Tabrakan Antar Planet Memberi Wawasan tentang Asal-usul Bulan?

Sumber ilustrasi: Pixabay
17 Maret 2026 13.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [17.03.2026] Para astronom dilaporkan telah menangkap salah satu fenomena paling langka di alam semesta: dua planet yang saling bertabrakan di sekitar bintang jauh mirip Matahari. Peristiwa ini terjadi sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi, mengelilingi bintang Gaia20ehk yang terletak dekat konstelasi Puppis. Para peneliti menilai tumbukan tersebut mungkin menyerupai peristiwa raksasa yang diyakini membentuk Bumi dan Bulan miliaran tahun lalu, sehingga memberi jendela langka bagi ilmuwan untuk mempelajari bagaimana benda-benda langit terbentuk. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 11 Maret di The Astrophysical Journal Letters.

Tabrakan planet dianggap umum di sistem bintang muda, tetapi pengamatannya sangat sulit. Agar peristiwa seperti ini terlihat, orbit planet harus melintasi depan bintang induk sehingga puing-puing hasil tumbukan dapat memblokir sebagian cahaya bintang, yang kemudian bisa dideteksi oleh teleskop dalam cahaya tampak maupun inframerah.

Petunjuk pertama muncul ketika para peneliti memeriksa data teleskop, termasuk misi SPHEREx NASA. Pada 2016, Gaia20ehk tampak seperti bintang stabil biasa, namun sekitar lima tahun kemudian terjadi penurunan cahaya secara tiba-tiba sebanyak tiga kali, diikuti perilaku cahaya yang kacau. Pola perubahan tersebut belum pernah diamati sebelumnya, menimbulkan teka-teki bagi para astronom.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sesuatu secara berulang melintas di depan bintang, tetapi cahaya tampak saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya. Kemungkinan termasuk debu yang melayang, letupan bintang, atau peristiwa ekstrem seperti planet yang hancur akibat gravitasi lubang hitam. Pengamatan dalam spektrum inframerah mengungkap bahwa ketika cahaya tampak meredup, sinyal inframerah meningkat tajam. Hal ini menunjukkan bahwa material yang menghalangi bintang sangat panas sehingga memancarkan radiasi inframerah.

Temuan ini menimbulkan dugaan bahwa yang terjadi adalah tumbukan antara dua planet. Tumbukan tersebut diperkirakan tidak terjadi sekaligus, melainkan melalui beberapa benturan ringan awal ketika planet saling bersentuhan dalam orbit yang semakin dekat, sebelum akhirnya menimbulkan tumbukan besar dan melepaskan energi inframerah yang signifikan. Analisis data jangka panjang memungkinkan para peneliti menangkap peristiwa ini secara real-time, sebuah pendekatan yang jarang dilakukan dalam penelitian astronomi.

Para peneliti berharap teleskop Simonyi Survey Telescope di Vera C. Rubin Observatory dapat digunakan untuk menemukan lebih banyak tabrakan planet yang sulit diamati. Dengan instrumen ini, diperkirakan sekitar 100 tabrakan planet baru dapat terdeteksi dalam satu dekade mendatang. Penemuan lebih banyak tabrakan akan membantu ilmuwan memahami bagaimana sistem planet terbentuk dan bagaimana kondisi yang memungkinkan dunia layak huni, termasuk peran Bulan dalam menstabilkan Bumi, memengaruhi pasang surut, dan memberikan perlindungan dari asteroid.

Selain langka, tumbukan ini juga relevan bagi teori pembentukan Bulan. Awan puing di sekitar Gaia20ehk berada pada jarak sekitar satu satuan astronomi dari bintang induknya — sama dengan jarak Bumi-Matahari. Kesamaan jarak ini membuat peristiwa tersebut dianggap mirip dengan tumbukan purba yang membentuk Bulan sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Observasi lebih lanjut dari sistem ini dapat menguji teori bahwa Bulan terbentuk akibat tumbukan raksasa dengan planet proto-Bumi.

Para peneliti menekankan bahwa frekuensi tumbukan planet besar sangat penting bagi astrobiologi. Menemukan lebih banyak tabrakan akan membantu memahami seberapa umum dinamika seperti yang membentuk sistem Bumi-Bulan, dan memberikan wawasan tentang kemungkinan adanya planet lain yang mendukung kehidupan dengan cara serupa.

Pengamatan tumbukan antarplanet di Gaia20ehk memberikan kesempatan langka untuk mempelajari proses pembentukan planet secara langsung. Analisis data menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi dalam beberapa tahap, mulai dari benturan ringan hingga tumbukan besar yang menghasilkan debu panas. Peristiwa ini membantu memahami dinamika tabrakan planet dan menunjukkan pentingnya pengamatan jangka panjang dalam astronomi.

Selain itu, temuan ini memiliki implikasi penting bagi teori asal-usul Bulan. Jarak awan puing ke bintang induk dan kemiripannya dengan tumbukan purba di Bumi memungkinkan para ilmuwan menguji hipotesis bahwa Bulan terbentuk akibat peristiwa tumbukan raksasa. Penemuan ini juga membuka peluang untuk menemukan tabrakan planet lain, yang dapat memberi wawasan baru tentang terbentuknya planet layak huni di alam semesta.

Diolah dari artikel:
“Exceptionally rare sighting of planets colliding may shed light on the crash that formed the moon” oleh Kenna Hughes-Castleberry. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/space/exceptionally-rare-sighting-of-planets-colliding-may-shed-light-on-the-crash-that-formed-the-moon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *