Sumber ilustrasi: Unsplash
15 Juni 2026 11.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.06.2026] Lebah dikenal melalui perannya sebagai penyerbuk, tetapi tubuh serangga kecil ini juga menyimpan fenomena optik yang menarik. Banyak lebah memiliki eksoskeleton berkilau yang dapat memantulkan cahaya dalam warna metalik. Kilau tersebut membuat tubuh lebah tampak berubah-ubah tergantung sudut pandang dan kondisi cahaya.
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa warna lebah ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh cahaya atau sudut pengamatan. Kelembapan udara juga dapat mengubah rona tubuh lebah tertentu. Ketika udara kering, lebah keringat tampak lebih biru. Ketika udara lembap, kilau tubuhnya berubah menjadi hijau tembaga.
Temuan ini berawal dari pengamatan Jorge De La Cruz, mahasiswa University of California, Santa Barbara, yang sedang dilatih sebagai ahli biologi evolusi. De La Cruz pertama kali melihat perubahan warna tersebut ketika menyiapkan spesimen lebah untuk diawetkan dan diteliti di Cheadle Center for Biodiversity and Ecological Restoration.
Dalam proses kerja museum, spesimen serangga sering ditempatkan dalam ruang lembap agar tubuhnya menjadi lebih lentur. Kondisi tersebut memudahkan proses pemasangan dan pengambilan gambar. Namun, pada beberapa spesimen lebah, ruang lembap justru membuat perubahan warna terlihat sangat mencolok.
Pengamatan tersebut kemudian menarik perhatian De La Cruz dan mendorong penelitian lebih lanjut. Madeleine Ostwald, ahli ekologi dari Queen Mary University of London, menjelaskan bahwa perubahan warna seperti itu dapat terasa mengejutkan ketika seseorang tidak mengharapkannya.
De La Cruz dan Ostwald kemudian bekerja sama dengan dua peneliti lain untuk mempelajari fenomena tersebut secara lebih sistematis. Hasil penelitian mereka dipublikasikan pada 22 April dalam jurnal Biology Letters.
Tim peneliti mempelajari dua lusin spesimen lebah museum. Semua spesimen tersebut merupakan fine-striped sweat bees atau lebah keringat bergaris halus dengan nama ilmiah Agapostemon subtilior.
Para peneliti memaparkan spesimen lebah pada kondisi kelembapan tinggi dan kelembapan rendah selama masing-masing 55 jam. Setelah setiap periode paparan, tim mengambil foto untuk membandingkan perubahan warna yang terjadi.
Selain eksperimen pada spesimen museum, para peneliti juga meninjau lebih dari 1.000 foto lebah keringat hidup. Foto-foto tersebut berasal dari aplikasi sains warga iNaturalist. Dalam peninjauan itu, tim mencatat tingkat kelembapan yang ada ketika setiap gambar diambil.
Hasil pengamatan menunjukkan pola yang jelas. Dalam kondisi kering, yaitu kelembapan kurang dari 10 persen, lebah tampak berwarna biru-hijau. Namun, ketika kelembapan mencapai 95 persen, warna tubuhnya berubah menjadi hijau tembaga terang.
Analisis dari penelitian ini mengarah pada struktur eksoskeleton lebah. Kelembapan diduga menyebabkan lapisan-lapisan pada eksoskeleton lebah mengembang. Perubahan ukuran pada lapisan tersebut dapat mengubah cara tubuh lebah memantulkan cahaya.
Warna berkilau pada lebah termasuk bentuk iridesensi. Iridesensi muncul ketika struktur sangat kecil pada permukaan tubuh menyebarkan dan memantulkan cahaya pada panjang gelombang yang berbeda. Dengan mekanisme seperti ini, warna yang terlihat bukan hanya bergantung pada pigmen, tetapi juga pada bentuk dan susunan struktur mikroskopis.
Jika lapisan-lapisan pada eksoskeleton mengembang akibat kelembapan, jarak antar lapisan akan meningkat. Ruang tambahan tersebut dapat membuat cahaya yang dipantulkan bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang dan lebih kemerahan.
Ostwald menjelaskan bahwa penjelasan tersebut sesuai dengan hasil yang diamati, karena para peneliti melihat lebah menjadi lebih kemerahan dalam kondisi yang lebih lembap. Warna hijau tembaga yang muncul pada kelembapan tinggi sesuai dengan dugaan perubahan cara lapisan tubuh lebah memantulkan cahaya.
Temuan ini penting karena banyak serangga menghasilkan warna melalui struktur kecil, bukan semata-mata melalui pigmen. Karena itu, perubahan warna akibat kelembapan mungkin tidak terbatas pada lebah keringat saja.
Fenomena serupa kemungkinan dapat ditemukan pada lebah lain atau serangga berkilau lainnya. Jika benar, warna harian serangga di alam mungkin lebih dinamis dibandingkan yang selama ini diperkirakan oleh para ilmuwan.
Penelitian lanjutan dengan mikroskop berkekuatan tinggi diperlukan untuk memastikan mekanisme tersebut secara langsung. Mikroskop dapat membantu melihat apakah lapisan eksoskeleton benar-benar mengembang ketika kelembapan meningkat.
Studi ini juga memberi peringatan penting bagi penelitian warna pada organisme hidup. Warna yang terlihat pada spesimen museum atau foto laboratorium belum tentu sepenuhnya sama dengan warna yang muncul di lingkungan alami.
Ostwald menjelaskan bahwa warna dapat berubah ketika organisme merespons lingkungan, bahkan melalui cara-cara yang sebelumnya tidak diperkirakan. Karena itu, mempelajari warna organisme hidup di habitat alaminya menjadi penting untuk memahami rona sebenarnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa kelembapan udara dapat mengubah warna lebah keringat dari biru-hijau dalam kondisi kering menjadi hijau tembaga dalam kondisi sangat lembap. Perubahan tersebut kemungkinan terjadi karena lapisan-lapisan pada eksoskeleton lebah mengembang dan mengubah cara cahaya dipantulkan. Dengan banyaknya serangga yang menghasilkan warna melalui struktur mikroskopis, fenomena serupa mungkin tersebar lebih luas di alam dan memperlihatkan bahwa warna hewan dapat jauh lebih peka terhadap lingkungan daripada yang sebelumnya dipahami.
Diolah dari artikel:
“Like living mood rings, these bees change color when it turns humid” oleh Jake Buehler. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/bees-change-color-humidity