Puasa

Sumber ilustrasi: Freepik
18 Maret 2026 11.02 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Puasa yang sejati, dalam batas-batas tertentu adalah latihan pembebasan diri dari dorongan destruktif yang dalam skala individu tampak sebagai hawa nafsu, namun dalam skala kolektif, dapat menjelma sebagai kekerasan, perang, dan eksploitasi. Dengan demikian, “puasa” bukan hanya disiplin spiritual personal, tetapi juga fondasi bagi etika peradaban.

Dalam konteks kekinian, dimana perang datang secara tiba-tiba, “puasa” merupakan kritik terhadap kegagalan manusia menahan ambisi kekuasaan. Nafsu yang tidak dikendalikan dalam diri individu bertransformasi menjadi agresi antarbangsa, perebutan sumber daya, dan legitimasi kekerasan.

Puasa, dalam makna terdalamnya, sesungguhnya mengajarkan penangguhan hasrat untuk menguasai, sehingga membuka kemungkinan bagi perdamaian yang berakar pada pengendalian diri, bukan sekadar keseimbangan kekuatan.

Pada sisi yang lain, puasa mengandung dimensi universal tentang solidaritas untuk keselamatan manusia. Menahan lapar bukan hanya simbol empati, melainkan pengakuan eksistensial bahwa kehidupan manusia saling terikat. Ketika kesadaran ini gagal tumbuh, yang muncul adalah ketimpangan ekstrem, krisis kemanusiaan, dan pengabaian terhadap penderitaan kolektif.

Puasa yang otentik seharusnya melahirkan tanggung jawab global, bukan hanya kesalehan individual.

Lebih jauh lagi, bahwa hawa nafsu dapat mengambil bentuk eksploitasi tanpa batas terhadap alam. Keinginan untuk terus mengonsumsi dan menguasai menjadikan bumi sekadar objek. Dalam perspektif ini, puasa dapat dimaknai sebagai etika ekologis: suatu latihan membatasi diri demi keberlanjutan kehidupan.

Menahan diri dari konsumsi berlebih adalah langkah awal untuk merestorasi relasi manusia dengan alam sebagai sesuatu yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Kesemuanya itu dapat diletakkan sebagai jalan untuk menemukan kembali kesucian hidup.

Secara demikian, Idul Fitri tidak hanya menandai kemenangan spiritual pribadi, tetapi juga seharusnya menjadi titik balik kesadaran peradaban, yang dilandasi kesadaran akan kesucian hidup. Kemenangan baru bermakna jika tercermin dalam langkah nyata mereduksi kekerasan, membangun perdamaian, melindungi sesama manusia, dan menjaga bumi.

Selamat Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. [desanomia – 180326 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *