Berat Badan Turun, Mengapa Otak Justru Ingin Mengembalikannya?

Sumber ilustrasi: Unsplash
4 Agustus 2026 18.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [04.08.2026] Penurunan berat badan hampir selalu dipandang sebagai persoalan kemauan. Saran seperti makan lebih sedikit dan lebih banyak bergerak menjadi pendekatan utama yang diberikan kepada masyarakat. Pandangan tersebut menyiratkan bahwa keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menurunkan berat badan sepenuhnya bergantung pada disiplin pribadi.

Namun demikian, penelitian modern menunjukkan bahwa proses tersebut jauh lebih kompleks. Berat badan ternyata tidak hanya diatur oleh pilihan hidup, tetapi juga oleh mekanisme biologis yang telah berkembang selama ratusan ribu tahun melalui proses evolusi manusia.

Pada masa manusia purba, cadangan lemak merupakan faktor penting untuk bertahan hidup. Lemak berfungsi sebagai sumber energi ketika makanan sulit diperoleh. Tubuh yang memiliki terlalu sedikit lemak menghadapi risiko kelaparan, sedangkan lemak berlebih dapat mengurangi kemampuan bergerak dan berburu.

Selama proses evolusi tersebut, tubuh manusia mengembangkan berbagai sistem biologis yang bertugas melindungi cadangan energi. Sistem tersebut dikendalikan oleh otak melalui jaringan hormon dan sinyal metabolisme yang mampu mempertahankan keseimbangan berat badan.

Masalah muncul ketika manusia memasuki dunia modern. Makanan kini tersedia hampir sepanjang waktu, banyak di antaranya murah dan memiliki kandungan kalori sangat tinggi. Pada saat yang sama, aktivitas fisik sehari-hari jauh berkurang dibandingkan kehidupan manusia purba.

Kondisi tersebut membuat sistem biologis yang dahulu membantu manusia bertahan hidup justru menjadi tantangan bagi upaya menurunkan berat badan.

Ketika seseorang berhasil menurunkan berat badan, tubuh tidak menganggap perubahan tersebut sebagai keberhasilan. Sebaliknya, tubuh meresponsnya seolah-olah sedang menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidup.

Dalam kondisi tersebut, hormon yang memicu rasa lapar meningkat, keinginan mengonsumsi makanan menjadi lebih kuat, sementara jumlah energi yang dibakar tubuh setiap hari justru menurun.

Respon tersebut sebenarnya merupakan mekanisme evolusi yang dahulu sangat menguntungkan ketika manusia hidup dalam lingkungan dengan ketersediaan makanan yang tidak menentu.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan melalui The Conversation menunjukkan bahwa otak juga memiliki kemampuan untuk “mengingat” berat badan yang pernah dimiliki seseorang.

Pada manusia purba, mekanisme tersebut memberikan keuntungan besar. Apabila seseorang kehilangan berat badan akibat masa kelaparan, tubuh akan berusaha mengembalikan berat badan tersebut ketika makanan kembali tersedia sehingga peluang bertahan hidup meningkat.

Namun pada manusia modern, mekanisme yang sama menghasilkan konsekuensi berbeda. Setelah seseorang mengalami kenaikan berat badan dalam waktu tertentu, otak mulai menganggap berat badan yang lebih tinggi tersebut sebagai kondisi normal yang harus dipertahankan.

Dengan kata lain, berat badan yang pernah dicapai dapat menjadi semacam titik acuan biologis yang terus dipertahankan oleh otak.

Kemampuan tubuh mengingat berat badan sebelumnya membantu menjelaskan mengapa banyak orang mengalami kenaikan berat badan kembali setelah menjalani program diet.

Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa kegagalan mempertahankan berat badan bukan semata-mata disebabkan kurangnya disiplin atau kemauan. Sistem biologis tubuh memang dirancang untuk melawan penurunan berat badan demi menjaga cadangan energi.

Pemahaman tersebut kemudian membuka jalan bagi pendekatan medis baru dalam mengatasi obesitas.

Salah satu perkembangan paling dikenal adalah hadirnya obat penurun berat badan seperti Wegovy dan Mounjaro.

Kedua obat tersebut bekerja dengan meniru hormon yang diproduksi usus. Hormon tersebut mengirimkan sinyal kepada otak untuk mengurangi nafsu makan sehingga seseorang merasa kenyang lebih lama dan mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih sedikit.

Pendekatan tersebut memberikan harapan baru karena tidak hanya mengandalkan kemauan seseorang, tetapi juga memengaruhi mekanisme biologis yang mengatur rasa lapar.

Meskipun demikian, efektivitas obat tersebut tidak sama pada setiap orang.

Sebagian pasien mengalami efek samping sehingga sulit melanjutkan terapi, sementara sebagian lainnya tidak menunjukkan penurunan berat badan yang berarti.

Penelitian juga menunjukkan bahwa ketika penggunaan obat dihentikan, mekanisme biologis tubuh kembali bekerja dan berat badan yang telah hilang sering kali meningkat kembali.

Para peneliti menilai bahwa perkembangan ilmu mengenai obesitas dan metabolisme mungkin memungkinkan terapi masa depan menekan sinyal biologis yang mendorong tubuh kembali ke berat badan sebelumnya, bahkan setelah pengobatan selesai dilakukan.

Penelitian lain juga mulai menunjukkan bahwa kesehatan yang baik tidak selalu identik dengan angka tertentu pada timbangan.

Aktivitas fisik yang teratur, tidur yang cukup, pola makan seimbang, dan kesehatan mental yang baik tetap mampu meningkatkan kesehatan jantung serta metabolisme meskipun perubahan berat badan tidak terlalu besar.

Pandangan tersebut menggeser fokus dari sekadar mengejar angka berat badan menuju peningkatan kesehatan secara menyeluruh.

Para penulis artikel juga menekankan bahwa obesitas bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan masyarakat secara luas.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa upaya pencegahan dapat dilakukan melalui penyediaan makanan sekolah yang lebih sehat, pembatasan pemasaran makanan tidak sehat kepada anak-anak, pembangunan lingkungan yang mendukung berjalan kaki dan bersepeda, serta penerapan standar porsi makanan di restoran.

Selain itu, perhatian ilmuwan juga tertuju pada periode awal kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga sekitar usia tujuh tahun.

Pada rentang usia tersebut, sistem pengaturan berat badan masih sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan orang tua, cara bayi diberi makan, dan kebiasaan hidup sejak usia dini dapat memengaruhi cara otak mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak hingga bertahun-tahun kemudian.

Bagi masyarakat yang sedang berusaha menurunkan berat badan, para penulis menyarankan pendekatan yang lebih berkelanjutan dibandingkan diet ekstrem.

Tidur yang cukup membantu mengatur hormon pengendali rasa lapar, sedangkan aktivitas fisik rutin, termasuk berjalan kaki, mampu memperbaiki kadar gula darah dan meningkatkan kesehatan jantung.

Valdemar Brimnes Ingemann Johansen dan Christoffer Clemmensen menjelaskan bahwa obesitas sebaiknya dipahami sebagai kondisi biologis yang dibentuk oleh interaksi antara otak, faktor genetik, dan lingkungan tempat seseorang hidup.

Keduanya juga menilai bahwa kemajuan dalam bidang ilmu saraf dan farmakologi mulai membuka peluang baru dalam pengembangan terapi, sementara strategi pencegahan berpotensi mengubah kondisi generasi mendatang.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan berat badan bukan sekadar persoalan kemauan, tetapi juga dipengaruhi oleh mekanisme biologis yang membuat otak berusaha mengembalikan berat badan ke kondisi yang pernah dianggap normal. Pemahaman mengenai mekanisme tersebut membantu menjelaskan mengapa berat badan sering kembali naik setelah diet sekaligus membuka peluang bagi terapi baru, strategi pencegahan sejak usia dini, serta pendekatan kesehatan yang lebih menyeluruh daripada hanya berfokus pada angka di timbangan.

Diolah dari artikel:
“Your brain may be wired to regain lost weight” oleh The Conversation. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260803080902.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *