Sumber ilustrasi: Pixabay
13 Maret 2026 08.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [13.03.2026] Banyak kelompok hewan di alam dikenal memiliki warna tubuh yang sangat mencolok. Berbagai spesies burung, reptil, dan ikan dapat menampilkan warna-warna terang seperti merah muda neon, biru cerah, hingga ungu. Warna-warna tersebut sering berperan dalam komunikasi, kamuflase, maupun menarik pasangan. Namun jika dibandingkan dengan kelompok hewan tersebut, mamalia umumnya memiliki warna tubuh yang jauh lebih sederhana.
Sebagian besar mamalia memiliki bulu dengan warna yang didominasi cokelat, hitam, abu-abu, atau putih. Fenomena ini telah lama menarik perhatian para peneliti dalam bidang evolutionary biology. Para ilmuwan mencoba memahami mengapa mamalia tidak mengembangkan warna cerah seperti yang terlihat pada banyak spesies burung, ikan, dan reptil.
Pengetahuan ilmiah saat ini menunjukkan bahwa warna tubuh hewan biasanya dihasilkan melalui dua mekanisme utama. Mekanisme pertama adalah penggunaan pigmen yang berada pada jaringan tubuh. Mekanisme kedua adalah pewarnaan struktural, yaitu efek warna yang muncul dari struktur mikro atau nano pada permukaan tubuh yang mampu memantulkan dan membelokkan cahaya.
Penelitian yang melibatkan ahli biologi evolusi seperti Matthew Shawkey menunjukkan bahwa banyak hewan menggunakan salah satu atau bahkan kedua mekanisme tersebut untuk menghasilkan warna yang mencolok. Akan tetapi pada mamalia, kemampuan tersebut sangat terbatas.
Dalam tubuh mamalia, hampir seluruh variasi warna berasal dari satu jenis pigmen utama yang disebut Melanin. Pigmen ini menghasilkan berbagai variasi warna mulai dari hitam hingga cokelat. Ketika pigmen tersebut tidak hadir pada bagian tubuh tertentu, warna yang muncul biasanya adalah putih, seperti yang terlihat pada pola tubuh Zebra atau Giant Panda.
Berbeda dengan kelompok hewan lain yang memiliki berbagai jenis pigmen tambahan seperti karotenoid atau pterin, mamalia tidak memiliki banyak variasi pigmen warna. Kondisi ini menyebabkan rentang warna alami pada mamalia relatif terbatas dibandingkan burung atau ikan.
Selain keterbatasan pigmen, struktur rambut juga memengaruhi kemampuan mamalia menghasilkan warna cerah. Rambut mamalia memiliki struktur yang relatif sederhana jika dibandingkan dengan bulu burung atau sisik ikan. Struktur yang sederhana tersebut tidak mampu membentuk pola mikro yang diperlukan untuk menghasilkan efek warna struktural seperti kilau atau iridesensi.
Beberapa pengecualian memang ditemukan pada mamalia tertentu. Contohnya adalah monyet Mandrill, yang dikenal memiliki warna merah dan biru terang pada wajah serta bagian tubuh tertentu. Dapat dilihat warna mencolok tersebut hanya muncul pada area kulit yang tidak tertutup bulu.
Contoh lain dapat ditemukan pada Kukang yang terkadang terlihat memiliki warna kehijauan pada bulunya. Warna tersebut sebenarnya bukan berasal dari pigmen tubuh mamalia, melainkan dari alga yang tumbuh di permukaan bulu.
Penjelasan lain mengenai warna tubuh mamalia berkaitan dengan sejarah evolusi kelompok hewan ini. Pada masa awal kemunculannya, mamalia hidup berdampingan dengan dinosaurus yang berperan sebagai predator utama. Dalam kondisi tersebut, mamalia cenderung menjadi mangsa dan beradaptasi dengan cara hidup nokturnal untuk menghindari predator.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada tahun 2025 membandingkan struktur penyimpan pigmen yang disebut melanosom pada mamalia modern dengan melanosom yang ditemukan pada fosil mamalia dari periode Jurassic dan Cretaceous. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mamalia purba hampir semuanya memiliki warna cokelat atau abu-abu.
Warna-warna gelap tersebut dianggap memberikan keuntungan evolusioner bagi hewan yang hidup aktif pada malam hari. Warna cerah kemungkinan besar akan meningkatkan risiko terlihat oleh predator, sehingga secara alami tersisih melalui proses seleksi evolusi.
Setelah kepunahan dinosaurus non-unggas sekitar 66 juta tahun lalu, mamalia mengalami diversifikasi besar hingga mencapai lebih dari 6.000 spesies. Meskipun lingkungan ekologis berubah drastis, pola warna tubuh mamalia tetap relatif konservatif.
Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh kemampuan penglihatan warna pada mamalia. Penelitian oleh ahli ekologi evolusi perilaku Ted Stankowich menunjukkan bahwa sebagian besar mamalia memiliki penglihatan Dichromatic Vision. Sistem penglihatan ini hanya menggunakan dua jenis sel kerucut pada retina, sehingga kemampuan membedakan warna lebih terbatas dibandingkan penglihatan trikromatik pada manusia dan beberapa primata.
Keterbatasan tersebut membuat banyak mamalia tidak mampu melihat warna seperti merah, oranye, atau ungu secara jelas. Jika suatu spesies tidak dapat melihat warna tertentu, penggunaan warna cerah untuk komunikasi atau daya tarik pasangan menjadi kurang efektif.
Beberapa mamalia bahkan memanfaatkan keterbatasan penglihatan warna tersebut untuk kamuflase. Misalnya, warna oranye pada Tiger terlihat mencolok bagi manusia. Namun bagi banyak mangsa mamalia yang memiliki penglihatan dikromatik, warna tersebut tampak lebih menyerupai hijau dan menyatu dengan lingkungan rumput.
Sebagai alternatif dari warna cerah, banyak mamalia mengembangkan pola kontras untuk komunikasi visual. Skunk dan polecat menggunakan pola hitam-putih sebagai sinyal peringatan terhadap predator. African Wild Dog memiliki ekor putih yang diduga membantu koordinasi saat berburu dalam kelompok.
Contoh lain adalah Indian Giant Squirrel, yang memiliki kombinasi warna kontras hitam, cokelat kemerahan, dan kuning-oranye. Pola warna tersebut diduga membantu kamuflase terhadap berbagai predator di habitat hutan.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa dunia warna pada mamalia mungkin lebih kompleks dari yang sebelumnya diperkirakan. Beberapa studi menemukan bahwa banyak mamalia dapat memancarkan Fluorescence ketika terkena cahaya ultraviolet.
Selain itu, penelitian yang dipimpin oleh ahli biologi evolusi Jessica Dobson menemukan adanya efek Iridescence pada bulu beberapa spesies mamalia. Penemuan ini terjadi ketika cahaya mengenai spesimen kulit mamalia yang tersimpan di museum dan memunculkan kilau warna tertentu pada sudut cahaya tertentu.
Para peneliti belum mengetahui apakah efek warna tersebut memiliki fungsi evolusioner tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa variasi warna pada mamalia masih menyimpan banyak pertanyaan ilmiah yang belum sepenuhnya terjawab.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa keterbatasan warna pada mamalia terutama dipengaruhi oleh faktor biologis dan evolusioner. Mamalia hanya memiliki satu jenis pigmen utama yaitu melanin, serta struktur rambut yang tidak mampu menghasilkan warna struktural seperti pada bulu burung atau sisik ikan. Selain itu, sejarah evolusi mamalia sebagai hewan nokturnal selama jutaan tahun turut mendorong dominasi warna gelap yang lebih efektif untuk kamuflase.
Di sisi lain, keterbatasan penglihatan warna pada banyak mamalia membuat penggunaan warna cerah menjadi kurang bermanfaat dalam komunikasi atau reproduksi. Sebagai pengganti, banyak spesies mengembangkan pola kontras atau strategi visual lain. Meskipun demikian, penelitian terbaru tentang fluoresensi dan iridesensi menunjukkan bahwa keragaman warna pada mamalia mungkin lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.
Diolah dari artikel:
“Why aren’t mammals as colorful as reptiles, birds or fish?” oleh Katherine Irving. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/animals/why-arent-mammals-as-colorful-as-reptiles-birds-or-fish