Berita Perang

Sumber ilustrasi: Freepik
25 Maret 2026 09.37 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Kapan terakhir kalinya anda membaca berita tentang perang, terutama terkait perang yang melibatkan USA-Israel dan Iran, dan tentu negara-negara bersekutu dengan masing-masing pihak tersebut. Sebelum perang yang terakhir ini, sebenarnya ada pula perang yang melibatkan Rusia dan Ukraina. Jika pertanyaan dilanjutkan: apakah anda tergolong, yang ikut menyebarluaskan berita, baik dalam bentuk link, video, atau potongan foto. Berita apa yang anda sebarkan: apakah tentang peralatan (senjata-senjata pembunuh), kejadian penyerangan, korban yang jatuh, atau kota yang luluh lantak akibat bombardier tembakan penghancur?

Apa yang anda rasakan ketika menyebarkan berita tersebut? Apakah anda dalam prihatin? Atau sebaliknya, karena merasa bahwa kejadian perang adalah hal langka: layaknya adegan nyata dari suatu film perang? Apabila anda dalam prihatin, apa yang menjadi keprihatinan anda? Apakah pada korban yang jatuh, kerusakan dan atau keselamatan anda sendiri? Apakah anda merasa bahwa perang kini telah juga mengenai atau berdampak pada hidup kita bersama, meskipun kita tidak terlibat langsung dalam perang tersebut, dan secara geografis berjarak sangat jauh? Atau seperti apa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja dapat diperpanjang deretannya, dan dapat diperdalam substansinya. Apa yang hendak dipersoalkan oleh pertanyaan tersebut adalah (1) bahwa perang tersebut telah berlangsung “lama”, dan belum ada tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat. Ada potensi perang akan memakan periode yang panjang, dan sangat mungkin meluas, baik dari segi geografi, maupun dari segi elemen yang terlibat didalamnya; (2) bahwa perang telah memberikan dampak yang luas, terutama pada sektor energi, keuangan dan perdagangan. Dampak ini bukan saja pada “dompet” negara, tetapi juga pada dompet public; dan (3) bahwa upaya untuk menghentikan perang, terasa kurang kuat, terutama yang disuarakan secara terorganisir dari kekuatan non otoritas.

Apa yang justru makin tampak, setidaknya secara “kasat mata”? Yakni bahwa perang sebagai peristiwa yang berbahaya bagi kehidupan, telah makin menjadi biasa, atau telah sekedar menjadi “berita” (berita perang). Jika benar, mengapa demikian itu? Kita berkepentingan untuk membuat refleksi atasnya. Beberapa kemungkinan bisa saja (telah) terjadi: Satu. Secara maknawi, perang nampaknya telah mengalami reduksi, sehingga telah (sekedar) menjadi informasi yang dikonsumsi, layaknua informasi yang lain. Atau, perang tidak lagi hadir sebagai pengalaman yang mengguncang kesadaran, melainkan sebagai aliran data yang dapat diakses kapan saja. Dalam kondisi ini, perang kehilangan kedalaman ontologisnya sebagai peristiwa yang menuntut keterlibatan, dan berubah menjadi objek pasif dalam konsumsi harian.

Dua. Bahwa “paparan” berita yang berulang-ulang, telah menghasilkan suatu pembiasaan. Berita tentang kekerasan, tidak lagi punya efek psikologis yang menggugah, tetapi menjadi info biasa. Hal yang semestinya memicu keterkejutan dan refleksi moral justru menjadi sesuatu yang lazim. Kekerasan tidak lagi dipersepsi sebagai pelanggaran serius terhadap kemanusiaan, tetapi sebagai bagian dari “normalitas” dunia yang terus berulang. Dengan demikian, terjadi penurunan sensitivitas etis terhadap penderitaan (liyan).

Tiga. Jika ditinjau dari perbandingan antara kapasitas empati manusia dan arus informasi yang datang, maka akan terlihat jelas: bahwa yang pertama sangat terbatas, dan yang lain tidak terbatas. Sebagian dari kita akan mengatakan bahwa ketika individu terus-menerus dihadapkan pada tragedi global, muncul kondisi kelelahan emosional yang membuat respons empatik melemah. Bukan karena hilangnya kemanusiaan, melainkan karena ketidakmampuan untuk memproses intensitas dan frekuensi penderitaan yang disajikan. Apakah hal ini dapat dibenarkan?

Empat. Dalam kondisi ideal, mengetahui penderitaan orang lain mengandung implikasi moral untuk merespons. Ada rasa terpanggil, atau ada tuntutan moral untuk bertindak. Namun, dalam kondisi biasa, hal tersebut tidak terjadi. Kejadian yang menyerang manusia atau kemanusiaan, telah menjadi berita biasa, yang tidak membentuk panggilan moral. Pengetahuan seakan berhenti pada kognitif tanpa berlanjut ke tindakan atau kepedulian nyata. Informasi menjadi terlepas dari kewajiban etis, sehingga kesadaran tidak lagi bertransformasi menjadi tanggung jawab.

Lima. Kini, ruang publik telah benar-benar ada dalam genggaman teknologi informasi yang telah mengalami revolusi, sedemikian sehingga ciri dasarnya adalah kecepatan dan sensasi daripada kedalaman refleksi. Akibatnya, isu-isu kemanusiaan kehilangan tempat sebagai pusat perhatian moral. Diskursus publik menjadi dangkal, terfragmentasi, dan mudah bergeser, sehingga penderitaan manusia tidak lagi menjadi dasar utama dalam pembentukan opini dan sikap kolektif. Apakah demikian ini adanya?

Lima pokok tersebut tentu hanya sebagian dari refleksi yang mungkin. Masing-masing kita dapat membuat refleksi lebih mendalam untuk menjelaskan masalah-masalah mendasar yang diajukan di depan. Sebagai subyek dalam hidup bersama di planet bumi ini, sangat layak bagi kita untuk mempersoalkan mengapa perang harus ada di abad XXI ini? Mengapa perang tidak kunjung selesai, dan jalan damai yang ditempuh? Dan mengapa upaya mencegah dan menghentikan perang tidak berlangsung secara massif, padahal ancaman nyata bagi hidup bersama kita telah datang dan bekerja. [desanomia – 250326 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *