Sumber ilustrasi: Unsplash
2 Mei 2026 10.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [02.05.2026] Batu ginjal telah lama dikenal sebagai salah satu gangguan kesehatan yang menimbulkan rasa nyeri hebat dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Kondisi ini tidak hanya sering menyebabkan kunjungan ke unit gawat darurat, tetapi juga memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi. Di Amerika Serikat, sekitar satu dari sebelas orang mengalami batu ginjal, dan hampir separuh dari mereka mengalami episode berulang. Selama ini, peningkatan konsumsi cairan dianggap sebagai strategi utama untuk mencegah kekambuhan, namun efektivitasnya dalam praktik nyata masih menjadi pertanyaan ilmiah.
Sebuah uji klinis besar yang dipimpin oleh Urinary Stone Disease Research Network dan dikoordinasikan oleh Duke Clinical Research Institute mencoba menjawab persoalan tersebut. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet ini mengevaluasi apakah program perilaku terstruktur dapat membantu pasien meningkatkan asupan cairan secara konsisten guna menekan risiko terbentuknya kembali batu ginjal.
Para ilmuwan menemukan bahwa meskipun konsumsi cairan tinggi memiliki dasar ilmiah yang kuat dalam pencegahan batu ginjal, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih kompleks. Charles Scales dari Duke University School of Medicine menjelaskan bahwa kesulitan dalam mempertahankan asupan cairan tinggi secara konsisten menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kekambuhan penyakit ini.
Penelitian ini membagi peserta ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok perawatan standar dan kelompok yang mengikuti program hidrasi berbasis perilaku. Program tersebut mencakup penggunaan botol air pintar berbasis Bluetooth untuk memantau konsumsi, penetapan target cairan individual, pengingat melalui pesan teks, insentif finansial, serta pendampingan kesehatan secara berkelanjutan.
Setiap peserta diberikan target konsumsi cairan berdasarkan kebutuhan fisiologis, dengan tujuan mencapai output urin minimal 2,5 liter per hari. Meskipun terjadi peningkatan konsumsi cairan dan volume urin pada kelompok intervensi, hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tersebut tidak cukup signifikan untuk menurunkan tingkat kekambuhan batu ginjal secara keseluruhan.
Studi ini melibatkan 1.658 peserta yang terdiri dari remaja hingga orang dewasa, yang direkrut dari enam pusat klinis utama di Amerika Serikat. Para peneliti memantau kondisi peserta selama dua tahun menggunakan survei berkala dan teknik pencitraan medis untuk mendeteksi pembentukan atau pertumbuhan batu ginjal baru.
Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga hidrasi dalam jumlah besar secara konsisten merupakan tantangan besar, bahkan dengan dukungan teknologi dan intervensi perilaku. Selain itu, kebutuhan cairan setiap individu berbeda-beda, dipengaruhi oleh faktor seperti usia, ukuran tubuh, aktivitas harian, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Gregory E. Tasian dari Children’s Hospital of Philadelphia menekankan bahwa pendekatan pencegahan perlu bergerak menuju strategi yang lebih presisi. Menurutnya, penting untuk memahami kebutuhan spesifik setiap individu, termasuk faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan terhadap target hidrasi, serta mengembangkan intervensi yang lebih efektif baik secara perilaku maupun medis.
Penelitian ini juga membuka peluang bagi pendekatan baru dalam pencegahan batu ginjal, seperti penyesuaian target cairan secara individual, pengembangan strategi untuk mengatasi hambatan dalam rutinitas sehari-hari, serta terapi yang dapat membantu menjaga mineral tetap larut dalam urin sehingga tidak membentuk kristal.
Alana Desai dari Washington University di St. Louis menjelaskan bahwa batu ginjal merupakan kondisi kronis dengan episode nyeri yang tidak terduga dan dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, tidur, dan produktivitas. Banyak pasien mengharapkan metode pencegahan yang sederhana namun efektif untuk mengurangi risiko kekambuhan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi cairan saja tidak cukup untuk mencegah kekambuhan batu ginjal secara efektif. Tantangan dalam mempertahankan kebiasaan hidrasi yang tinggi serta perbedaan kebutuhan individu menjadi faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pencegahan. Pendekatan yang lebih personal dan inovatif diperlukan untuk mengembangkan strategi yang mampu menurunkan risiko kekambuhan secara lebih signifikan.
Diolah dari artikel:
“Why drinking more water didn’t prevent kidney stones” oleh Duke University Medical Center. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260429102034.htm