Sumber ilustrasi: Unsplash
17 Juni 2026 13.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [17.06.2026] Diabetes dan demensia dipandang sebagai dua penyakit yang berbeda. Diabetes umumnya dikaitkan dengan gangguan pengaturan gula darah dan metabolisme tubuh, sedangkan demensia dianggap sebagai gangguan yang terutama menyerang fungsi otak, memori, dan kemampuan berpikir. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki hubungan yang jauh lebih erat daripada yang sebelumnya dipahami.
Para ilmuwan kini menemukan bahwa berbagai mekanisme biologis yang terlibat dalam diabetes juga berperan dalam kesehatan otak. Hubungan tersebut tidak hanya berjalan satu arah. Gangguan metabolisme dapat memengaruhi fungsi otak, sementara perubahan yang terjadi di otak juga dapat memengaruhi cara tubuh mengatur gula darah.
Salah satu temuan yang paling konsisten adalah meningkatnya risiko demensia pada penderita diabetes. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang dengan diabetes memiliki kemungkinan sekitar 60 persen lebih tinggi untuk mengalami demensia dibandingkan individu tanpa diabetes.
Risiko tersebut tampak semakin besar pada penderita yang sering mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah yang terlalu rendah. Episode gula darah rendah yang berulang dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif hingga sekitar 50 persen.
Analisis para peneliti menunjukkan bahwa hubungan ini tidak hanya berkaitan dengan kadar gula darah itu sendiri. Salah satu faktor penting adalah resistensi insulin, kondisi yang menjadi penyebab utama diabetes tipe 2.
Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik. Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam darah dan memicu berbagai komplikasi metabolik.
Selama ini resistensi insulin lebih sering dikaitkan dengan organ seperti hati dan otot. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi tersebut juga memengaruhi otak.
Pada penyakit Alzheimer, resistensi insulin diduga membuat sel-sel otak lebih sulit menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Ketika pasokan energi terganggu, kemampuan sel saraf untuk menjalankan fungsi normalnya juga ikut menurun.
Temuan ini melahirkan istilah tidak resmi yang cukup menarik di kalangan peneliti, yaitu diabetes tipe 3. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kombinasi antara gangguan penggunaan glukosa dan resistensi insulin yang terjadi di otak penderita Alzheimer.
Hubungan antara kedua penyakit ternyata tidak berhenti di situ. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penderita Alzheimer sering memiliki kadar glukosa darah puasa yang lebih tinggi meskipun mereka belum didiagnosis diabetes.
Studi pada hewan juga menemukan bahwa perubahan biologis yang menyerupai Alzheimer di dalam otak dapat meningkatkan kadar gula darah. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan dua arah antara gangguan metabolisme dan gangguan neurodegeneratif.
Faktor genetik turut memperkuat keterkaitan tersebut. Salah satu faktor risiko genetik terbesar untuk Alzheimer adalah varian APOE4. Penelitian menunjukkan bahwa varian ini dapat menurunkan sensitivitas insulin dengan menjebak reseptor insulin di dalam sel sehingga reseptor tersebut tidak dapat bekerja secara optimal.
Pembuluh darah menjadi jalur penting lain yang menghubungkan diabetes dan demensia. Diabetes diketahui merusak pembuluh darah di berbagai organ, termasuk mata, ginjal, dan jantung.
Otak ternyata menghadapi risiko yang sama. Kadar gula darah yang tinggi atau berfluktuasi dapat merusak pembuluh darah kecil di otak sehingga mengurangi aliran darah dan pasokan oksigen.
Selain itu, diabetes dapat melemahkan sawar darah otak atau blood-brain barrier, yaitu sistem pertahanan yang berfungsi melindungi otak dari berbagai zat berbahaya dalam sirkulasi darah.
Ketika perlindungan tersebut melemah, zat-zat yang seharusnya tidak masuk ke jaringan otak dapat memicu peradangan. Berkurangnya aliran darah dan meningkatnya peradangan merupakan dua faktor yang sangat berkaitan dengan perkembangan demensia.
Hubungan antara diabetes dan kesehatan otak juga terlihat dalam sejarah pengembangan obat. Memantine, salah satu obat yang digunakan untuk mengurangi gejala Alzheimer sedang hingga berat, awalnya dikembangkan sebagai kandidat obat diabetes.
Meskipun tidak berhasil mengendalikan gula darah, para peneliti kemudian menemukan manfaatnya terhadap fungsi otak. Kisah tersebut menunjukkan bahwa penelitian diabetes dapat membuka jalan bagi pengobatan gangguan neurologis.
Perhatian para ilmuwan saat ini juga tertuju pada metformin, obat diabetes yang paling banyak digunakan di dunia. Selain menurunkan gula darah, metformin diketahui mampu memasuki jaringan otak dan berpotensi mengurangi peradangan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes yang menggunakan metformin memiliki risiko demensia yang lebih rendah. Beberapa studi juga menemukan bahwa penghentian penggunaan metformin dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko tersebut.
Menariknya, uji klinis kini mulai mengevaluasi manfaat metformin pada orang yang bahkan tidak memiliki diabetes. Tujuannya adalah mengetahui apakah efek perlindungan terhadap otak dapat terjadi secara lebih luas.
Kelompok obat lain yang menarik perhatian adalah agonis reseptor GLP-1 seperti semaglutide yang dikenal melalui merek Ozempic dan Wegovy. Obat-obatan ini membantu menurunkan gula darah sekaligus mendukung penurunan berat badan.
Data kesehatan menunjukkan bahwa penderita diabetes yang menggunakan obat GLP-1 memiliki risiko demensia yang lebih rendah. Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa manfaat tersebut dapat melampaui manfaat yang terlihat pada pengguna metformin.
Dua uji klinis besar yang dikenal sebagai Evoke dan Evoke Plus saat ini sedang meneliti semaglutide oral pada individu dengan gangguan kognitif ringan dan Alzheimer tahap awal.
Para peneliti juga mengembangkan pendekatan yang lebih langsung dengan menggunakan insulin. Karena resistensi insulin di otak dianggap sebagai salah satu masalah utama, insulin diberikan melalui semprotan hidung agar dapat mencapai otak secara langsung tanpa terlalu memengaruhi kadar gula darah tubuh.
Hasil awal menunjukkan adanya potensi perbaikan memori dan perlambatan penyusutan jaringan otak. Namun para peneliti masih menghadapi tantangan terkait metode penghantaran insulin dan keamanan jangka panjang.
Sementara itu, bukti terbaru menunjukkan bahwa inhibitor SGLT2, kelompok obat diabetes yang bekerja dengan meningkatkan pembuangan gula melalui urine, mungkin memberikan perlindungan yang bahkan lebih besar terhadap demensia dibandingkan agonis GLP-1.
Penelitian menunjukkan bahwa obat-obatan ini dapat menurunkan risiko Alzheimer maupun demensia vaskular pada penderita diabetes tipe 2. Efek tersebut diduga berkaitan dengan kemampuannya mengurangi peradangan di dalam otak.
Analisis dari seluruh temuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa diabetes dan demensia bukanlah dua penyakit yang berdiri sendiri. Keduanya tampaknya berbagi banyak jalur biologis yang sama, mulai dari resistensi insulin, gangguan penggunaan glukosa, kerusakan pembuluh darah, hingga peradangan kronis.
Hubungan yang semakin jelas antara diabetes dan demensia menunjukkan bahwa menjaga kesehatan metabolik tidak hanya melindungi jantung, ginjal, dan sistem peredaran darah, tetapi juga berperan penting dalam mempertahankan fungsi otak selama proses penuaan. Berbagai penelitian kini mengungkap bahwa resistensi insulin, gangguan penggunaan glukosa, kerusakan pembuluh darah, dan peradangan merupakan faktor yang menghubungkan kedua penyakit tersebut. Temuan ini juga membuka kemungkinan bahwa sejumlah obat diabetes dapat memberikan manfaat tambahan berupa perlindungan terhadap penurunan fungsi kognitif dan risiko demensia di masa depan.
Diolah dari artikel:
“10 surprising ways diabetes and dementia are connected” oleh Craig Beall dan Natasha MacDonald. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260616103128.htm