut. Proses ini tidak hanya melibatkan otot atau ekspresi wajah, tetapi merupakan respons fisik kulit terhadap tekanan dan perubahan struktural dari waktu ke waktu.

Hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam pemahaman dan pengobatan berbagai gangguan kulit. Dengan memahami karakteristik mekanis kulit dan bagaimana karakteristik tersebut berubah seiring usia, para peneliti berharap pendekatan yang lebih efektif dapat dikembangkan untuk perawatan kulit dan terapi penyakit kulit kronis.

Studi ini juga memiliki potensi untuk diaplikasikan pada jaringan tubuh lainnya. Para ilmuwan menyarankan bahwa teknik analisis serupa dapat digunakan untuk meneliti pembentukan lipatan pada organ seperti otak, yang memiliki pola kerutan kompleks dan masih belum sepenuhnya dipahami.

Dari sisi praktis, temuan ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas produk-produk perawatan kulit anti-penuaan yang marak beredar di pasaran. Dengan memahami bagaimana kulit merespons tekanan fisik secara ilmiah, industri perawatan kulit dapat menggunakan standar ilmiah yang lebih objektif dalam mengembangkan produknya.

Selain faktor usia, peneliti juga menegaskan bahwa paparan sinar ultraviolet dari matahari memiliki kontribusi besar terhadap percepatan proses penuaan kulit. Mereka menyatakan bahwa orang yang bekerja di luar ruangan cenderung memiliki kulit yang lebih tua dan keriput dibandingkan mereka yang bekerja di lingkungan tertutup, karena kerusakan akibat radiasi UV yang terus menerus menumpuk selama bertahun-tahun.

Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Journal of the Mechanical Behavior of Biomedical Materials, dan menjadi langkah penting dalam pemahaman ilmiah mengenai dinamika fisik kulit manusia seiring bertambahnya usia.

Penelitian ini memberikan pembuktian eksperimental pertama bahwa kerutan bukan hanya akibat dari perubahan biologis, tetapi juga hasil dari tekanan fisik yang terus-menerus pada jaringan kulit yang menua. Perubahan dalam elastisitas, kehilangan cairan, dan ketidakseimbangan struktur lapisan kulit menjadi faktor utama dalam pembentukan kerutan yang bertahan lama.

Temuan ini membuka potensi besar tidak hanya dalam industri kosmetik dan dermatologi, tetapi juga dalam pemodelan jaringan tubuh lain yang mengalami perubahan serupa. Dengan pendekatan berbasis mekanika jaringan, pemahaman terhadap penuaan dapat berkembang ke arah yang lebih terukur dan ilmiah.

Diolah dari artikel:
“Scientists Finally Explain Why Your Skin Wrinkles As You Age” oleh David Nield.

Link: https://www.sciencealert.com/scientists-finally-explain-why-your-skin-wrinkles-as-you-age

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *