Sistem Paru-Paru Buatan Total Menjaga Pasien Tetap Hidup Tanpa Paru-Paru Selama 48 Jam

Sumber ilustrasi: Pixabay
13 Februari 2026 09.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [13.02.2026] Transplantasi paru-paru merupakan salah satu prosedur medis paling kompleks dalam dunia kedokteran modern. Selama ini, tindakan tersebut umumnya hanya dilakukan pada pasien dengan penyakit paru kronis yang telah berlangsung lama, seperti fibrosis kistik atau penyakit paru interstisial. Dalam kondisi akut, transplantasi paru sering kali dianggap terlalu berisiko atau tidak memungkinkan.

Pada kasus gagal paru akibat infeksi berat, pendekatan medis yang telah dikenal biasanya berfokus pada dukungan hidup sambil menunggu paru-paru pulih secara alami. Sistem ventilasi mekanis dan alat bantu pernapasan digunakan untuk mempertahankan fungsi tubuh hingga peradangan mereda. Namun, pendekatan ini bergantung pada asumsi bahwa jaringan paru masih memiliki peluang untuk sembuh.

Dalam situasi tertentu, asumsi tersebut tidak lagi berlaku. Infeksi yang sangat agresif dapat menghancurkan jaringan paru hingga menjadi sumber utama penyebaran penyakit ke seluruh tubuh. Kondisi ini menempatkan pasien pada dilema medis, karena mempertahankan paru-paru berarti mempertahankan infeksi, sementara mengangkatnya hampir selalu berujung pada kegagalan jantung.

Perkembangan teknologi medis membuka kemungkinan baru untuk mengatasi dilema tersebut. Sebuah kasus di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kehidupan manusia dapat dipertahankan sementara tanpa paru-paru, dengan bantuan sistem paru-paru buatan total yang dirancang khusus.

Kasus ini bermula pada musim semi 2023, ketika seorang pria berusia 33 tahun mengalami gagal paru akibat infeksi influenza. Penyakit tersebut dengan cepat berkembang menjadi pneumonia, sepsis, dan sindrom gangguan pernapasan akut atau ARDS. Kondisi pasien memburuk dalam waktu singkat meskipun telah diberikan perawatan intensif.

Infeksi paru-paru yang terjadi terbukti kebal terhadap seluruh antibiotik yang tersedia. Kerusakan jaringan berlangsung sangat cepat, menyebabkan paru-paru kehilangan struktur fungsional dan berubah menjadi sumber infeksi sistemik. Dalam kondisi ini, paru-paru tidak lagi berfungsi sebagai organ penunjang kehidupan.

Tim medis dari Northwestern University menilai bahwa peluang hidup pasien hampir tidak ada jika paru-paru dibiarkan tetap berada di dalam tubuh. Namun, pengangkatan kedua paru-paru atau pneumonektomi bilateral secara umum menyebabkan gangguan aliran darah yang berat dan kegagalan jantung.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti dan ahli bedah mengembangkan sistem paru-paru buatan total atau total artificial lung (TAL). Sistem ini dirancang untuk menggantikan fungsi utama paru-paru, yakni mengoksigenasi darah dan mengeluarkan karbon dioksida, sekaligus menjaga kestabilan aliran darah menuju jantung.

Berbeda dari pendekatan sebelumnya, sistem TAL ini dilengkapi dengan dua saluran aliran darah serta sebuah pintasan adaptif yang mampu menyesuaikan perubahan tekanan dan volume darah. Inovasi ini bertujuan mencegah gangguan hemodinamik yang biasanya terjadi setelah pengangkatan paru-paru.

Setelah kedua paru-paru yang terinfeksi diangkat, sistem TAL digunakan untuk mempertahankan kehidupan pasien selama 48 jam. Dalam periode tersebut, tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama berkurangnya respons infeksi sistemik.

Analisis molekuler terhadap paru-paru yang telah diangkat menunjukkan adanya jaringan parut luas dan kerusakan sistem imun yang tidak dapat diperbaiki. Temuan ini menegaskan bahwa pemulihan alami paru-paru tidak mungkin terjadi, sehingga transplantasi paru menjadi satu-satunya opsi penyelamatan.

Setelah kondisi tubuh cukup stabil, prosedur transplantasi paru ganda dilakukan. Paru-paru donor berhasil ditanamkan, dan fungsi pernapasan pasien berangsur pulih. Lebih dari dua tahun setelah operasi, pasien dilaporkan telah kembali menjalani kehidupan dengan paru-paru yang berfungsi penuh.

Kasus ini menantang pandangan konvensional dalam dunia transplantasi paru. Selama ini, banyak pasien dengan ARDS berat dianggap tidak memenuhi syarat transplantasi karena kondisi yang terlalu akut dan berisiko tinggi.

Pendekatan menggunakan sistem paru-paru buatan total menunjukkan bahwa, dengan teknologi dan perencanaan yang tepat, transplantasi paru dapat dipertimbangkan bahkan dalam situasi darurat. Meski saat ini hanya dapat dilakukan di pusat medis khusus, inovasi ini membuka peluang pengembangan perangkat yang lebih luas dan terstandarisasi.

Para ahli menilai bahwa banyak pasien muda dengan kerusakan paru parah meninggal setiap tahun karena transplantasi tidak pernah dipertimbangkan sebagai opsi. Temuan ini menyoroti pentingnya evaluasi ulang kriteria transplantasi paru dalam kasus infeksi pernapasan akut.

Kasus penggunaan sistem paru-paru buatan total ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia dapat dipertahankan sementara tanpa paru-paru, selama fungsi vital tubuh digantikan oleh teknologi yang tepat. Inovasi ini memungkinkan pengangkatan paru-paru yang menjadi sumber infeksi sekaligus memberi waktu bagi tubuh untuk pulih sebelum transplantasi dilakukan.

Secara keseluruhan, pendekatan ini memperluas batas kemungkinan dalam perawatan gagal paru akut dan transplantasi paru. Dengan pengembangan lebih lanjut, sistem serupa berpotensi menyelamatkan lebih banyak nyawa, khususnya pada pasien dengan kerusakan paru berat akibat infeksi pernapasan.

Diolah dari artikel:
“Surgeons Kept a Man Alive With No Lungs For 48 Hours. Here’s How.” oleh David Nield

Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencealert.com/surgeons-kept-a-man-alive-with-no-lungs-for-48-hours-heres-how

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *