Sumber ilustrasi: Pixabay
21 Februari 2026 10.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [21.02.2026] Raungan singa yang menggelegar telah menjadi suara ikonik di film Hollywood selama hampir satu abad. Suara ini kerap diasosiasikan dengan kekuatan dan keberadaan hewan besar ini. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa lanskap suara dalam kelompok singa jauh lebih kompleks dibandingkan yang sering terdengar di film. Temuan ini menantang asumsi lama mengenai perilaku vokal singa.
Penelitian menggunakan teknik pembelajaran mesin untuk menganalisis rekaman lapangan singa Afrika (Panthera leo) di Taman Nasional Nyerere, Tanzania, serta dari kalung khusus pada singa di Zimbabwe. Hasilnya menunjukkan bahwa singa menghasilkan dua jenis raungan. Yang pertama adalah raungan dalam dan menggelegar yang telah dikenal, membawa tanda vokal unik untuk setiap individu. Yang kedua adalah raungan “intermediat” atau perantara, yang lebih pendek dan memiliki nada lebih rendah dibanding raungan klasik.
Raungan singa diketahui berfungsi untuk menandai wilayah, menarik pasangan, dan membantu anggota kelompok saling menemukan. Sesi raungan lengkap biasanya dimulai dengan moan dan diakhiri dengan grunt, sementara semua suara di tengah sebelumnya dianggap sebagai satu jenis raungan tunggal. Penemuan raungan perantara memungkinkan ilmuwan memisahkan raungan menjadi komponennya, yang bisa digunakan untuk melatih kecerdasan buatan mengenali suara individu singa.
Penelitian dimulai dari puluhan ribu jam rekaman audio. Tim peneliti memproses lebih dari 3.000 panggilan singa menggunakan program komputer untuk mendeteksi pola dalam sinyal suara. Raungan penuh menunjukkan lengkungan jelas dengan nada naik sebelum menurun di akhir, sedangkan raungan perantara lebih datar dan sederhana.
Berdasarkan panjang dan nada suara, algoritma dibuat untuk mengklasifikasikan setiap raungan, moan, dan grunt dengan akurasi tinggi. Dalam satu populasi, akurasi klasifikasi mencapai 91 persen. Algoritma ini juga mampu mengidentifikasi individu singa dari raungan mereka, bahkan lebih baik dibanding para ahli manusia. Penelitian ini menjadi salah satu bukti awal bahwa pembelajaran mesin dapat menafsirkan vokalisasi mamalia dengan andal.
Meskipun algoritma berhasil mengklasifikasikan raungan, rekaman belum memiliki konteks aktivitas singa saat itu. Para ilmuwan masih belum bisa menjelaskan alasan singa memilih satu jenis raungan dibanding jenis lainnya. Ahli singa menekankan pentingnya memiliki rekaman dalam konteks yang diketahui untuk memahami pola penggunaan raungan.
Penemuan raungan perantara menambah wawasan tentang kompleksitas komunikasi singa. Dengan kemampuan memisahkan jenis raungan, ilmuwan dan konservasionis dapat menghitung dan melacak populasi singa berdasarkan suara mereka, suatu langkah penting mengingat habitat singa menyusut dan populasinya menurun hingga 90 persen di wilayah historis mereka.
Meskipun fungsi spesifik raungan perantara masih menjadi misteri, penelitian ini membuka peluang untuk memahami perilaku sosial singa lebih mendalam. Penemuan ini juga menunjukkan potensi teknologi AI untuk membantu konservasi satwa liar dengan menganalisis vokalisasi hewan.
Diolah dari artikel:
“Lions have a second roar that scientists have only just discovered” oleh Elie Dolgin.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/lion-new-second-roar-ai