Sumber ilustrasi: Unsplash
15 Juni 2026 13.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.06.2026] Pernahkan anda mencuci beras? Beras merupakan salah satu makanan pokok terpenting di dunia. Lebih dari setengah populasi dunia mengonsumsi beras setiap hari dalam berbagai bentuk hidangan. Karena itu, cara memperlakukan beras sebelum dimasak menjadi pertanyaan yang tidak hanya bersifat kebiasaan dapur, tetapi juga menyentuh aspek tekstur, keamanan pangan, dan kandungan gizi.
Banyak orang mencuci beras sebelum memasaknya. Air bilasan yang berubah menjadi putih susu sering dianggap sebagai tanda bahwa beras sedang dibersihkan dari kotoran atau pati berlebih. Pertanyaannya, apakah pencucian tersebut benar-benar diperlukan?
Sejumlah penelitian ilmiah telah mencoba menjawab pertanyaan ini. Para peneliti meneliti bagaimana pencucian beras memengaruhi tekstur nasi setelah dimasak, apakah pencucian mampu mempertahankan atau mengurangi kandungan gizi, serta seberapa efektif proses tersebut dalam menghilangkan zat yang tidak diinginkan seperti debu, arsenik, dan mikroplastik.
Untuk memahami persoalan ini, penting melihat bagaimana beras diproduksi. Beras secara tradisional ditanam di sawah yang tergenang air dangkal karena tanaman padi membutuhkan irigasi terus-menerus untuk tumbuh. Setelah panen, bulir padi digiling untuk menghilangkan sekam yang tidak dapat dimakan.
Proses penghilangan sekam menghasilkan beras merah. Jika beras merah digiling lebih lanjut untuk menghilangkan lapisan dedak, hasilnya adalah beras putih. Dalam proses penggilingan tersebut, sebagian butir beras dapat mengalami kerusakan.
Kerusakan pada butir beras dapat meninggalkan lapisan pati di permukaan beras. Pati merupakan zat yang juga menyusun sebagian besar kandungan beras, kentang, dan gandum. Ketika beras dicuci, sebagian pati di permukaan tersebut ikut terbawa air bilasan.
Pada 2017, para ilmuwan sempat menduga bahwa mencuci beras dapat mengubah tekstur nasi setelah dimasak. Dugaan tersebut muncul karena pati yang terbilas dianggap berperan membuat butiran nasi saling menempel.
Penelitian lanjutan menunjukkan hasil yang berbeda. Evangeline Mantzioris, ahli gizi praktik terakreditasi dari Adelaide University di Australia, menjelaskan kepada Live Science bahwa mencuci beras tidak membuat perbedaan terhadap tingkat kelengketan nasi yang sudah dimasak.
Studi tahun 2019 secara lebih khusus menunjukkan bahwa kelengketan nasi bukan berasal dari pati permukaan yang disebut amilosa. Mantzioris menjelaskan bahwa kelengketan tersebut lebih berkaitan dengan pati lain di dalam butiran beras yang disebut amilopektin.
Amilopektin keluar selama proses memasak dan memengaruhi tingkat kelengketan nasi. Dengan demikian, pencucian beras sebelum dimasak tidak menjadi faktor utama yang menentukan apakah nasi akan lengket atau tidak.
Penelitian tahun 2019 tersebut menemukan bahwa jumlah amilopektin yang keluar dari beras selama proses memasak tidak bergantung pada apakah beras dicuci. Menurut Mantzioris, faktor yang lebih penting adalah varietas beras yang digunakan.
Dalam pengujian terhadap sampel 10 gram dari tiga jenis beras yang dicuci dengan durasi sama menggunakan jumlah air yang semakin banyak, lalu dimasak selama 30 menit, para ilmuwan menemukan perbedaan tingkat kelengketan berdasarkan jenis beras. Jika seseorang menginginkan nasi yang lengket, beras ketan menjadi pilihan terbaik. Beras berbutir sedang dan beras jasmine memiliki tingkat kelengketan yang lebih rendah.
Dari sisi tradisi, beras dicuci terutama karena alasan kesehatan dan keamanan. Mantzioris menjelaskan bahwa pencucian dilakukan untuk membilas debu, serangga, batu kecil, serta bagian kecil dari sekam yang mungkin masih menempel.
Akan tetapi kondisi produksi beras modern telah berubah. Bo Wang, ilmuwan pangan dari Adelaide University, menjelaskan kepada Live Science bahwa beras yang dijual di supermarket dan pengecer terpercaya umumnya diproduksi dengan standar kualitas yang ketat.
Menurut Wang, beras biasanya telah dibersihkan menggunakan mesin seperti penyaring dan peniup udara, kemudian dikeringkan, dikupas sekamnya, digiling, disortir, dan dikemas sebelum sampai ke konsumen.
Tahap pengeringan memiliki peran penting karena mengurangi kadar air. Kadar air yang lebih rendah membantu mempertahankan kualitas beras dan membatasi pertumbuhan mikroba selama penyimpanan.
Karena rangkaian proses tersebut, beras modern pada umumnya sudah menjadi produk yang relatif aman. Wang menjelaskan bahwa pencucian biasanya tidak diperlukan untuk membuat beras aman dikonsumsi.
Meski begitu, pencucian beras masih memiliki pertimbangan lain. Permal Deo, ilmuwan pangan dengan latar belakang biologi molekuler dari Adelaide University, menjelaskan bahwa sebagian beras dapat mengandung arsenik anorganik alami yang diserap dari tanah dan air.
Membilas beras dapat membantu menghilangkan sebagian arsenik yang berada di permukaan butir beras. Dengan kata lain, pencucian mungkin tidak terlalu menentukan keamanan dasar beras modern, tetapi tetap dapat membantu mengurangi sebagian kontaminan tertentu.
Selain arsenik, mikroplastik juga menjadi perhatian. Mantzioris menjelaskan bahwa sebuah studi tahun 2021 menemukan bahwa mencuci beras sebelum dimasak dapat mengurangi jumlah plastik yang mengontaminasi beras sebesar 20 hingga 40 persen.
Dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih belum sepenuhnya pasti. Namun, bukti mengenai potensi bahaya mikroplastik terus bertambah, sehingga pengurangan paparan dari makanan tetap menjadi perhatian ilmiah.
Di sisi lain, mencuci beras juga memiliki konsekuensi kecil terhadap kandungan gizi. Mantzioris mencatat bahwa pencucian dapat mengurangi kadar beberapa nutrisi penting yang larut dalam air, seperti tembaga, besi, seng, dan vanadium.
Namun, beras pada dasarnya hanya menyumbang sebagian kecil dari asupan harian nutrisi-nutrisi tersebut. Karena itu, Mantzioris menilai bahwa mencuci beras kemungkinan besar tidak akan memberikan dampak gizi yang berarti bagi sebagian besar orang.
Analisis dari berbagai temuan ini menunjukkan bahwa mencuci beras bukanlah tindakan yang sepenuhnya wajib dalam semua keadaan. Untuk beras yang diproduksi dan dijual melalui jalur modern dengan standar kualitas yang baik, pencucian bukan syarat utama agar beras aman dikonsumsi.
Namun demikian pencucian ringan tetap memiliki manfaat praktis. Proses tersebut dapat menghilangkan sebagian debu atau sisa partikel, membantu mengurangi sebagian arsenik permukaan, dan menurunkan kontaminasi mikroplastik dalam kadar tertentu.
Pada saat yang sama, mencuci beras tidak perlu dilakukan secara berlebihan. Pencucian yang terlalu banyak tidak membuat nasi otomatis lebih pulen atau lebih tidak lengket, karena tekstur nasi lebih banyak ditentukan oleh varietas beras dan kandungan amilopektin yang keluar saat proses memasak.
Karena itu, saran yang paling masuk akal bagi kebanyakan konsumen adalah membilas beras secara ringan. Wang menyampaikan bahwa bagi sebagian besar orang, membilas beras satu atau dua kali sebelum dimasak biasanya sudah cukup.
Pertanyaan apakah beras harus dicuci sebelum dimasak ternyata tidak memiliki jawaban tunggal yang mutlak. Penelitian menunjukkan bahwa mencuci beras tidak banyak memengaruhi kelengketan nasi, karena tekstur lebih ditentukan oleh jenis beras dan amilopektin yang keluar saat dimasak. Beras modern dari produsen terpercaya umumnya sudah relatif aman, tetapi pembilasan ringan masih dapat membantu mengurangi debu, sebagian arsenik permukaan, dan mikroplastik, sementara dampak kehilangan nutrisinya kemungkinan kecil bagi sebagian besar konsumen.
Diolah dari artikel:
“Do you really have to wash rice before you cook it?” oleh Charles Q. Choi. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/health/food-drink/do-you-really-have-to-wash-rice-before-you-cook-it