Tentang Subyek dan Sistem

Sumber ilustrasi: Freepik
1 Februari 2026 20.15 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Apakah segala sesuatu dalam “hidup bersama kita” berawal atau mempunyai awal? Jika dikatakan tidak, maka artinya segala sesuatu itu akan sudah selalu begitu: sejak lalu, kini dan akan datang. Antara kemarin dan hari ini tidak ada bedanya. Antara hari ini dan esok tidak adanya bedanya. Dan antara kemarin dan esok tidak ada bedanya. Apakah memang demikian itu adanya?

Sebaliknya, jika dikatakan punya awal, maka akan terbuka ruang diskusi: kapan awal yang sebenarnya? Jika misalnya, arena adalah sebuah garis bilangan. Maka pertanyaan bisa disederhanakan: apakah awal dimulai dari titik bilangan nol? Atau awal dimulai dari titik bilangan 8. Apa bedanya? Jika dipilih titik nol, maka segala perhitungan akan dimulai dari titik tersebut. Namun jika awal dimulai dari titik 8, maka artinya titik 8 itu ditempatkan sebagai “titik nol”.

Apabila kini telah ada di titik 45, maka menurut titik awal 0, perjalanan telah 45 langkah. Sebaliknya jika titik awal adalah titik 8, maka perjalanan mencapai 37 langkah [45 – 8]. Mana yang benar, 45 langkah atau 37 langkah? Tentu perlu disadari bahwa ruang diskusi terbuka. Tidak ada yang berhak untuk memaksa posisinya. Misalnya, titik nol merasa lebih benar, atau sebaliknya. Jika keduanya akhirnya punya pandangan yang sama, bahwa titik awalnya adalah 5, maka kedua akan mengatakan bahwa perjalanan telah 40 langkah.

Apa pentingnya ilustrasi ini? Yakni bahwa “hal tentang asal atau awal” demikian penting, bahkan mungkin dalam batas tertentu merupakan suatu tindakan “politik” (dalam pengertian mainstream). Dalam pengalaman hidup bernegara-bangsa, hal ini tampak dari soal yang sederhana: sebuah bangsa berawal dari masa kolonial atau setelah pernyataan kemerdekaan diumumkan kepada dunia? Jawabannya tentu akan membawa pengaruh pada cara melihat kenyataan itu sendiri, karena titik awal membentuk horison.

Dengan nalar tersebut, mungkin kita akan dapat menyusun pertanyaan sederhana: apakah sistem berawal ataukah tidak? Jika dibuat lebih spesifik, mana lebih dahulu subyek ataukah sistem? Jika sistem lebih dahulu, maka tentu dapat dikatakan bahwa sistem lah yang membentuk subyek. Sebaliknya, jika dikatakan bahwa subyek lebih dahulu, maka dapat dikatakan bahwa subyek lah yang membentuk sistem, bukan sebaliknya. Dalam sejarah hidup bersama kita mengetahui berdasarkan “urutan kejadian” merujuk teks resmi, bahwa subyek mendahului sistem.

Apakah dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem adalah “perlengkapan” yang dibentuk oleh subyek dengan maksud agar sistem dapat memudahkan hidup dan kehidupannya? Ketika sistem dipersyaratkan dengan menyatakan bahwa sistem yang dibentuk berciri: melindungi, memajukan dan mencerdaskan,  aka dengan sendirinya dasar adanya sistem itu sendiri adalah melayani subyek agar ketiga hal tersebut dapat terselenggara.

Soalnya apakah dalam perjalanan demikian itu adanya? Mungkin kita membutuhkan studi tersendiri untuk memahami hal tersebut? Hendak diusulkan di sini agar dunia akademi mendesain suatu studi yang dapat melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali. Suatu studi yang dapat dianggap sebagai studi sederhana yakni merefleksikan apa yang dialami warga dalam hidup bersamanya. Sistem mengenai warga dan karena itu dapat dikatakan bahwa tiap-tiap warga mengalami sistem. Soalnya, apakah sistem terselenggara sebagaimana maksud diadakannya, ataukah tidak?

Masing-masing kita barangkali bisa berdebat. Barangkali sebagian dari kita akan mengatakan dengan seluruh argumentasinya bahwa sistem telah berjalan dengan baik, kendati di sana sini masih terdapat catatan. Atas kenyataan itu, kritik dan saran dibuka seluas-luasnya. Perbaikan dimungkinkan dan hal dimaksud telah pernah terjadi. Sebaliknya barangkali ada yang mengatakan bahwa sistem tidak berjalan sebagaimana tujuan diselenggarakannya. Berbagai masalah mulai dari masih adanya kemiskinan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, pelanggaran hak asasi manusia dan berbagai masalah lainnya, dilihat tidak sebagai problem teknis melainkan problem mendasar.

Kita dalam hal ini membuka kemungkinan bagi diskusi yang lebih mendasar. Apa yang hendak dipersoalkan di sini adalah tentang relasi antara subyek dan sistem. Apakah dalam kenyataannya sistem melayani subyek ataukah keadaan bergerak ke arah sebaliknya? Mengapa hal ini dipersoalkan, oleh karena sebagaimana dikatakan di atas, keadaan hidup subyek (bangsa) dewasa ini tidak sepenuhnya baik-baik saja. Kenyataan itulah yang mendorong kita untuk membuat refleksi sedemikian sehingga problem dapat dikenali secara lebih dekat dan tepat dalam pandangan.

Apabila kita dapat membuat penglihatan dari dekat, maka tidak dapat diingkari suatu kenyataan bahwa sistem bergerak dengan nalarnya sendiri, yang dalam banyak segi tidak selalu sejalan atau tidak selalu kompatibel dengan subyek. Adalah kenyataan bahwa sistem bekerja melalui proses abstraksi yang secara bertahap, diakui atau tidak, melepaskan diri dari sumber asalnya, yakni praktik hidup konkret.

Pada mulanya abstraksi dimaksudkan untuk membantu penataan kehidupan yang kompleks, tetapi ketika abstraksi itu dipositifkan dan dilembagakan, maka sistem berhenti menjadi alat bantu dan berubah menjadi ukuran sah atau tidak sahnya kenyataan. Sejak titik ini, hidup tidak lagi diakui karena berlangsung, melainkan sejauh dapat diterjemahkan ke dalam format sistem.

Dalam perkembangan berikutnya, sistem tidak lagi bekerja atas kehidupan sebagaimana adanya, melainkan atas model normatif yang diciptakannya sendiri. Model ini hadir dalam bentuk aturan baku, prosedur, indikator, dan standar yang disusun dari sudut pandang rasionalitas tertentu. Apa yang sesuai dengan model tersebut diakui sebagai realitas, sementara yang tidak sesuai diperlakukan sebagai penyimpangan, residu, atau masalah yang harus ditertibkan atau dikelola.

Ketika model normatif ini memperoleh status resmi dan mengikat, sistem dapat dikatakan mulai “menganggap” dirinya sebagai representasi penuh dari kenyataan. Sistem tidak lagi menyadari bahwa dirinya hanyalah hasil penyederhanaan dan seleksi. Di sinilah jarak epistemik (mulai) terbentuk: sistem tidak lagi mendengar kenyataan hidup, melainkan hanya membaca kesesuaian terhadap kerangka yang telah ditetapkannya sendiri. Artinya, yang tidak sesuai atau tidak teregistrasi, maka dengan sendirinya tidak menjadi bagian sistem.

Reduksi ini berdampak langsung pada posisi subyek. Dalam mana subyek hidup direduksi menjadi objek pengelolaan: unit statistik, sasaran program, atau elemen yang harus disesuaikan. Pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup, praktik lokal, dan relasi sosial kehilangan pengakuan karena tidak memiliki bentuk yang kompatibel dengan bahasa sistem. Yang hidup tetapi tak terklasifikasi diperlakukan seolah-olah tidak relevan.

Dalam konfigurasi seperti ini, sistem hadir terutama sebagai struktur pengendalian, bukan sebagai relasi yang tumbuh bersama kehidupan. Kehadirannya dimediasi oleh mekanisme kepatuhan dan sanksi, bukan oleh proses pembelajaran timbal balik. Akibatnya, sistem tidak memiliki cara untuk mengenali kenyataan di luar kategorinya sendiri, kecuali dengan memaksanya masuk atau menyingkirkannya.

Jarak tersebut semakin melebar ketika sistem mengembangkan mekanisme perlindungan diri. Ketidaksesuaian antara model dan kenyataan tidak dibaca sebagai kegagalan desain, melainkan sebagai kegagalan subyek untuk menyesuaikan diri. Bahasa sistem bergeser dari deskriptif menjadi normatif dan represif, sehingga koreksi dari kenyataan hidup subyek tidak lagi diterima sebagai masukan, melainkan sebagai gangguan.

Dalam kondisi ini, sistem kehilangan muatan etisnya dan berubah menjadi instrumen teknis. Sistem bekerja efektif bagi mereka yang memiliki sumber daya untuk menanggung biaya kepatuhan, dan timpang bagi mereka yang tidak. Kepatuhan yang tercipta bersifat lahiriah atau strategis, sementara penghindaran dan informalitas berkembang sebagai cara rasional untuk bertahan.

Relasi antara sistem dan subyek (baca: hidup) pun berubah menjadi relasi antagonistik. Subyek dipandang sebagai sesuatu yang tidak tertib dan berisiko, sementara sistem tampil sebagai kekuatan yang membatasi dan menekan dinamika hidup dan kehidupannya. Ketegangan ini tidak selalu meledak secara terbuka, tetapi terakumulasi dalam bentuk jarak, sinisme, dan pelepasan diri dari sistem.

Dalam situasi demikian, sistem kehilangan kapasitas reflektif terhadap fondasinya sendiri. Tidak lagi mampu membedakan antara kegagalan pelaksanaan dan kegagalan konseptual. Setiap krisis diterjemahkan sebagai persoalan teknis yang membutuhkan pengetatan lebih lanjut, bukan sebagai tanda bahwa kerangka dasarnya telah menjauh dari kehidupan yang seharusnya dilayani.

Akhirnya, sistem hidup dalam dunia otonomnya sendiri—dunia aturan, indikator, dan prosedur—sementara kenyataan hidup bergerak di luar dan di bawahnya. Yang tersisa bukan relasi saling menopang, melainkan saling berhadap-hadapan. Pada titik inilah sistem bertahan bukan dengan menyatu kembali dengan kehidupan, melainkan dengan mereproduksi jarak yang telah diciptakannya sendiri. Apakah subyek menyadari kenyataan ini? [desanomia – 010226 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *