Olahraga 75 Menit Sekali Seminggu Efektif Membantu Mengurangi Lemak Perut?

Sumber ilustrasi: Magnific
4 Agustus 2026 11.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [04.08.2026] Obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak di sekitar perut, telah lama diketahui sebagai salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, dan kematian dini. Karena itu, olahraga menjadi salah satu strategi utama yang direkomendasikan untuk membantu mengurangi lemak tubuh sekaligus meningkatkan kebugaran. Selama ini, pedoman kesehatan umumnya menganjurkan latihan dilakukan beberapa kali dalam seminggu agar manfaatnya optimal.

Namun, tidak semua orang mampu memenuhi rekomendasi tersebut. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, keterbatasan waktu, maupun akses terhadap fasilitas olahraga sering kali menjadi hambatan untuk berolahraga secara rutin. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari pendekatan yang lebih praktis tanpa mengurangi manfaat kesehatan yang diperoleh.

Salah satu metode yang banyak mendapat perhatian adalah latihan interval, yaitu kombinasi periode aktivitas dengan intensitas tinggi yang diselingi fase pemulihan aktif berintensitas lebih rendah. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa latihan interval mampu mengurangi lemak tubuh dan lemak viseral secara efisien dibandingkan olahraga berintensitas sedang yang dilakukan terus-menerus.

Penelitian terbaru dari School of Public Health, LKS Faculty of Medicine, The University of Hong Kong (HKUMed), memberikan temuan yang menarik. Studi yang dipublikasikan di Nature Communications menunjukkan bahwa melakukan jalan cepat interval selama 75 menit dalam satu sesi setiap minggu dapat memberikan manfaat yang hampir sama dengan membagi durasi latihan tersebut menjadi tiga sesi dalam seminggu.

Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti melakukan uji klinis acak yang berlangsung dari September 2021 hingga September 2024. Sebanyak 315 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas sentral dilibatkan dalam penelitian tersebut.

Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menjalani latihan interval sekali seminggu selama total 75 menit. Kelompok kedua melakukan latihan interval dengan total durasi yang sama, tetapi dibagi ke dalam tiga sesi setiap minggu. Kelompok ketiga berfungsi sebagai kelompok kontrol dan hanya mengikuti sesi edukasi kesehatan selama 2,5 jam setiap dua minggu selama empat bulan.

Komposisi tubuh para peserta diukur menggunakan metode dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) sebelum penelitian dimulai, setelah 16 minggu intervensi, serta pada minggu ke-32 sebagai evaluasi tindak lanjut empat bulan setelah program selesai. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengamati perubahan massa lemak tubuh secara lebih akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok yang menjalani latihan interval mengalami penurunan massa lemak tubuh total, persentase lemak tubuh, dan lingkar pinggang. Kedua kelompok juga memperlihatkan peningkatan kebugaran kardiorespirasi dibandingkan kelompok kontrol.

Menariknya, manfaat yang diperoleh kelompok yang berolahraga sekali seminggu hampir sama dengan kelompok yang berlatih tiga kali seminggu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa frekuensi latihan yang lebih rendah tetap mampu memberikan hasil yang bermakna apabila total durasi dan intensitas latihan dipertahankan.

Profesor Parco Siu Ming-fai, Profesor sekaligus Kepala Division of Kinesiology di School of Public Health HKUMed, menjelaskan bahwa meskipun latihan interval tiga kali seminggu masih menjadi pendekatan yang umum direkomendasikan dalam penanganan kelebihan lemak tubuh, hasil penelitian menunjukkan latihan interval sekali seminggu memberikan manfaat yang serupa dan dapat menjadi strategi olahraga yang lebih praktis.

Menurut Profesor Siu, keterbatasan waktu merupakan salah satu hambatan terbesar bagi banyak orang dewasa dengan obesitas sentral untuk berolahraga beberapa hari setiap minggu. Karena itu, latihan interval sekali seminggu dapat dipertimbangkan sebagai alternatif yang realistis dan efektif tanpa harus mengorbankan manfaat kesehatan yang diperoleh.

Penelitian tersebut juga memperkuat konsep weekend warrior, yaitu pola aktivitas fisik yang memusatkan sebagian besar olahraga mingguan dalam satu atau dua hari. Selama ini konsep tersebut telah dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, tetapi bukti mengenai efektivitas latihan interval yang dipadatkan dalam satu sesi masih relatif terbatas.

Meskipun demikian, penelitian ini hanya melibatkan orang dewasa dengan obesitas sentral sehingga hasilnya belum tentu dapat langsung diterapkan pada seluruh populasi. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah pendekatan serupa juga memberikan manfaat yang sama pada kelompok usia maupun kondisi kesehatan yang berbeda.

Temuan ini menunjukkan bahwa total durasi dan kualitas latihan mungkin lebih penting daripada frekuensi latihan semata. Bagi orang-orang yang kesulitan menyediakan waktu untuk berolahraga beberapa kali dalam seminggu, menyelesaikan latihan interval selama 75 menit dalam satu sesi tetap berpotensi memberikan manfaat nyata dalam mengurangi lemak tubuh, mengecilkan lingkar pinggang, dan meningkatkan kebugaran jantung serta paru-paru.

Diolah dari artikel:
“This once-a-week workout may help cut belly fat, study shows” oleh The University of Hong Kong. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260801042831.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *