Pendidikan Kita

Sumber ilustrasi: Freepik
29 Desember 2025 13.45 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Jika pendidikan adalah urusan dan kepentingan publik, maka setiap warga punya ruang kesempatan yang sama untuk membuat refleksi atas apa yang terselenggara, dan mungkin daripadanya diajukan pandangan yang berbeda sama sekali. Pendidikan dalam kerangka ini, hendak dihindari untuk diperlakukan sebagai komoditas langka yang diperebutkan, dengan segala cara. Pendidikan dalam kerangka ini justru hendak ditempatkan atau dipahami sebagai bagian dari usaha bersama, dengan arah keberlanjutan hidup bersama kita sebagai bangsa merdeka, adil, makmur dan damai.

Soal mendasar yang hendak diajukan sebagai problem untuk refleksi bersama adalah apakah yang hendak dicapai suatu keahlian atau ketrampilan tertentu, ataukah yang hendak “dilahirkan” adalah pribadi yang “mudah belajar”? Apa yang kini terselenggara, dapat dikatakan sebagai perwujudan dari makna yang pertama. Dengan konsep yang demikian itu, mereka yang masuk ruang pendidikan, mengharapkan keluar telah dengan keahlian atau ketrampilan tertentu. Dalam cara berpikir ini, pendidikan dituntut untuk “nyambung” dengan dunia kerja, yakni mengembangkan keahlian dan ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Apa yang jarang dan mungkin dihindari untuk dilihat dengan dingin dan berjarak adalah bahwa dengan kerangka berpikir itu, maka institusi keluarga dan institusi pendidikan, sebenarnya telah menjadi bagian “yang baik” dari dunia kerja, termasuk industri. Institusi keluarga berjuang dan berinvestasi pada anggota keluarganya, agar punya keahlian tertentu, jika dibutuhkan keahlian yang langka, dan untuk itu, diusahakan masuk institusi pendidikan yang terbaik. Akhir kisahnya, bukan pribadi yang akhirnya mampu mengembangkan usaha mandiri, akan tetapi pribadi yang memasukkan dirinya dalam kompetisi pasar kerja yang sempit – sebagian kecil atau beberapa orang terserap, dan sebagian besar yang lain terlempar. Proses yang demikian, untuk waktu yang panjang, tanpa disadari, akan membentuk mentalitas menjadi “pegawai” atau menjadi “pegawai” adalah suatu keutamaan.

Tentu menjadi “pegawai” bukan hal yang cela, dan tetap merupakan hal baik. Terlebih jika membayangkan, antrian para pelamar kerja yang demikian panjang. Mereka yang diterima, tentulah adalah yang terbaik. Artinya, mereka yang diterima menjadi “pegawai” adalah mereka yang telah berjuang keras, untuk waktu yang panjang. Oleh sebab itulah yang dipersoalkan bukan subyek pendidikan itu sendiri, melainkan disain pendidikan dan cara berpikir yang meletakkan pendidikan dengan cara yang demikian itu. Pada titik inilah refleksi dibutuhkan. Suatu upaya untuk bersedia meninjau dengan seksama apa yang telah dianggap wajar dan mungkin telah dianggap sebagai kodrati. Yakni bahwa pendidikan adalah tempat dimana keahlian atau ketrampilan tertentu dapat diperoleh dan mungkin diperebutkan dengan keras.

Apa yang dapat dianggap belum disentuh, atau terabaikan? Yakni bahwa dengan kerangka yang demikian itu, pendidikan tanpa disadarinya menempatkan diri dalam posisi “penyedia” tenaga kerja dengan keahlian khusus (baca: tertentu), dan di sisi yang lain, struktur yang demikian itu telah membuka jalan bagi pembentukan kultur “pegawai”. Apa yang selama ini dimajukan sebagai gagasan tentang kemandirian bangsa, sebenarnya tidak bertemu dalam praktek Pendidikan itu sendiri, karena pendidikan justru ikut membentuk “kultur” tidak mandiri. Namun, cepat-cepat perlu diberi penjelasan, bahwa yang dimaksud tentu bukan suatu eksklusifitas, melainkan kemampuan untuk mengembangkan diri, mengembangkan usaha mandiri, dalam kerangka usaha bersama. Oleh sebab itulah, dirasakan perlu untuk meninjau kembali apa yang terselenggara, dan jika mungkin mengajukan pandangan lain.

Apa yang hendak dimajukan adalah pandangan yang didasarkan pada pikiran berikut: bahwa praktek Pendidikan di level tertentu, bukanlah Pendidikan yang mempersiapkan atau untuk mencapai suatu keahlian tertentu, melainkan Pendidikan dalam arti “belajar cara belajar”, agar dapat “mudah belajar”. Apabila pandangan ini dapat digunakan, yakni Pendidikan (termasuk sekolah) dipahami sebagai ruang di mana subjek belajar cara belajar, maka maknanya bergeser secara mendasar dari institusi transmisi pengetahuan menjadi ruang pembentukan disposisi epistemik. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai tempat pengisian isi (content delivery), melainkan sebagai lingkungan yang melatih relasi subjek dengan pengetahuan itu sendiri: bagaimana pengetahuan didekati, dipertanyakan, dipahami, diuji, direvisi, dan digunakan.

Dalam kerangka ini, pokok bahasan tidak memiliki nilai utama sebagai knowledge yang harus dikuasai atau dihafal. Namun lebih berfungsi sebagai medium pedagogis, yakni bahan latihan bagi proses belajar. Matematika, sejarah, sains, bahasa, dan bidang lain tidak lagi berdiri sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai wahana untuk melatih kemampuan fundamental: membaca persoalan, mengenali pola, merumuskan pertanyaan, membangun hipotesis, menilai argumen, mengelola ketidaktahuan, dan merefleksikan kesalahan.

Dengan demikian, inti pendidikan berpindah dari “apa yang diketahui” ke “bagaimana mengetahui”. Yang dilatih bukan akumulasi informasi, melainkan struktur kognitif dan sikap mental yang memungkinkan subjek terus belajar dalam situasi apa pun. Proses belajar menjadi eksplisit: subjek menyadari strategi belajarnya, keterbatasannya, cara memperbaikinya, serta kondisi-kondisi yang membuat belajar menjadi mudah atau justru terhambat.

Makna penting lainnya adalah perubahan posisi subjek. Subjek tidak lagi ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai agen belajar. Yang bersangkutan belajar mengenali dirinya sebagai makhluk yang selalu belum selesai, selalu mungkin salah, namun sekaligus selalu mungkin belajar. Ketidaktahuan tidak lagi diposisikan sebagai kegagalan moral atau intelektual, melainkan sebagai titik awal yang sah dari proses belajar.

Dalam kerangka ini pula, keberhasilan pendidikan tidak diukur terutama dari penguasaan materi tertentu, melainkan dari kelenturan epistemik: seberapa cepat dan jernih seseorang dapat memahami hal baru, berpindah konteks, mempelajari bidang yang belum dikenalnya, serta menyesuaikan cara belajarnya dengan persoalan yang dihadapi. Pribadi yang dihasilkan bukan “yang paling tahu”, melainkan pribadi yang mudah belajar.

Ujung dari pemahaman ini adalah pendidikan yang relevan dengan dunia yang terus berubah. Ketika pengetahuan spesifik cepat usang, kemampuan belajar menjadi modal paling dasar untuk tetap ada dan tetap bersama yang lain. Pendidikan, dalam arti ini, adalah latihan berkelanjutan untuk menjadi subjek yang mampu memasuki ketidaktahuan tanpa takut, dan menjadikannya sumber pertumbuhan bersama. [desanomia – 291225 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *