Bumi Terungkap Sedang “Terbelah”?

Sumber ilustrasi: Unsplash
01 Mei 2026 17.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [01.05.2026] Zona subduksi merupakan salah satu mekanisme paling kuat yang membentuk wajah Bumi. Wilayah ini terbentuk ketika satu lempeng tektonik menyusup ke bawah lempeng lain, memicu gempa besar, aktivitas vulkanik, serta pergerakan benua. Proses ini telah lama dianggap berlangsung dalam skala waktu sangat panjang yang akan tetap berakhir pada titik tertentu. Pertanyaan besar yang terus muncul adalah bagaimana zona subduksi bisa berhenti dan apa yang memicu keruntuhannya.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances kini memberikan gambaran baru yang lebih jelas. Studi tersebut menunjukkan bahwa zona subduksi tidak berhenti secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap yang kompleks. Temuan ini berasal dari pengamatan langsung terhadap zona subduksi di wilayah Cascadia, lepas pantai Pacific Northwest.

Dalam pemahaman sebelumnya, jika zona subduksi terus berlangsung tanpa henti, benua akan terus bertabrakan, samudra akan menghilang, dan catatan geologi Bumi akan berubah drastis. Oleh karena itu, memahami mekanisme penghentian sistem ini menjadi penting untuk menjelaskan evolusi planet.

Brandon Shuck dari Louisiana State University menjelaskan bahwa memulai zona subduksi membutuhkan energi besar, seperti mendorong kereta ke atas bukit. Namun setelah proses berjalan, sistem menjadi sangat sulit dihentikan dan memerlukan gangguan besar untuk berakhir. Penelitian tersebut dilakukan saat Brandon Shuck berada di Lamont-Doherty Earth Observatory yang merupakan bagian dari Columbia Climate School.

Penelitian ini berfokus pada wilayah Cascadia, tempat lempeng Juan de Fuca dan Explorer bergerak di bawah lempeng Amerika Utara. Dengan menggunakan pencitraan refleksi seismik serta data gempa, para peneliti menemukan bahwa lempeng tidak hanya tenggelam, tetapi juga mengalami robekan aktif. Teknologi ini bekerja menyerupai ultrasonografi untuk melihat struktur dalam Bumi.

Data utama berasal dari eksperimen Cascadia Seismic Imaging Experiment tahun 2021 yang dilakukan menggunakan kapal riset Marcus G. Langseth. Tim yang dipimpin oleh Suzanne Carbotte bersama Anne Bécel mengirim gelombang suara ke dasar laut dan menangkap pantulannya melalui sensor sepanjang 15 kilometer. Hasilnya menghasilkan citra detail mengenai patahan dan retakan di bawah permukaan laut.

Brandon Shuck menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya para ilmuwan dapat melihat secara langsung zona subduksi yang sedang mengalami proses “kematian”. Proses tersebut berlangsung secara bertahap, di mana lempeng terpecah menjadi bagian-bagian kecil dan membentuk mikro-lempeng baru.

Suzanne Carbotte menambahkan bahwa perlambatan subduksi sebelumnya telah diketahui terjadi ketika bagian lempeng yang lebih ringan mencapai batas tertentu. Akan tetapi penelitian ini memberikan bukti visual yang jauh lebih jelas mengenai bagaimana proses tersebut berlangsung secara nyata.

Peneliti juga menemukan beberapa patahan besar pada lempeng Juan de Fuca, termasuk satu patahan utama dengan penurunan sekitar lima kilometer. Brandon Shuck menjelaskan bahwa patahan tersebut menunjukkan proses pemisahan yang hampir lengkap, meskipun belum sepenuhnya terlepas.

Data gempa menunjukkan pola menarik, di mana sebagian wilayah masih aktif menghasilkan gempa, sementara bagian lain relatif sunyi. Area yang tidak aktif ini menunjukkan bahwa bagian lempeng telah terpisah sepenuhnya sehingga tidak lagi menghasilkan aktivitas seismik.

Temuan ini memperkuat konsep bahwa zona subduksi berakhir melalui proses episodik atau bertahap. Seiring waktu, bagian-bagian kecil lempeng terlepas, mengurangi gaya tarik utama yang mendorong subduksi. Dalam jangka waktu jutaan tahun, proses ini dapat menghentikan seluruh sistem.

Penelitian ini juga memberikan penjelasan terhadap fenomena geologi di wilayah lain. Di lepas pantai Baja California, misalnya, ditemukan sisa-sisa lempeng Farallon dalam bentuk mikro-lempeng. Sebelumnya, asal-usul fragmen tersebut belum sepenuhnya dipahami. Temuan di Cascadia menunjukkan bahwa lempeng tersebut kemungkinan terpecah secara bertahap melalui mekanisme serupa.

Para ilmuwan kini meneliti dampak robekan ini terhadap risiko gempa di masa depan. Salah satu pertanyaan penting adalah apakah retakan tersebut dapat memengaruhi penyebaran energi gempa atau bahkan membatasi skala gempa besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa zona subduksi di Cascadia tidak berhenti secara mendadak, melainkan melalui proses pemecahan bertahap yang menghasilkan mikro-lempeng dan mengurangi gaya tektonik utama. Temuan ini tidak hanya menjelaskan siklus hidup lempeng tektonik dan sejarah geologi Bumi, tetapi juga memberikan wawasan baru mengenai potensi risiko gempa di masa depan, meskipun wilayah tersebut tetap memiliki kemungkinan menghasilkan gempa besar dan tsunami.

Diolah dari artikel:
“Earth is splitting open beneath the Pacific Northwest, scientists say” oleh Columbia Climate School. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260429232851.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *