Sumber ilustrasi: Pixabay
01 Mei 2026 17.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [01.05.2026] Telah lama terdapat penelitian yang mengatakan bahwa samudra selatan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim global. Kawasan ini bertindak sebagai penyerap panas utama akibat pemanasan global dan juga sekaligus melindungi lapisan es Antartika melalui lapisan air dingin di sekitarnya. Dalam kondisi normal, air dingin tersebut berfungsi sebagai penghalang alami yang mencegah air hangat mencapai dasar lapisan es. Akan tetapi pemahaman tersebut kini mulai berubah seiring munculnya bukti baru mengenai dinamika laut dalam.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa massa air hangat dari laut dalam, yang dikenal sebagai circumpolar deep water, tidak lagi berada jauh dari Antartika. Sebaliknya, air hangat tersebut perlahan bergerak mendekati landas kontinen selama dua dekade terakhir. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi melemahkan stabilitas lapisan es yang selama ini menjaga keseimbangan permukaan laut global.
Lapisan es Antartika memiliki peran krusial sebagai penahan gletser dan es daratan. Cadangan es di wilayah ini menyimpan volume air yang sangat besar, cukup untuk meningkatkan permukaan laut global hingga puluhan meter. Oleh karena itu, perubahan kecil dalam sistem laut di sekitarnya dapat memicu dampak besar bagi lingkungan global.
Penelitian yang dipimpin oleh University of Cambridge bersama University of California memanfaatkan data laut selama puluhan tahun untuk memahami fenomena ini. Dengan menggabungkan pengamatan dari kapal penelitian dan instrumen robotik, para ilmuwan menemukan pola pergeseran panas yang sebelumnya hanya diprediksi oleh model iklim.
Salah satu tantangan utama dalam memahami perubahan laut adalah keterbatasan data jangka panjang. Pengamatan tradisional menggunakan kapal biasanya dilakukan dalam interval waktu yang panjang, sehingga sulit untuk melacak perubahan bertahap. Untuk mengatasi hal ini, para peneliti mengombinasikan data kapal dengan jaringan pelampung otonom yang dikenal sebagai Argo floats.
Pelampung ini memberikan data yang lebih sering mengenai kondisi laut bagian atas, meskipun belum mencakup periode waktu yang panjang seperti data kapal. Dengan bantuan teknik pembelajaran mesin, para peneliti menggabungkan kedua sumber data tersebut dan berhasil menyusun rekonstruksi kondisi laut secara rinci selama 40 tahun terakhir. Hasil analisis menunjukkan adanya pergerakan konsisten air hangat menuju Antartika.
Joshua Lanham dari Cambridge Earth Sciences menjelaskan bahwa fenomena ini menjadi perhatian serius karena air hangat dapat mengalir di bawah lapisan es dan menyebabkan pencairan dari bagian bawah. Joshua Lanham juga menekankan bahwa untuk pertama kalinya perpindahan panas laut dalam dapat diamati secara langsung dalam data, bukan hanya sebagai hasil simulasi model iklim.
Sarah Purkey dari Scripps Institution of Oceanography menjelaskan bahwa sebelumnya lapisan es dilindungi oleh air dingin yang stabil. Namun, perubahan sirkulasi laut kini membuat kondisi tersebut berubah, sehingga air hangat mulai menggantikan peran lapisan pelindung alami tersebut. Sarah Purkey juga mengaitkan fenomena ini dengan peningkatan panas global yang sebagian besar diserap oleh lautan.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada Antartika, tetapi juga pada sistem iklim global. Ali Mashayek dari Cambridge Earth Sciences menjelaskan bahwa Samudra Selatan berperan dalam mengatur distribusi panas dan karbon di seluruh dunia. Perubahan distribusi panas di wilayah ini dapat memengaruhi sistem arus laut global, termasuk Atlantic Meridional Overturning Circulation yang berfungsi sebagai penggerak utama sirkulasi laut dunia.
Model iklim sebelumnya telah menunjukkan bahwa pemanasan global dan pencairan es dapat mengurangi pembentukan air dingin dan padat di wilayah kutub. Kondisi ini memungkinkan air hangat dari laut dalam bergerak lebih dekat ke permukaan dan wilayah pesisir Antartika.
Joshua Lanham menegaskan bahwa fenomena yang sebelumnya diprediksi kini mulai terlihat secara nyata dalam data observasi. Perubahan ini menunjukkan bahwa sistem laut global sedang mengalami transformasi yang dapat memengaruhi siklus panas, karbon, dan nutrisi dalam skala besar.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa air hangat dari laut dalam secara bertahap bergerak mendekati Antartika, melemahkan perlindungan alami lapisan es dan meningkatkan risiko pencairan dari bawah. Dengan bukti observasi yang kini mendukung prediksi model iklim, perubahan ini menunjukkan adanya transformasi nyata dalam sistem laut global yang berpotensi berdampak luas terhadap kenaikan permukaan laut dan stabilitas iklim dunia.
Diolah dari artikel:
“Hidden ocean heat is creeping toward Antarctica’s fragile ice shelves” oleh University of Cambridge. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260429102023.htm