Misteri Luasnya Samudra Pasifik

Sumber ilustrasi: Pixabay

12 Agustus 2025 12.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [12.08.2025] Samudra Pasifik dikenal sebagai samudra terbesar di Bumi, membentang lebih dari lima kali lebar Bulan. Dengan luas sekitar 163 juta kilometer persegi, wilayah ini mencakup lebih dari 30 persen permukaan planet dan menyimpan lebih dari separuh air bebas di dunia. Tidak hanya luas, Pasifik juga merupakan badan air terdalam, dengan titik terdalamnya berada di Challenger Deep, Palung Mariana, yang mencapai kedalaman lebih dari 11.000 meter. Keberadaan dan keunikan samudra ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana Samudra Pasifik bisa menjadi begitu besar?

Penjelasan tentang ukuran luar biasa ini tak lepas dari sejarah geologis Bumi. Pasifik merupakan warisan dari samudra purba yang dikenal sebagai Panthalassa. Panthalassa pernah menjadi satu-satunya samudra di planet ini saat seluruh daratan bersatu dalam superkontinen Pangaea. Dalam konteks tersebut, Samudra Pasifik dapat dipahami sebagai sisa dari samudra global yang pernah mendominasi permukaan Bumi.

Pergerakan lempeng tektonik menjadi kunci dalam menjelaskan terbentuknya Samudra Pasifik modern. Sekitar 230 juta tahun lalu, Pangaea mulai pecah akibat pergerakan lempeng-lempeng besar yang menyusun kerak Bumi. Perpecahan ini memisahkan benua-benua yang sekarang kita kenal, seperti Amerika Utara dan Eurasia dari Amerika Selatan, Afrika, Antarktika, dan Australia dan membuka ruang yang kemudian membentuk Samudra Atlantik.

Pertumbuhan Atlantik masih berlangsung hingga saat ini, dengan lempeng-lempeng benua yang terus bergerak saling menjauh. Diperkirakan pertambahan luas Atlantik mencapai dua hingga tiga sentimeter per tahun. Walaupun tampak kecil, akumulasi selama jutaan tahun berdampak signifikan terhadap peta geologi Bumi.

Sementara Atlantik berkembang, Samudra Pasifik terbentuk dari gabungan tiga lempeng tektonik kuno yang berada di bawah Panthalassa, yaitu Farallon, Phoenix, dan Izanagi. Ketiganya bertemu di suatu titik yang disebut sebagai triple junction, tempat yang mirip dengan kondisi yang saat ini dapat ditemukan di Afar, Afrika Timur. Namun berbeda dengan Afar, di mana proses pemisahan lempeng tidak sepenuhnya berhasil, triple junction di bawah Panthalassa berhasil menciptakan Lempeng Pasifik.

Lempeng Pasifik kemudian tumbuh dan menggantikan keberadaan tiga lempeng pendahulunya. Lempeng Izanagi terdorong ke bawah Asia melalui proses subduksi, sementara hampir seluruh Farallon telah terserap di bawah Amerika Utara, dengan sisa-sisanya masih terdapat di lepas pantai barat benua tersebut. Sementara itu, sisa Phoenix kini hanya ditemukan sebagai fragmen kecil di antara ujung selatan Amerika Selatan dan Semenanjung Antarktika, tepatnya di wilayah yang dikenal sebagai Drake Passage.

Wilayah di sekitar Samudra Pasifik kini dikenal sebagai Cincin Api, zona yang aktif secara geologis dengan banyak gunung berapi dan gempa bumi. Zona ini terbentuk di sepanjang garis subduksi tempat lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua, sisa dari proses panjang pergerakan dan pergeseran lempeng-lempeng kuno tersebut.

Meskipun Samudra Pasifik saat ini masih menjadi yang terbesar, namun tren geologis menunjukkan bahwa ukurannya perlahan menyusut. Di sisi lain, Samudra Atlantik terus meluas. Meski demikian, menurut pemodelan geologi terbaru pada tahun 2024, pertumbuhan Atlantik ini diprediksi akan berhenti dalam waktu sekitar 20 juta tahun ke depan dan justru mulai menyusut, menunjukkan betapa dinamisnya proses pembentukan dan evolusi samudra di Bumi.

Berdasarkan penelusuran sejarah geologisnya, Samudra Pasifik merupakan hasil dari evolusi panjang sejak zaman Panthalassa, samudra global yang ada ketika daratan masih bersatu dalam superkontinen Pangaea. Pembentukan Lempeng Pasifik yang menggantikan tiga lempeng purba utama menjadi titik balik utama yang menjelaskan bagaimana samudra ini bisa tumbuh menjadi cekungan terbesar di dunia. Dinamika ini terjadi bersamaan dengan proses terbentuknya Samudra Atlantik, yang hingga kini terus berkembang, meskipun dalam jangka waktu sangat panjang diperkirakan akan mulai menyusut kembali.

Dengan karakteristiknya yang mencakup ukuran, kedalaman, serta kompleksitas geologis, Samudra Pasifik tetap menjadi samudra paling dominan dan unik di planet ini. Perubahan skala tektonik yang terus berlangsung menunjukkan bahwa tidak ada bentuk permukaan Bumi yang bersifat tetap. Luasnya Samudra Pasifik hari ini adalah gambaran dari kekuatan geologi masa lalu, dan kemungkinan akan terus berubah di masa depan.

Diolah dari artikel:
“Why is the Pacific Ocean so big?” oleh Charles Q. Choi.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/rivers-oceans/why-is-the-pacific-ocean-so-big

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *