Mengenal Hewan Paling Lambat di Dunia

Sumber ilustrasi: Pixabay

27 Agustus 2025 11.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [27.08.2025] Dalam dunia hewan, kecepatan kerap dianggap sebagai kunci bertahan hidup. Berbagai spesies terkenal karena kemampuannya berlari, berenang, atau terbang dengan kecepatan luar biasa. Akan tetapi, di balik sorotan terhadap hewan tercepat, terdapat dunia yang kontras, yang dimana hidup makhluk-makhluk yang menjalani hidup secara perlahan, namun tetap berhasil bertahan di tengah kerasnya alam.

Ahli biologi mengungkap bahwa kecepatan bukanlah parameter utama bagi semua spesies. James Maclaine, kurator senior bidang ikan di Museum Sejarah Alam London, menilai bahwa kecepatan tidak selalu relevan dalam konteks kelangsungan hidup sebagian besar hewan. Keberhasilan bertahan hidup lebih ditentukan oleh kesesuaian strategi hidup dengan lingkungan, termasuk pada hewan-hewan yang bergerak sangat lambat.

Dalam kategori hewan laut, anemon laut tercatat sebagai salah satu makhluk paling lambat. Hewan ini hanya bergerak sejauh 10 hingga 25 sentimeter per jam, dan itu pun biasanya saat mencari tempat tinggal baru. Di luar itu, anemon lebih sering tidak bergerak sama sekali.

Salah satu ikan paling lambat adalah kuda laut kerdil (Hippocampus zosterae), yang memiliki postur berenang tegak dan sirip kecil yang terbatas dalam menghasilkan dorongan. Kecepatan renangnya hanya memungkinkan untuk bergerak sekitar 1,5 meter dalam satu jam. Meski tampak lamban, kecepatan rendah ini justru mendukung gaya hidupnya. Hewan ini lebih banyak bergelantungan pada rerumputan laut dengan ekor yang dapat mencengkeram, sambil menunggu mangsa kecil lewat di sekitarnya. Struktur tubuh yang dilindungi pelat tulang membuatnya relatif aman dari predator dan tidak memerlukan kecepatan untuk melarikan diri.

Kecepatan pada kuda laut hanya meningkat saat musim kawin tiba. Proses reproduksi ditandai dengan gerakan tarian sinkron yang dapat berlangsung berjam-jam, menjadi salah satu momen langka di mana spesies ini terlihat aktif bergerak.

Di kedalaman samudra, hiu Greenland (Somniosus microcephalus) menjadi contoh lain dari pergerakan lambat. Meskipun mampu tumbuh hingga 7,3 meter, hewan purba ini hanya bergerak dengan kecepatan sekitar 3 kilometer per jam. Hidup di perairan dingin, hiu ini bertahan dengan mengonsumsi bangkai dan tidak membutuhkan kecepatan tinggi untuk berburu.

Di daratan, siput pisang menjadi kandidat utama hewan paling lambat, dengan kecepatan hanya 0,0096 kilometer per jam. Jon Ablett, kurator senior moluska di Museum Sejarah Alam London, menjelaskan bahwa banyak moluska dewasa bahkan tidak bergerak sama sekali, dan sebagian lainnya bersifat menetap seumur hidup. Menariknya, dibanding kelompok hewan kecil lainnya seperti semut, laba-laba, atau kumbang, moluska memang tergolong lambat secara umum.

Meski lambat, beberapa moluska seperti siput kebun (Cornu aspersum) mampu melaju hingga 0,048 kilometer per jam, tergolong “cepat” dalam kelompoknya. Sementara itu, kura-kura raksasa Galápagos (Chelonoidis niger) berjalan dengan kecepatan 0,26 kilometer per jam, jauh di bawah kecepatan manusia yang rata-rata 4,5 kilometer per jam.

Dari dunia primata, slow loris (Nycticebus) dikenal karena gerakannya yang sangat hati-hati. Spesies ini mampu bertahan diam selama berjam-jam dan hanya bergerak dengan kecepatan 1,8 kilometer per jam, sambil terus mengawasi lingkungan sekitar dengan matanya yang besar.

Para ahli juga menekankan pentingnya mempertimbangkan ukuran tubuh dalam membandingkan kecepatan hewan. Seekor semut, misalnya, mungkin menempuh jarak lebih pendek daripada manusia, namun jika dibandingkan relatif terhadap ukuran tubuhnya, kecepatannya justru lebih tinggi.

Dalam diskusi mengenai hewan paling lambat di dunia, sloth tiga-jari (Bradypus) disebut sebagai kandidat utama. Rory Wilson, profesor biologi akuatik dari Universitas Swansea, menyoroti bahwa sloth tidak hanya lambat dalam berpindah tempat, tetapi juga dalam merespons rangsangan. Kecepatan maksimumnya tercatat sekitar 1,6 kilometer per jam, namun dalam praktiknya hanya menempuh jarak puluhan meter per jam.

Setiap gerakan sloth berlangsung sangat lambat, menyerupai gerakan dalam latihan tai chi. Selain itu, sloth memiliki adaptasi yang mendukung gaya hidup lambatnya, termasuk kekuatan cengkeram yang sangat tinggi, kemampuan kamuflase yang efisien, serta metabolisme lambat yang memungkinkan mereka bertahan hidup dengan makanan rendah energi seperti daun.

Kebutuhan energi yang rendah memungkinkan sloth hanya buang air besar seminggu sekali. Strategi hidup ini dianggap sebagai solusi efisien terhadap tantangan memperoleh makanan berkualitas tinggi di hutan tropis. Menurut Wilson, sloth berhasil menghindari kebutuhan energi tinggi dengan menyesuaikan seluruh aspek hidup mereka untuk efisiensi maksimal.

Hewan-hewan paling lambat di dunia menunjukkan bahwa kecepatan bukanlah satu-satunya strategi sukses dalam bertahan hidup. Dari anemon laut yang nyaris tak bergerak, kuda laut yang lebih banyak diam daripada berenang, hingga sloth yang bergerak seakan dalam gerakan lambat permanen, semuanya memiliki kesamaan: kemampuan bertahan melalui efisiensi energi dan adaptasi terhadap lingkungan.

Sloth tiga jari muncul sebagai kandidat kuat hewan paling lambat, bukan hanya karena kecepatannya yang rendah, tetapi karena seluruh sistem hidupnya, yakni gerak, respons, pencernaan, dan reproduksi, dibentuk oleh prinsip perlambatan ekstrem. Dalam dunia hewan yang penuh kompetisi, lambat ternyata dapat menjadi kunci bertahan hidup. (NJD)

Diolah dari artikel:
“What is the world’s slowest animal?” oleh Emma Bryce.

Link: https://www.livescience.com/animals/what-is-the-worlds-slowest-animal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *